Apakah, laki-laki itu sebenarnya lebih peka dari perempuan?
Pertanyaan ini mengambil sebagian besar ruang pikir saya. Setelah kejadian di dalam Kereta Solo Ekspress pagi ini.
Kami dalam perjalanan ke Jogja. Naik dari Stasiun Balapan, masih banyak kursi kosong. Tapi suami mengingatkan, nanti mesti yang punya kursi datang. Ah, kemudahan membeli tiket dengan aplikasi online.
Jadi ya saya hanya duduk sebentar, menjelang Stasiun Purwosari saya berdiri. Kan nggak enak kalo yang punya kursi datang. Tapi entah mengapa saya duduk lagi. Oh ya, saya cek hape.
Dan benar, tak lama sesembak yang manis datang dan berkata lembut "Permisi Mbak.." sambil melirik nomor kursi di atasnya. Saya spontan berdiri. Kereta sudah penuh dan pintu ditutup. Seorang bapak yang tampak membawa dua buah ransel ketinggalan. Kasihan.
Alhamdulillah, tak lama kereta berhenti. Seorang balita menangis. Rupanya bapak yang ketinggalan tadi ayahnya. Sang ayah pun tergopoh-gopoh naik dan berjalan menuju anak istrinya. Sepertinya mereka juga tak dapat kursi.
Bukan sesuatu yang aneh. Tapi membuat saya menyadari satu hal. Hal yang membuat pertanyaan di kalimat pertama muncul.
Saat saya masih duduk, ada sesembak juga di sebelah saya. Namun ia fokus kepada hapenya. Jadi mungkin hanya tahu penumpang sebelahnya berganti orang. Sesembak yang kursinya saya duduki, semenjak duduk juga begitu. Tak lepas dari hape. Bahkan setelah saya duduk nggelongsor di hadapannya sambil menyusui Fayyadh.
Kursi yang mereka duduki itu 'CAN BE EXCHANGED', untuk empat golongan penumpang. Ibu hamil, membawa bayi, lansia, dan penyandang disabilitas. I can exchange that seat, but I won't.
Entahlah, saya malu meminta-minta. Mungkin juga karena masih berharap petugas tiket nanti yang mengarahkan. Harapan yang juga sia-sia. Karena setelah mengecek e-tiket si mbaknya beliau juga mengecek tiket saya dan suami, menyaksikan saya duduk di lantai sambil membawa bayi, namun berlalu begitu saja setelah pengecekan tiket selesai.
Saya kecewa? Alhamdulillah tidak.
Karena memang bukan hak saya seutuhnya duduk di kursi. Meskipun jika mau, bisa saja meminta. Tapi di lantai pun sudah cukup. Bersyukur sekali lantainya bersih dan guncangan kereta tidak keras.
Karena duduk di bawah ini pula saya bisa merenung. Mungkin, bukan empati kita yang kurang. Tapi kita terlalu larut dengan hal yang sepertinya sangat penting sehingga mengabaikan hal-hal di sekitar kita. Padahal kalau mau jujur, tidak mengecek hape sepanjang perjalanan juga tidak akan rugi-rugi amat. Bahkan kita bisa berbuat baik, untuk diri sendiri dan orang lain.
Seperti perjalanan saya di kereta sebulan yang lalu. Sudah dapat tempat duduk, tapi saya berdiri di dekat pintu karena Fayyadh rewel. Hampir 5 menit berdiri disana, seorang laki-laki yang paling berantakan dan slenge'an penampilannya di gerbong itu membuka mata dan melepaskan headsetnya. Lalu seketika berdiri menawarkan kursinya ketika melihat. Saya hanya tersenyum dan menunjuk ke kursi saya di sebelah. Ia lalu mengangguk dan kembali duduk.
Lalu dengan ini apakah pertanyaan pertama saya terjawab? Entahlah. Masih ada petugas kereta tadi.
Saya tak mau berharap lebih kepada siapapun, apalagi berani menilai isi hati orang lain. Hanya izinkan saya merasa miris. Karena ibu paruh baya di depan saya juga duduk di lantai sedangkan mbak-mbak yang masih segar duduk di kursi.
Saya hanya berharap, esok lusa ketika mbak-mbak itu punya anak atau sudah paruh baya, mbak-mbak yang mereka temui di kereta akan legowo memberikan tempat duduknya tanpa diminta. Atau petugas kereta akan lebih sensitif pada aturan.
Atas nama empati, hati nurani, dan akal sehat.
Comments
Post a Comment