Haha .. Tenang, ini bukan review sinetron Ind**iar. Meskipun judulnya bak copy paste 😅 Adalah kemarin siang, pemahaman saya sedikit bertambah akan ayat 'Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.' Tanggal 30 Agustus 2018 adalah jadwal kepulangan ayahanda kami dari Tanah Haram. Seperti layaknya keluarga di Pulau Lombok, beramai-ramailah kami menjemputnya ke asrama haji. Tak terkecuali saya. Well, sebenarnya saya diminta ikut dengan dalih 'Kakeknya pasti senang lihat Fayyadh.' Jika boleh memilih, saya tentu lebih sreg di rumah. Bukannya apa-apa. Fayyadh jika sudah menangis biasanya butuh waktu agak lama untuk tenang (iya, rewel maksudnya 😬). Sementara disana pasti panas, banyak orang, ribut pinggir jalan, dan seabreg alasan lain yang berpotensi membuat Fayyadh tak nyaman. Sementara tangisnya Masya Allah. Sesesibuk pernah nongolin muka di halaman dan bertanya dengan polosnya "Diapain anaknya Mbak? Kok nangisn...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.