Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2019

I CAN, BUT I WON'T

Apakah , laki-laki itu sebenarnya lebih peka dari perempuan? Pertanyaan ini mengambil sebagian besar ruang pikir saya. Setelah kejadian di dalam Kereta Solo Ekspress pagi ini. Kami dalam perjalanan ke Jogja. Naik dari Stasiun Balapan, masih banyak kursi kosong. Tapi suami mengingatkan, nanti mesti yang punya kursi datang. Ah, kemudahan membeli tiket dengan aplikasi online. Jadi ya saya hanya duduk sebentar, menjelang Stasiun Purwosari saya berdiri. Kan nggak enak kalo yang punya kursi datang. Tapi entah mengapa saya duduk lagi. Oh ya, saya cek hape. Dan benar, tak lama sesembak yang manis datang dan berkata lembut "Permisi Mbak.." sambil melirik nomor kursi di atasnya. Saya spontan berdiri. Kereta sudah penuh dan pintu ditutup. Seorang bapak yang tampak membawa dua buah ransel ketinggalan. Kasihan. Alhamdulillah, tak lama kereta berhenti. Seorang balita menangis. Rupanya bapak yang ketinggalan tadi ayahnya. Sang ayah pun tergopoh-gopoh naik dan berjalan menuju anak istri...

NGAMBEK ATAU NGGAK?

"Setelah menikah sama kamu, aku bersyukuuuur sekali dilahirkan jadi laki-laki." Kata suami di satu sore. "Oh ya, kenapa?" "Karena mood perempuan itu..." Suami bergidik. "Complicated. Dan cepat sekali berubah." Lanjutnya. Saya hanya tertawa lalu menjawab. "Iya alhamdulillah kalo gitu. Abah yang cuman ngeliat aja capek kan, apalagi kami yang menjalani?" #beladirimodeon "Tapi jangan khawatir Bah. Karena mood perempuan itu naik turun, apa yang dia katakan dan rasakan pagi ini belum tentu sama dengan nanti sore." "Iya juga sih.." Suami sudah lega. "Tapi bisa jadi lebih parah!" Dan suami pun mendengus. Sebenarnya, saya juga merasakan jika setelah menikah rentang emosi saya jadi jauh lebih luas dari sebelumnya. Hal-hal kecil bukan saja bisa menimbulkan kekesalan yang nampaknya abadi. Tetapi juga bahagia yang tiada terperi. Namun tentu saja yang menjadi masalah adalah kesal ini. Yang diberi istilah keren ...

APA YANG SALAH?

Tapi"Apa yang salah?" Adalah pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya ketika melihat kenakalan anak atau remaja. Jauh sebelum kasus Audrey. Guru-guru yang saya kenal pun rata-rata mengeluh. Anak-anak sekarang itu cerdas-cerdas. Tak sedikit yang jauh lebih cerdas dari gurunya. Tapi adab? Banyak yang nol besar. Jiwa berjuangnya kurang. Sehingga ada halangan sedikit, bukannya berusaha mereka langsung menyerah. Jika melihat anak atau remaja sekarang, berarti lahir tahun 2003-an ke atas. Orangtuanya mungkin lahir pertengahan akhir 70-an sampai 80-an. Generasi itu jauh dibawah generasi 90-an yang sering sekali membanggakan masa kecilnya. Apa karakteristiknya? Bagaimana perlakuan orangtuanya dulu? Apa yang salah sehingga ketika menjadi orang tua, anak-anak mereka (nauzubillah) menjadi generasi yang banyak dikeluhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya. Insya Allah bukan karena sok tahu apalagi sombong. Saya bertanya agar bisa menghindari kesalahan yang sama. Karena...

SAY LOVE

'Jangan biarkan orang-orang tersayang pergi tanpa mereka tahu betapa Anda menyayanginya, karena kita tidak pernah tahu, bisa saja itu perpisahan terakhir.' Kalimat senada santer di beberapa postingan saat terjadi kecelakaan pesawat beberapa waktu kemarin. Saya pun terhenyak. Namun seiring waktu ia berlalu begitu saja. Tapi pagi kemarin, lutut sampai terduduk lemas. Ketika membaca berita meninggalnya suami seorang sahabat ketika sedang tidur. Tanpa sakit atau apa. Seandainya sahabat saya bangun lebih awal, maka ia akan bisa melakukan sesuatu. Tetapi benarkah demikian? Wallahu'alam. Allah mentakdirkan ia terbangun dengan maksud menyelesaikan satu urusan. Karena begitulah ajal, tak bisa maju atau mundur barang sedetik saja. Allah, saya membaca berita itu berkali-kali untuk percaya. Begitu mudahnya Allah mengambil miliknya. Dan menegaskan status kita yang hanya peminjam. Bukan hanya kaget, ini juga tamparan keras buat saya. Karena belakangan ini begitu sering berlaku tak b...

Failed

FAILED Baru hari pertama sudah gagal. Penantang macam apa itu? Ini draft tanggal 2 April. Dan akhirnya baru bisa eksekusi hari ini, 5 April. Jika ditanya, apa penyebab kegagalannya? Padahal kemarin begitu bersemangat mengikuti even 30 Day Journal ini. Sekali lagi, apa? Baiklah, coba kita runut. Yang pertama, malas buka medsos. Lalu tak punya cukup waktu untuk menulis. Yang kemudian memunculkan problem berikutnya, tak punya tulisan yang layak posting. Begitu seterusnya sampai hari ini. Tapi beruntungnya tadi pagi sekilas menonton video singkat Asma Nadia. Yang begitu bersangka baik pada penulis-penulis pemula. Menyemangati mereka bahwa tulisan yang 'layak' juga awalnya adalah sebuah draft yang banyak coretan disana sini. Ya, mengapa harus menunggu layak untuk berani memulai? Jika semua sudah (harus) layak, maka itu bukan memulai. Tapi meneruskan. Bayi yang baru belajar berjalan pun butuh waktu. Mulai belajar duduk untuk melatih tungkai bawah. Belajar merangkak untuk ke...

SEPERTI IBU

Katanya, seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tempat belajar segala sesuatu. Tempat mengenal hal-hal baru. Juga tempat mengadu sendu. Maka katanya, seorang ibu harusnya pintar segala. Cerdas memilih kata. Pandai menjawab tanya. Cakap mengelola rasa. Berat nian tugasnya, namun tak ada sekolah Bunda. Apalagi sampai berjenjang sarjana. Dengan luka persalinan masih terasa, ia tertatih belajar segala. Mengurus bayi nyaris tanpa jeda. Maka sadar tak sadar, suka tak suka. Ia akan meniru sekolah pertamanya, sang ibunda. Seperti malam di minggu lalu, ketika mati lampu. Bayi 9 bulan kepo melulu, meraih lilin tanpa ragu. Ibu pun ingat cerita dulu. Ia pun sama dibujuk tak mau. Akhirnya dibiarkan meraih lampu, untuk kemudian menangis tersedu. Tapi ibu punya cara berbeda. Diraihnya tangan mungil segera. Didekatkan pada lilin yang menyala. Tak sampai ke apinya, namun cukup hingga panas terasa. Kekepoan terakomodir, bahaya terminimalisir. Alhamdulillah bayi tak pandir, dinikmat...