Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

BELAJAR DARI ULAT BULU

Pagi ini 'bertemu' dengan ulat bulu hitam. Berjalan di atas perutnya. Menyeberang. Belum separuh jalan ketika aku berhasil berbelok sebelum melindasnya. Dari arah berlawanan tampak motor dan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam hati aku berdoa semoga si ulat bulu tidak terlindas. Dengan tubuh sekecil itu, apalagi berwarna hitam dan mudah mengenalinya. Tapi aku yakin ulat bulu itu terus berjalan. Dia tak tahu takdir apa yang akan dan mungkin saja menimpanya. Dia hanya tahu harus menyeberang. Yang penting sudah berusaha, hasilnya serahkan pada Allah. Dan disinilah aku merasa tertampar. Terlampau sering, aku merasa begitu pintar. Menerka-nerka skenario Allah akan hidupku ke depan. Padahal tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya esok pagi. 'Kepintaran' yang seringkali justru berakhir dengan stres tingkat tinggi. Ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang ku ciptakan sendiri. Padahal Allah pasti menyiapkan yang terbaik. Karena aku tak tahu, maka mengapa harus m...

BENCANA: SALAH MEREKA (DAN SAYA)

SALAH MEREKA (DAN SAYA) Beberapa bulan belakangan ini Indonesia seperti panen bencana. Mungkin ini maksudnya pemateri Diklatsar Relawan Bsmi Provinsi Bali dulu jika negeri kita adalah 'Supermarket Bencana'. Dari gunung meletus, banjir, puting beliung, kebakaran, semua lengkap dan mungkin terjadi. Yang teranyar adalah gempa semalam. Yang qadarullah tidak saya rasakan karena sudah tidur. Baru tahu pagi hari ketika baca grup wa dan buka FB. Masing-masing orang memiliki cara pandangnya sendiri. BMKG mengatakan ini, ahli A mengatakan AA, si B berpendapat B-, dan komunitas C menyatakan C+. Tidak sedikit postingan berseliweran di timeline saya yang mengaitkan gempa semalam dengan keputusan MK yang mengecewakan banyak pihak dan membuat pihak lain berpesta. Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam adalah kehendak Allah, Rabb Yang Maha Agung. Banyak dalil-dalil yang menyatakan jika gempa berarti ini dan itu. Silakan cari sendiri. Yang menarik,...

KNOWING IS HALF OF THE BATTLE

Knowing is half of the battle. Mendengar ungkapan ini sudah lama sekali, dan cukup sering mendongkrak pede karena merasa tahu atau mau mencari tahu. Tapi ternyata, perjalanan hidup tak sekali menjungkirbalikkan kebanggaan atas 'merasa tahu'. Ya, pengetahuan saja tak cukup. Bahkan walaupun itu sudah setengahnya dari memenangkan pertempuran. Karena setengahnya lagi adalah hal-hal tak terduga yang kita harus lakukan untuk bertahan. Seperti mengakui diri lemah, kemudian untuk menghiba kekuatan pada Yang Maha Kuasa. Menerima kadang keinginan harus bertentangan dengan orang-orang terkasih. Meyakinkan diri bahwa yang dicinta akan baik-baik saja meskipun dunia mengatakan sebaliknya. Di sebalik sesumbar pengetahuan, ada tingginya pemahaman, dan agungnya kesabaran. Pun setelah menyertakan semua, kita masih harus berlelah-lelah dengan baik sangka. Namun semua akan terbayar ketika akhirnya kita benar mengerti bahwa Allah tak akan memberi ujian diluar batas kemampuan hambaNya. Jangan...

Resep

UBI GORENG KRENYES Sejak dua minggu kemarin (pencitraan, sebenarnya sudah sedari dulu) saya ngefans sama kentang goreng yang dijual abang-abang di dekat Kampus UNS yang untuk kesana butuh 15-20 menit dari kontrakan. Juga sempol ayam, bakso bakar, batagor, dan para jajanan lain yang buat suami elus dada dan mendadak pijit-pijit kepala karena cuman bisa bilang "Nggak ada yang lebih sehat apa?" Sore ini, di tengah serangan lapar alhamdullilah masih ada ubi jalar sebiji dan dengan kekuatan Cookpad, jadilah ubi goreng yang agak lebih sehat (karena bikinan sendiri). Ini resepnya: Bahan: Ubi jalar (bisa diganti kentang) Tepung terigu 4 sendok Tepung tapioka (bisa maizena) 2 sendok Garam Merica bubuk (opsional) *Tapi karena yang ada di rumah tepung bumbu instan saya pakenya itu aja, praktis 😀 Cara pembuatan: 1. Sambil didihkan air, kupas dan bersihkan ubi, lalu potong memanjang. 2. Jika air sudah mendidih, rebus ubi selama 2-5 menit (saya 2 menit ajah, biar n...

Kids

KIDS BERKELAS JAMAN NOW Jika masuk hotel yang rada keren dikit, biasanya anak kampuang macam saya ini rodo-rodo keder gimana getoh. Tapi tidak di Solo. Entahlah, kota ini dengan segala sopan santunnya banyak berbicara tentang kesederhanaan pada saya. Wong segimanapun borjuis penampilannya, pasti ngomongnya medok. Dan halus. Buat saya, orang yang masih mau ngomong pake bahasa daerahnya itu membumi. Kecuali kalau isi omongannya sudah di awang-awang tapi kakinya masih napak di parkiran, itu lain cerita. Dan cerita sore kemarin, membuat saya yakin masa depan Indonesia masih cerah. Why? Karena ini menyangkut kids jaman now yang seringkali dikeluhkan oleh orang-orang. Saya dan suami sedang di lobby hotel yang cukup terkenal di kota ini. Yang bikin respek, senyum dan pelayanan mas resepsionisnya tidak berubah sedikitpun meskipun tahu kami datang dengan sepeda motor dan hanya untuk mengambil titipan. Ada dua buah kursi empuk di depan meja resepsionis. As a gentleman, suami menyuruh saya ...

Kerja

"Suamimu nggak apa-apa ta Mbak dirimu kerja neng kene? Gaji ne iku juga seiprit." Pertanyaan Mbak Siti ini masih menari-nari di pikiran bahkan setelah aku menjawab "Nggak apa-apa sih Mbak. Malah dia mikirin kalau saya nggak ada kesibukan. Sudah janji juga dengan ortu di rumah buat nyariin kerjaan." Tapi benarkah 'hanya' itu alasannya? Aku tak pernah benar-benar bertanya. Karena semakin kesini semakin ku belajar bahwa pikiran laki-laki, sungguh berbeda dengan perempuan dan seringkali kompleks. Menyentuh ranah yang tak terpikirkan. Apalagi suamiku tercinta, yang alhamdullilah sosok istimewa, di mataku dan orang lain, pasti memiliki pemikiran yang istimewa pula. Dan aku tak keliru. Karena pagi ini, ketika kami berbincang pagi aku beranikan diri menceritakan pertanyaan itu. Beginilah kurang lebih jawabannya, "Karena klinik itu punya ikhwah. Kita mungkin nggak dapat banyak duit dari sana. Tapi dengan begitu kita bisa bantu menghidupkan klinik sekaligus s...

The Tale

Long time ago, three children of Adam sit together in harmony. But everything change when Fire Nation attacks. Only The Avatar Master of Four Element can save the world. Wait, that's the other tale. Sorry, my bad. But my point is, the harmony that noon was totally ruined when The Queen of 'Fire Nation' speak her thoughts. "Kok kalian berdua mirip sih?" Celetuk Mak Tiri. Menghancurkan keheningan yang tadinya diisi suara ketikan keyboardnya, nada keypad smartphoneku, dan goresan pulpen Mak Tiri. Menggantikannya dengan ketidakpercayaan yang niscaya. "What??" Sontak kami mendongak dari gadget masing-masing. Untung RSM punya dingklik jadi aku nggak jatuh dari tempat duduk yang nyaman, bed pasien. "Iya mirip." Si Mak mesam-mesem nggak jelas. "Mirip dari Hongkong!" Kayaknya kacamata si Mak kurang tebel. Tak dinyana yang pegang laptop komen datar "Jodoh kali Mak.." If looks could kill, he already buried three feet undergroun...

Move On

"Pieq", seorang teman dulu curhat "Bilang sama saya jelek-jeleknya. Biar saya bisa lupain dia." Teman ini hendak menikah, tetapi belum bisa move on dari mantannya. For the record, I don't like the guy. Even he was the best student in his college, I don't like him. Period. Tetapi saya dulu pernah diingatkan, janganlah kebencian terhadap seseorang membuat kita tak berlaku adil padanya. Dan saya percaya, kebaikan hanya akan dicapai dengan cara yang baik pula. Dan mengumbar aib orang lain agar ia dibenci tanpa alasan yang kuat bukan salah satunya. Dear ladies, kalian nggak bakal bisa move on sebelum mau menerima kenyataan bahwa Mr. Perfect bukanlah Mr. Right. I know he is cute and sweet, handsome and care, makes you laugh and give you surprises, belum lagi dia itu mapan, pangan, sangdang, papan penggilesan.. But he is simply not yours! But other's. Buktinya bukan dia yang menjabat tangan walimu ketika ijab kabul. Malah jabat tangan sama wali perempua...

Uang

Akhir tahun 2011, beberapa hari sebelum berangkat ke Bali saya berkeliling ke rumah 'orang tua yang lain'. Sejauh ini masih ada tiga pasang. Alhamdulillah.. Rumah terakhir yang saya kunjungi adalah rumah Inaq dan Amaq di Bendung. Saat akan berpamitan, Inaq menyelipkan beberapa lembar uang saat bersalaman. Sontak saya menolak, tetapi Inaq tak menerima kata tidak. Satu menit selanjutnya diwarnai saling pindahkan uang dari satu tangan ke tangan yang lain. Sampai akhirnya saya yang mengalah. Meringiskan kalimat 'mengapa mesti repot-repot'. Uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain. Sampai di gerbang kembaran saya menjelaskan "Memang seperti itu adatnya disini kalau seorang anak akan pergi jauh. Diterima saja. Sebagai tanda restu orang tua." Hiks.. Hati ini berembun. Banyak dari kita yang tak mau menerima uang pemberian orang tua, keluarga, ataupun orang yang telah merasa dibantu. Dengan alasan sudah ada. Sudah dewasa, sudah bekerja. Mending buat belanja...

The Act Of Love

"Mau buat surat keterangan sehat (SKS) untuk apa Pak?" Saya bertanya pada dua orang Bapak yang masuk Poli Umum. Mereka sepantaran dan mirip. Umur keduanya mungkin sekitar 40an tahun. "Buat SIM A Bu", jawab si Bapak yang berdiri. Selanjutnya saya sebut Bapak A. "Oh nggih, tahu golongan darahnya Pak?" Saya bertanya lagi. "A Bu." Kembali Bapak A menjawab. "A?" Saya pastikan kembali pada Bapak yang duduk di depan meja pemeriksaan. Selanjutnya disebut Bapak B. Yang mau buat SKS siapa yang jawab siapa. "Ia Bu, A. Waktu itu pernah diambil darah pas anak saya sakit." Lalu pemeriksaan berlanjut. Ukur tinggi dan berat badan, cek tensi, hingga akhirnya tes buta warna. "Tes buta warna dulu ya Pak?" Saya meletakkan Ishihara Test di depan Bapak B. Tetiba bapak A yang tadinya diluar ruangan mendadak masuk. "Bu, dia nggak terlalu bisa yang begitu. Kalau nyetir pinter kok Bu." Dalam hati mikir disini bukan buat tes...

Pemimpin

Pernah ketemu sama 'pemimpin'? Apapun itu. Kelas, sekolah, organisasi, desa, daerah, pasukan. Menurut pengalaman pribadi, ada yang khas dari orang-orang ini. Entahlah mungkin itu namanya aura. Biasanya akan terbukti setelah interaksi berlanjut. Ooooh ternyata orang ini.. Jadi bayangin dong herannya hati ini ketika ketemu sosok junior yang katanya pemimpin di 'daerahnya' tetapi nggak punya 'aura' itu? Setelah bertemu sekian kali masih juga belum percaya kalau dia itu beneran pemimpin. Bukan hanya karena ketiadaan 'aura', tapi gesturnya juga. There's something off about it. But I can't pin point it. Akibat kekepoan suatu sore, saya menemukan jawabannya. Ternyata ia sedang mengalami fase sulit. Kedua orang tuanya bercerai dan mengalami masalah lain. Keseriusan dampaknya bisa dilihat dari nilai akademik yang terjun ke titik nadir. Lifeless. That's what I saw in him. Kedua matanya sayu, bicara perlahan, senyum yang tak lepas, bahu yang turun...

Lembo Ade Cpc

Lembo Ade Cpc Kemarin malam jenguk tetangga yang baru diserempet mobil. Pergelangan kaki kanan bengkak. Jika berjalan harus ngesot saking sakitnya. Syafakallah Miq Tuan. Kunjungan itu menarik kembali ingatan ketika kaki kiri saya bengkak. Sprain karena jatuh dari tangga. Yang entah mengapa esok lusa berkembang menjadi kabar 'Fitria patah tulang belakang. Kasian ya?' di kampus tercinta Poltekkes Kemenkes Mataram. Kejadiannya kalau tidak salah akhir semester tiga, beberapa hari menjelang yudisium dan Capping Day. Acara penyematan kap bagi mahasiswa keperawatan. Dalam mengerjakan tugas, ada dua tipe mahasiswa. 1) Menganggap tugas ada untuk diselesaikan dan 2) Menganggap tugas ada untuk dihindari dan akan diselesaikan dengan jurus pamungkas 'the power of kepepet'. Sayangnya saya adalah mahasiswa tipe kedua dimana ketika mahasiswa tipe pertama sudah lenggang kangkung saya baru mondar-mandir dengan kecepatan 4G. Syukurnya Allah Yang Maha Adil itu masih berbaik hati pada ...

Idul Fitri 1438 H

Bahkan ketika kau di hadapanku, aku masih merindukanmu (Winter Sonata) Ini adalah ungkapan yang paling mewakili perasaanku saat ini. Ramadhan belum lagi pergi, tapi aku sudah sangat bersedih. Dan kesedihan itu menemui puncaknya pagi ini. Subuh terakhir di bulan mulia ini. Yaa Rabb, masih begitu sedikit amalku. Masih tak ku isi ia dengan maksimal. Target-target banyak tercecer. Terkendala urusan dunia. Yaa Allah, saksikanlah bahwa di antara urusan dunia itu adalah untuk membantu kedua orang tua hamba. Karena itu terimalah semua amaliah Ramadhan hamba meskipun sedikit. Maafkanlah segala kesalahan hamba dan golongkanlah hamba sebagai orang yang bertakwa. Aamiin. Entah apakah ini Ramadhan terakhir atau bukan. Tetapi tetap hamba sematkan doa semoga bertemu lagi dengan Ramadhan-Ramadhan selanjutnya. Semoga sudah bersama suami dan anak. Aamiin. Semoga bekal Ramadhan ini cukup untuk menghadapi dahsyatnya godaan 11 bulan berikutnya. Dimana setan akan kembali merekrut pengikut. Sementar...

Cerita Untuk Emak

CERITA UNTUK EMAK Suatu pagi di pasar tradisional.. "Adik, ini lho bagus. Namanya celana jins. Makin ganteng kalo Adik pake.." Seorang penjual tampak merayu anak lelaki berumur sekitar empat tahun. Si anak menggeleng. Ibunya menghela napas panjang, sambil membuka kencing celana berkata "Sayang, ayo dicoba. Besok kalo kamu sendiri yang nggak pake baju lebaran sementara semua temenmu pake kan ga enak dilihat.." Si anak masih kekeuh menggeleng. Kedua tangan dibawa ke belakang punggung. Matanya tampak melirik kesana kemari. Kakinya sudah mundur-mundur. Kalau saya yang jadi si ibu, sudah banjir ciuman si anak. Mungkin ditambah satu dua tetes air mata bahagia. Terus pulangnya nulis status menggelitik-inspiratif ala Mak Tiri Rini Renjiro Trisnowati. Bersyukur anak saya anti mainstream. Dalam hal baik, insya Allah. Tetapi, saya belum jadi seorang ibu. Maka saya akan menuliskan dari sudut pandang seorang anak. Dear Emak.. Sejak awal saya adalah manusia berbeda. Sema...

Tips Ketika Balita Pup di Tempat Umum

Judulnya agak sotoy, mengingat yang nulis belum menikah apalah lagi punya Balita. Sudah sok-sokan memberi tips. Tetapi saya hanya ingin berbagi pengalaman pagi ini. Sudah lebih seminggu adik dari Ibuq datang ke rumah. Biasanya menjelang Ramadhan beliau bekerja membuat aneka kue Lebaran. Dan tahun ini pun tak alpa. Beliau membawa serta kedua anak laki-lakinya. Sedari si paling besar baru lahir  (sekarang umurnya 9 tahun) saya selalu kebagian menjadi banyak sitter. Demikian juga dengan anak kedua yang sekarang berumur 2,5 tahun. Keduanya tetap lengket alhamdulillah. Beda anak beda pintar. Juga beda perangai. Jika Si Kakak dibawa kemana-mana selalu anteng dan tak pernah ada masalah, tidak demikian dengan si Adik. Dia lebih rewel dan jika sudah mau sesuatu susah sekali menghentikan tangisnya. Pelajaran dari anak pertama membuat bibi saya tak mau memakaikan diaper pada si Adik kecuali pada situasi-situasi tertentu. Dia memang sudah bisa memberitahu jika akan pipis atau pup. Tapi tid...

Magang

"Jadi sekali lagi saya tegaskan, apa kamu sanggup bekerja disini tanpa menerima gaji? Dan sanggup di kemudian hari tidak menuntut itu apalagi diangkat menjadi PNS?" Jika ditanya seminggu yang lalu, aku masih akan ragu menjawab. Antara bilang yang sebenarnya atau apa yang ingin mereka dengar. Jujur aku sangat bimbang menerima posisi magang ini, karena tahu benar tanpa gaji. Sedangkan di Namira yang bergaji pun aku masih ngos-ngosan. Akhir bulan tetap minta di ibu. Belum lagi jika ditambah fakta aku ragu diterima murni atau karena ada apanya. Ibuq dan Mamiq begitu gembira mendengar kabar ini. Setidaknya anaknya bekerja setiap hari dan tempatnya tidak terlalu jauh. Belum lagi jika dihitung ada peluang untuk menjadi PNS. Masalah gaji nomer sekian. Tetapi alasan paling kuat adalah karena mendengar nasihat dari Mas Ippho Santosa. "Jika anda bekerja dengan ketekunan orang yang pantas digaji 10 juta tetapi hanya mendapatkan 2 juta dari tempat anda bekerja, maka percayalah. A...

Evaluasi Ramadhan H1

H1 +Memperbanyak istigfar +Membantu Munying yang nggak bisa turun dari atap +Membonceng Kak Nyeng pulang kerja -Kebanyakan tidur, apalagi setelah sahur -Telat masuk kerja -Kebanyakan pegang hape Ramadhan hari pertama berlalu. Sayangnya aku masih belum bisa sepenuhnya produktif. Schedule yang sudah disusun hanya bisa dikerjakan sepertiganya. Aku masih terlalu banyak tidur. Dengan alasan tidak sahur dan tidak bisa melakukan ibadah lain. Padahal Ibuq dan Naq Janah yang puasa mengerjakan begitu banyak hal. Bersih-bersih. Menyiapkan alat dan bahan jajan. Mencuci baju. Dimana nuraniku? Well, mungkin ini salah satu dasar mengapa Allah belum percaya padaku untuk menjadi seorang istri. Aku belum bisa mengalahkan nafsuku yang begitu besar. Padahal aku hafal jika Rasulullah mendoakan keberkahan di pagi hari bagi umatnya. Dan membenci mereka yang tidur kembali setelah subuh. Tak masalah jika syuruq sudah tiba. Ah, sampai kapan harus begini? Bukankah sudah semangat bilang ke adik-adik un...

Dia

Sahur 1 Ramadhan 1438 H Ada yang hilang. Aku memang bangun berkali-kali, mendengar suara tadarrus dan menanti waktu ini. Memasak. Tetapi sekarang aku duduk diam di dalam kamar. Aku tak bisa ikut berpuasa hari pertama ini. Women and their period 😢 Aku tak terlalu sedih, tetapi tak memungkiri jika seperti ada ruang kosong. Namun insya Allah tak mengurangi kegembiraanku sambut Ramadhan. Alhamdulillah, kemarin siang buku 'Ramadhan Produktif Untuk Penulis Kreatif' sampai di tanganku. Kasihan masnya. Dia sudah menelepon untuk konfirmasi akan mengantarkannya ke rumah. Qadarullah, sepulang kerja hapeku lowbat lalu ku matikan dan dicharging. Walhasil, masnya menelepon berkali-kali dan nyasar. Untung orangnya baik. Ia tetap tersenyum dan melanjutkan mengantar paket berikutnya ke Jenggik dan sekitarnya. Barakallahu fiik Mas. "Cuman ini aja? Mahal banget?" Komentar Naq Janah. Ya, memang jika dilihat lembarannya saja tak mencapai 100. Malah kebanyakan isinya koson...

Lombok

Ramai lagi tentang 'penghinaan'. Status yang tadinya dimaksudkan untuk satu tokoh menjadi heboh karena ujung-ujungnya memaparkan banyak kejelekan 'orang Lombok'. Mengapa saya memberikan tanda '...'  pada beberapa kata diatas? Karena 1) Jujur. Saya merasa itu tak sepenuhnya penghinaan karena apa ditulis orang tersebut ada benarnya. Banyak dari 'orang Lombok' yang pemalas dan merasa paling benar. Termasuk saya. 2) Tetapi perlu diingat: sebutan 'orang Lombok'  menjadi tak relevan karena dianggap menghina semua orang Lombok tanpa terkecuali. Padahal mungkin saja si penulis hanya pernah bertemu saya atau beberapa teman saya yang sayangnya memiliki sifat-sifat jelek yang telah disebutkannya dalam status itu. Saya dan teman-teman saya yang jelek itu, mungkin hanya 10% atau kurang dari populasi orang Lombok. Namun karena perilaku jelek kami, nama orang Lombok keseluruhan menjadi tercoreng. Silakan marah, silakan yang mau menuntut. Tetapi tolong jang...

Dupa 07/08: Antara Pencitraan dan Kenyataan

Kering kerontang, tidak rapi, dan kurang bersih. Ketiganya adalah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di SMA 1 Terara pada awal semester 2 tahun ajaran 2005/2006. Maklum sindrom mendadak kota. Padahal sebelumnya SMP di tetangga sebelah. Tetapi saya memutuskan bersekolah di SMA 1 Narmada dengan alasan 'ingin suasana baru'. Tetapi takdir berkata lain. SMA yang dihindari justru menarik kembali. Tetapi karena terbiasa melihat SMA 1 Narmada yang begitu asri, bersih, dan rapi (sekolah ini masuk 5 besar sekolah terbersih di Indonesia). Jadi wajar jika saya mengalami cultural shock melihat kondisi SMA 1 Terara yang saya sebut di awal. Namun benarlah pepatah Jawa itu, waiting tresna jalan saka kulina. Cinta datang karena terbiasa. Sekolah yang tadinya saya cela berubah menjadi yang tercinta. Well, meskipun penampakannya tak banyak berubah itu tak lagi menjadi masalah. Karena isi di dalamnya itulah yang membuat indah. Di sekolah ini, saya mendapat guru-guru hebat, ilmu yang berm...

Kecelakaan

"Ciiiiiit... Brakkk!!!" Terdengar suara rem ditarik kemudian disusul tabrakan dari depan rumah Kak Hus. Kami yang sedang menunggu di ruang depan sontak berlari melihatnya. Tampak dua orang remaja putri menabrak bagian depan mobil Uni Mira. Keduanya terjatuh ke samping kiri. Untungnya tak ada luka serius ataupun kerusakan parah di motor mereka. Hanya tampak gorengan sepanjang kurang lebih 2x10 meter di bemper bawah mobil. Uni Mira tak mengatakan apapun selain menanyakan keadaan mereka. Justru yang lebih ribut adalah kami dan para  tetangga yang menyaksikan. Petuah harus begini begitu dan kesaksian bagaimana kejadiannya. Dua remaja tanggung itu mampu mengangkat motor matic mereka tanpa dibantu. Alih-alih meminta maaf, mereka tak membuang waktu untuk melesat meninggalkan tempat kejadian. Orang-orang hanya menggelengkan kepala. Anak jaman sekarang. Di dalam rumah kehebohan berlanjut. "Eee nggak lihat orang mau belok itu.. " "Keaslian ngobrol kali.." ...

Jodoh Semut

Suatu hari pernah bilang sama Puji "Semut aja Allah kasi jodohnya Ji. Masak kita nggak?" Dan sukses mengembalikan moodnya yang jatuh karena tak kunjung bertemu jodoh. Binatang secara kasta lebih rendah dari manusia. Namun benarkah demikian? Nyatanya setelah mati binatang akan tetap menjadi tanah. Tak akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya. Ketika merasa dosa sudah sampai langit, kadang aku merasa iri binatang. Tetapi ketika mengharap ampunanNya, aku bersyukur walaupun akan menghadapi hari yang berat di akhirat. Insya Allah kami akan menuju surga dengan rahmatNya. Malam ini, kembali terbersit perasaan serupa. Ketika melihat seorang peserta tuna netral di sebuah acara televisi. Fisik tak sempurna dan wajah jauh dari lumayan. Tetapi istri dan keempat anaknya begitu mencintainya. 'Jika ia saja Allah berikan jodoh, masak aku nggak?' Hanya sekelebat setelah pertanyaan itu terlintas aku menariknya kembali. Sombong jika aku mengataka...

Uang Logam

Belanja di toko gede cuman beli minuman kopi. "Pak, saya boleh bayar pakai uang logam kan?" "Oh ya silakan, bagus malah." Lalu saya jejerin di depan kasir uang logam seribu dua biji dan tujuh uang logam lima ratusan. Mas-mas di samping dan belakang saya senyam-senyum. Biasa aja Mas, saya memang semempesona itu. Hoek! Mas-masnya mendadak hiperemesis. Jujur, saya masih nggak ngerti kenapa mesti disenyumin kalo belanja pake receh apalagi di toko gede. Padahal mereka butuh buat kembalian. Daripada ngasi permen terus pembeli nggak ikhlas? Tapi memang uang receh memiliki kasta rendah di dunia peruangan. Apalagi jika disandingkan dengan yang merah-merah. Pernah menemukan kenyataan menyakitkan tentang recehan 200 perak. Ceritanya mau beli coklat di warung sebelah rumah. Udah semangat ngumpulin recehan di dompet (gaya, padahal tinggal itu doang isinya). Ternyata pas bayar adiknya dengan senyum penuh makna berkata, "Maaf Kak Pit, disini recehan 200 udah nggak b...

Terlambat

Salah satu masa tergelap dalam hidup saya adalah bulan-bulan menanti kepastian pelaksanaan profesi Ners. Tanggal tak kunjung jua ditentukan, sementara orang tua selalu menanyakan. Seumur-umur belum pernah namanya studi molor dari jadwalan. Untunglah ada pekerjaan dan komunitas BSMI Bali disana. Jika tidak maka entahlah apa yang akan terjadi. Tapi tetap, suatu kesempatan berani bilang gini: Yaa Allah, dosaku banyak banget ya sampe dihukum begini? Dan mendadak petir menyambar, halilintar menggelegar. Jujur, masih ada rasa nyeri jika ingat kala itu. Meskipun bukan sepenuhnya salah mahasiswa. Tetapi inilah derita pribadi introvert. Selalu menyalahkan diri sendiri. Nyeri itu bertahan sampai beberapa lama. Butuh sesuatu apa gitu untuk bisa move on. Dan closure itu datang pagi ini. Lewat materi yang disampaikan dr. Kurnia Akmal, Kabid P3KL Dikes Lombok Timur. "Saya masuk kuliah 1998 dan selesai sembilan tahun kemudian. Bukan termasuk waktu yang pendek. Dalam waktu itu saya merasak...

Bola

"Waaaah, bagus yaa kakinya Papi ada bolanya?" "Huh?" "Iya itu coba liat. Cuman Papi loh yang punya, yang lain mana ada. Yaya aja nggak punya." "Huh? Alaq bal (ada bola). Badus ne nae tu (Bagusnya kakiku)" The truth is, kaki kanan Dafi bergelembung. Menginjak bara api ketika bermain di halaman. Sekarang juga grade 2, tetapi nggak terlalu luas dan merah. Dia juga nggak nangis lama. Hanya kalo ngeliat masih kayak nggak rela gitu. Ples kalo jalan masih nggak berani. Jadilah fokus tindakan semalam adalah agar ia berani berjalan sendiri. Masih ngeluh dan takut karena jika menginjakkan kaki tiba-tiba, terasa sakit. Akhirnya Allah gerakkan lisan ini untuk menyebut kalimat itu. Ada bola di kakinya. Anak batita mah senang-senang saja dikatakan spesial memiliki bola yang nempel di kaki. Tak lama bahkan dia sudah berani berjalan (meskipun saat mulai melangkah masih mengeluh). Lalu kemudian 'membanggakan' bolanya pada Mamiq. Yang kemudian dibal...

Opportunist: a case of comparison

The opportunists. Adalah kata yang pertama kali terlintas ketika melihat sepasang suami istri yang berjualan Nasi Puyung di Kawasan Pusuk Sembalun. Nasi Puyung yang pedas dimakan di udara dingin Pusuk adalah perpaduan yang sangat ciamik. Ditambah rasa lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh akan membuat nasi hangat terasa lebih nikmat. Belum lagi jika dihitung tak ada saingan lain yang mumpuni. Kuliner yang banyak adalah cilok. Makanan berat yang lain adalah mie instan dan kalau pun ada nasi sudah dibungkus beberapa jam sebelumnya. Harga juga tak berbeda dari outlet Nasi Puyung di tempat lain. 10K untuk yang biasa dan 15K untuk yang komplit. Lumayan murah untuk ukuran tempat wisata. Oh ya, satu lagi: porsinya lumayan besar dengan tambahan lauk ayam suwir. Jadi tak heran ketika akan memesan saya harus mengantri karena mereka sibuk melayani pembeli yang lain. Padahal jam makan siang masih satu jam lagi. Sang istri yang menyiapkan nasi dan lauk sedangkan suaminya yang menyajik...

Dear Ahokers

Dear para Ahokers, jika kalian begitu mencintainya, maka demikian pula kami mencintai Islam dan utama-ulama kami, bahkan mungkin lebih. Jika kalian mengirimkan bunga dan balon, menyalakan lilin, bernyanyi bersama maka seperti itulah kami berkumpul bersama dalam kebersamaan. Bedanya kami melakukannya dengan zikir, sholat berjamaah, dan mendengarkan tausiyah dari ulama-ulama kami. Jika kalian sekarang merasa tak terima dan menganggap hukum tak adil, maka seperti itulah yang kami rasakan. Tak terima mengapa kitab suci kami dikatakan menjadi alat kebohongan bagi ulama kami juga hukum yang seperti tak berjalan semestinya. Jika dari hari Rabu sampai entah kapan kalian menggelar aksi dukungan, maka persis seperti itulah tujuan 411, 212, 313, dan 505 maksudkan. Memberikan dukungan pada apa yang kami cintai. Maka, tak bisakah kita sebagai insan yang sama-sama sedang jatuh cinta saling toleransi untuk menikmati euforia jatuh cinta itu? Kalian dengan cinta itu, dan kami dengan cinta ini. Toh...

Ramadhan dan Menulis

Ramadhan bulan yang dinanti. Dengan segala keistimewaannya. Pahala datang berlipat ganda. Ramai umat beriman memacu diri. Apa target Ramadhan tahun ini? Selain amal yaumiyah, tentu ada hal lain lagi. Seperti beberapa waktu ini. Menjadi pengangguran, sungguh bukan impian semua orang. Apalagi ketika kedua orang tua yang sudah berumur masih sibuk bekerja setiap hari. A failure. That's what I saw in myself. Saw, yes. Karena alhamdulillah Allah telah keluarkan aku dari rasa tak syukur itu. Sesungguhnya, rezeki Allah amat luas. Tak hanya berupa uang dan sarana mendapatkannya. Ternyata di rumah juga rezeki. Karenanya memiliki banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang tak sempat dikerjakan. Salah satunya adalah menulis. Tak jarang aku menghabiskan waktu membuat status yang panjang-panjang. Cerpen, kata salah seorang teman. Sempat tersinggung, tapi bagaimana lagi? It's who I am. Bahasannya pun hal remeh temen. Aku tak punya banyak ilmu untuk menggarap hal yang berat-berat. Ber...

Merekam Ramadhan

M"Jadi gimana target Ramadhan tahun ini? Jangan kayak tahun kemarin ya. Udah bikin-bikin tapi pas terakhir nggak ada kabar.." Adalah status pesbuk saya beberapa minggu lalu. Sudah menjadi rutinitas tahunan dengan beberapa teman untuk menetapkan target Ramadhan. Sebagai pewujudan dari ayat 'berlomba-lombalah dalam kebaikan'. Target, maknanya adalah sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai (KBBI, 2017). Dengan memberi batas, maka ada garis yang tak boleh dilewati. Sama halnya dengan ketentuan, mencakup beberapa hal yang harus dilakukan atau sebaliknya, harus dihindari. Dalam Islam, kita dibiasakan untuk melakukan segala sesuatu sesuai aturan. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi agar apapun yang kita lakukan bisa dinilai sebagai ibadah. Jadi, membuat target pun semestinya harus yang jelas dan teliti. Agar lebih mudah pengaplikasiannya dan tak menyisakan kebingungan nantinya. Meminjam istilah keperawatan, ada akronim SMART...

Para Emak

Since junior high school, I have proudly believed that I got three more pairs as my parents. Kali ini bicara soal para emak. Inaq Tuan, belajar soal strategi dagang. Keceplas-ceplosan namun membuat kita mikir. Apa yang kita lihat tak sesederhana kenyataannya. Inaq Mbung Raja. Lots and lots of love and forgiving. Cinta itu harus ditunjukkan. Dengan cara memberi hadiah. Rajin ngirimin makanan. Tak pernah lepas doa. Kekurangan atau kelebihan itu diterima dengan sama syukurnya. Inaq Bendung. She's the epitome of phlegmatis. Nerimo. Merendah. Anything that remind you of a very understanding mother. I never hear her complain about people's flaw but herself.

Nama

Ketika menyebut satu nama semudah membalikkan telapak tangan, maka kau tahu bahwa semuanya telah baik. Mungkin tak semuanya, tapi setidaknya dalam hatimu. Karena kau telah akui, memikirkan nama itu pun kau tak mau. Lidahmu telah kelu sebelum kau mampu mengucapkannya. Dengan bibir bergetar. Nyeri di dada memutuskan untuk terlihat di oleh dunia lewat matamu yang berkaca-kaca. Bersama waktu, nyeri itu kian menumpul. Sampai hampir tak terasa. Tapi ia ada. Menunggu kesempatan untuk meradang kembali. Sampai kau menutup kesempatan itu dengan penerimaan. Bertahan menyimpan bara hanya akan menyisakan terbakar sebagai pilihan terakhir. Maka Rabbmu mengirim waktu yang berbaik hati memadamkan bara itu. Membuatmu tak memiliki pilihan selain tanpa sadar melarung semua abu yang tersisa. Meskipun itu berarti tak ada lagi yang tersisa. Dan kau harus kembali memulai segalanya. Menerima. Semudah itu. Tapi benar-benar tak mudah.

Announcement

"Terimakasih Sus.." Kata pasien yang baru selesai diukur tekanan darahnya. Saya hanya membalas dengan senyum. Lalu berpamitan. Setelah berbalik mata ini tertumbuk pada sosok bayi perempuan yang begitu menggerakkan. Usianya tak lebih dari enam bulan. "Wah, lucunya" sapa saya sambil menjentikkan jari. Dia tertawa riang. Langit-langit mulutnya sampai terlihat. Lalu mencoba melonjak-lonjak dengan kaki mungilnya. Tampak raut bangga sang ibu yang memegangnya. "Tapi jangan lama-lama yaa jenguk ya, kasian dedek nanti", ujar saya setengah tertawa. Tawa si dedek menular euy! "Baru juga sampe! " nada yang ketus itu sempurna menghapus tawa di wajah saya. Memaksa saya menghadapi pemilik kalimat. Bapak muda di samping kiri si bayi yang duduk selonjoran. Wajahnya acuh, seperti kalimat sebelumnya itu tak datang darinya. Tapi saya tak diam dan berkata "Bapak, mohon maaf. Tetapi diluar juga sudah ditempel pengumuman kalo anak kecil dibawah usia 12 tahun ...

Dalam Kenangan

Kamu biasa denganku Kamu biasa ada aku Namun hidup jangan berhenti hanya bola aku pergi Setelah filmnya dingin di bioskop, aku baru tahu kalau soundtracknya dinyanyikan Krisdayanti dan inilah lirik lengkapnya. Aku belum bisa memposisikan diri sebagai yang bernyanyi. I don't believe that I'm that important to anyone except my family. Namun sebagai yang dinyanyikan,  maybe I can relate. But as I sadly believe, no ordinary person who cannot be replaced. Sometimes by a better person. Aku mungkin belum menemukan tempat dan orang-orang sebaik Bali disini. Tapi aku telah terbiasa menjalaninya. Still baper here and there, but I can manage. Allahummarzuqna rizqon halallan toyyiban wa mubarokan. Rabbi anzilni munzalammubarokan wa antara khoirul munzilin. Ah, bahkan doa indah itu ku dapat disana. Hadiah indah dari anak-anak Mandala. Doa yang tak abai ku panjatkan tiap waktu shalat. Lebih sering lagi ku dengungkan tiap bekerja dan akan melamar pekerjaan. Sejauh ini, aku tak pernah...

Daun Yang Jatuh Tak Akan Membenci Angin

Akhirnya berkesempatan juga membacanya. Meski hanya dari format pdf. Khas Tere_Liye. Berhasil membuatku menitikkan air mata. Walaupun tak sampai tergugu. Dan aku mengerti. Mengapa ia mencintai novel ini. Potongan teka teki itulah telah sempurna. Aku menduganya sejak dulu. Jika ingin jujur dan mengesahkan diri sebagai seorang yang sombong, maka akan ku katakan jika firasatku seringkali benar. Cinta yang tak terkatakan lebih menyakitkan daripada cinta yang tertolak, katanya. Dan bukan hanya katanya, kenyataan juga membuktikan demikian. Ibuq malah telah bertahun lalu mengatakan, perempuan bagaimanapun besar cintanya akan bisa lulus dengan kebaikan lelaki. Tetapi lelaki, dengan segala pembawaannya bisa menipu. Jika cinta ia akan memuliakan, jika tidak ia bisa meninggalkan. Ini berlaku untuk lelaki kebanyakan. Jauh-jauh hari Ibuq mengingatkan pilihan itu. Pilihlah ia yang mencintaimu. Insya Allah I will, one day. Lalu apa kabar dengan hatiku? Tokoh siapa yang akan mampu mewakiliku? Den...