Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Homey

Today home is where Ibuq, Mamiq, Kindi Kiok, Cempi, Cheky, and Mpuss are. Someday maybe home is where you are. Lately I realized that home will be forever homey where Allah is. Which is closer to me than my jugular vein. But the big question is: can I?

Musim

Ada orang yang meskipun kita baik, dia pasti mengatakan sesuatu yang membuatnya terdengar lebih baik. Adalagi yang selalu menemukan celah kekurangan di antara kebaikan kita. Ada juga yang walaupun kita kurang baik, selalu dianggap baik di matanya. Lalu ada juga yang jika kita tidak baik, dia akan mengingatkan kita agar kembali baik. Di sisi lain, ada yang yang tidak ambil pusing, baik atau buruk kita bukan urusannya selama kita tidak mengganggu. Seperti cuaca, yang kadang panas, mendung, kemudian hujan. Macam-macam pribadi ini akan selalu kita temukan. Dan semuanya adalah ujian untuk tumbuh dan berkembang. Lalu apa? Apakah kita akan terus mengeluh? Jika panas kita bisa pakai pakaian longgar dan menyerap keringat, minum es, nyalakan kipas angin atau ngadem di ruangan ber-AC. Jika hujan, well mungkin ini waktunya kumpul keluarga. Cuddling bersama mereka dibawah selimut tebal sambil nonton tv. Kalau harus bepergian, yang pakai mobil harus ekstra hati-hati. Yang pakai motor dipertimb...

Sepsis

"Innalillahi wa inna 'ilahi rojiun.. Telah meninggal dunia.." suara pengumuman dari speaker masjid memecah hening subuh tadi. Namun deru mesin air membuat saya tak bisa mendengar dengan jelas nama siapa yang disebut. Tetapi dalam hati langsung menggumam: apakah itu beliau? Saudara jauh dan tetangga dekat masa kecil. Istri dari pemuka agama di desa kami. Namun pengumuman dari masjid kedua membantah firasat saya. Alamatnya tak sesuai. Sepsis. Like a cancer, it has death sentence attached to its name. Its even rarely play fair, for it can caused damage quicker than cancer. Sekali lagi, hal ini berdasarkan textbook. Tapi pengalaman seringkali berkata lain. Dalam beberapa kasus sepsis ataupun cancer memiliki survivor. Kasus special dengan pasien spesial.

Pilihan

Mengapa kita harus (memaksa) diri untuk memilih? Grup A atau B, pro atau kontra, timur atau barat. Apakah nista tak menjadi bagian dari suatu golongan? Terlebih jika kita tak memiliki pengetahuan melainkan sedikit tentang hal itu. Haruskah ikut berkicau? Hanya karena sebagian besar menuju ke arah timur, maka membebeklah kita kesana. Hanya karena satu gaya mendapat ribuan like, maka mengikutinya menjadi satu keharusan. Padahal jika ingin jujur tak satu iota pun dari diri yang butuh itu. Jika kenal diri sendiri, maka tak perlu risau dengan arus di sekitar. Prinsip itu, peganglah.

Solitude

I don't know when did solitudeness become my best friend. Berinteraksi dengan banyak orang, berusaha mengingat-ingat nama yang terkubur sekian tahun di alam bawah sadar membuatku malu. Betapa tak pernah sebelumnya dunia kami bersinggungan. Mungkin pernah, tetapi aku yang tak begitu memperhatikan. Sama seperti ketika mengendarai sepeda motor, pandanganku hanya fokus ke depan. Dan dalam pikiranku sendiri. I love being invisible. When I can blend with the surrounding but going unnoticed. When I can perfectly sit in a corner and look at people around me. Really look at them. Dissect every part. Read every emotions. And sometimes, envy some happiness in them.

Setir

Ketika mengantar Yani pulang dua minggu lalu, ada kesadaran yang tetiba hadir di tengah perjalanan. Yani, baik fisik maupun umurnya, secara harfiah jauh lebih kecil dariku. Meskipun demikian, aku memberikannya kesempatan untuk menggantikanku membawa motor karena aku tak hafal jalan ke rumahnya. Maka, dimulailah petualangan kami dan kekhawatiranku. Pada awalnya Yani sempat kagok untuk naik ke jalan raya karena aku berhenti di sisi jalan yang tak rata. Sisanya, mulus. Demikian juga dengan kekhawatiranku. Semula rasa khawatir terus menerus merayap di hatiku. Dengan badan yang mungil, Yani harus memboncengku dan Oga, sepupuku yang berusia 8 tahun. Beban yang tak ringan. Apakah Yani akan menyebut? Bagaimana jika Yani tak familiar dengan motorku dan terjadi masalah? Bagaimana jika terjadi sesuatu dan Yani tak bisa menyeimbangkan motor? Puluhan apa dan bagaimana berkecamuk di benakku. Tak sekali dua tanganku pun ikut 'membenarkan' cara mengemudi Yani dengan meletakkannya di pinggang...

Bermanja padaMu

Ku tahan tangis ini sampai akhir malam Ku tikam duka ini sampai semua terlelap Tak ingin mereka tahu Namun sebaliknya ku ungkapkan semua padaMu Duhai Pemilik Hati, Wahai Penggenggam Jiwa

Ibuq

Ibuq orangnya jarang muji, kebalikan dengan Mamiq. Jadi, kalimat macam "Kalo kita sudah berbuat baik, pasti kita akan mendapat sesuatu yang baik. Nggak mungkin Tuhan menyia-nyiakan kita" udah cukup bikin berdarah-darah dan mendadak mesti mengerjapkan mata berkali-kali. Belagak kelilipan. The ignorant one, once care too much. Dibalik banyaknya kalimat beruntun bernada tinggi yang seringkali nggak mau kita dengerin (saking bosennya) itu, para emak sebenarnya menyimpan banyak kiasan. Dan alasan. Dan ajaran. Sebisanya kita aja mau sabar dan tidak menutup mata hati. Nggak mungkin emak orang lain lebih baik dari kita. Karena Allah menciptakan seorang ibu sudah sepaket dengan kebutuhan anak-anaknya. Nikmati dan syukuri. Jutaan orang diluar sana (jika mungkin) akan rela memberikan apapun hanya untuk bisa merasakan lagi satu momen itu: dimarahi.

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

The Dream

I got a dream last night. A dream that can make a smile unconsciously appears in my face. Silly me. It was that kind of dream. A dream when you finally met your Prince charming. And I'll proudly say that it wasn't a sappy one. But the very me one. In my dream, I met some people. One of them is a man that I can make a conversation animatedly. He always gave me first priority yet I didn't think it was something special. Till his sister (played by my dear lil-sis in Singaraja) told me. Said 'I don't if you're a an idiot or really ignorant. But my brother has show you all kind of sign. Yet you can't grasped it.' Then she tsked-tsked and gave me that teasing smile. So the re-remember begins. Each of our encounters replayed in my mind. The accidentally stolen times, the great talk, the sweet help. And I saw it. Really saw it: the look in his eyes. The look that flickered many emotions without says anything. And I understand it very well. But he doesn'...

The Past

I thought I've completely and utterly let it go. But the heartache said otherwise. Although it was just like a clenched pain for few seconds, it was there. Real and livid. And after few attempts to calm myself, I can release my breath that I never know I'm holding on. I finally admitted that he hurt me tremendously. Not in a way most people thought, but in a way more deeper. Lost a lover, you can mask in with hate. Discard it like a band-aid, fast and painless. But lost a friend? Not a mere friend, but your best friend. How can I mask it? How to discard the feeling? Because I'm not only lost him, but lost a family. Our relationship never like before. It got strained. The warm has decreased gradually. Now, I must think before contact one of them. Do I need it? Will they get bothered by my call? And when I hear the good news, I can help but feel happy too. There's an envy, a strong one but thanks God there's no jealousy. Yeah, he have something I've been dream...

More than words

"Ini titip buat yang kecil-kecil. Aku inget kemaren Kak Pioq bilang cucunya suka sekali jelly. Tapi gimana mau nyari cepet-cepet orang baru bilang malem besoknya berangkat. Bawa juga ini kripik singkong yang udah dibungkus. Mamiq suka sekali. Pas kita ke Bedugul kemaren nyemil itu terus." Petuah bibi pas mau balik ke Lombok. Ritual khususnya, sore hari sebelum balik kita pergi ke Jl. Tukad Badung buat beli oleh-oleh. Lalu dibungkus en diingetin yang ini buat siapa yang ono buat si itu. Pas mau balik ke Denpasar gitu juga. Ibuq en bibi-bibi bakal nanya, "Bik Dijah pesen apa?" Kalo pesen kopi bakal disiangin, kalo pesen terasi dicariin yang paling enak. Lalu malem sebelum berangkat biasanya dua orang bibi bakal datang bawa tas belanjaan. Isinya full kayak orang baru pulang dari pasar. Ada tomat, kacang tanah, bawang putih, bawang merah, kadang ada juga tahu sama kangkung. Padahal, Bik Dijah bisa beli semua itu di Pasar Sanglah. Tapi alasan para bibi adalah "P...

Mess

This noon, when I passed by the masjid monument at Jalan Lingkar an epiphany hit me. The roads were under construction for months now. Yeah, some part still bit rocky but we have no difficulty to ride on it. So far, I'm in awe. My little island is growing up *wiping imaginary tears. Back to the epiphany. I saw that the road almost finished. But the mess is also everywhere. Yep, I want to tell about the mess. The mess is an evidence that there's something happened. A moving thing. A progress. For better or worse, but nothing stagnant. If you want to make a new road, built a house, the mess will absolutely there. Before everything finished and will be clean up after that. And taraaaaa! You got a new road. A polished house. That was it. To get something new, don't be afraid to face some mess. For it will follow a process. You can clean it, but sometimes you don't have enough time. Because compared to exceed the process, it was a small thing. Because it's not a prior...

Danau Buyan

Bermandi cahaya bulan separuh bulat Api unggun menjilat-jilat Bintang tampak seribu kali lebih dekat Namun, awan stratus menyebar pekat Diri sempurna berserah pada Yang Maha Ku at Meski masih tertatih taat Meski dosa hitam melekat

Lembar-Padang Bai

For the umpteenth times, I cross Selat Lombok. To travel with Janah, to get my transkrip, to give some presents, to say hi, and to mend my broken heart. Yeah, I admitted it. In one way or another, I was broken heart. I feel unworthy, feel betrayed. In that time, I tried to see it in a new light. Telling myself it was nothing. But no, the darkness is more powerful than my weak light. Honestly, till 48 hour ago I still reluctant to go. Feeling it's not time yet. A new negative feeling made it way to my heart. Unwanted. Discarded. What's else? But something happened. I finally realized that it was life. Never fair in our my. But people came and go. Nothing forever. The forever one is the change itself. Yeah, I can be the flavour of the month. But so do someone else. I chose this way. I chose to go. And I can't force people to stay their way meanwhile I myself change. Yes there are the loss, the warm, the distance. But nothing I can do except nursing the loss till it bearabl...

Bossy

Yesterday, I went to pick up Indi from her school. We will go to Narmada and according to mom, there will be no people in the house to accompany her. Where to eat and everything? When the truth are the will be mamiq there and mom can't bear the guilty feeling if she dramatically cry because she can't go with us. Narmada is everybody's favourite anyway. So I went. Feel nervous to face her teacher and some curious glances from her friends. But after said salam, everything when easy. Too easy in fact her teacher opened the door before I can politely knock. No need to fabricate the reason too. I've got the permit with flying colors. "I brought my bike", she said without preamble. We even barely left her class. "Of course you are", I replied along with a chuckled. Well I can't have her and her bike sit in harmony on the back of motorcycle right? Then she rushed to her bike. The next thing I know she paddled it with great amount of excitement. I ju...

Pepatah

Tak ada asap jika tak ada api. Terjemahan bebasnya: ada akibat, pasti ada sebabnya. Kadangkala, aku benci mengakui kalau orang tua itu (seringkali) selalu benar. Mungkin ini maksud ungkapan itu: percayalah apa yang dikatakan orang tua, bukan karena mereka selalu benar, namun karena mereka memiliki lebih banyak pengalaman berbuat salah. Karenanya mereka juga bisa belajar lebih banyak. Buktinya tercipta sekian pepatah yang jika direnungkan mengandung arti begitu dalam. Seperti kalimat pertamaku. Aku bersyukur bisa paham artinya. Meskipun harus m engalami pedih terlebih dahulu. Ya, aku akhirnya sadar. Apapun yang orang sangkakan padaku, berawal dari apa yang ku lakukan. Baiklah, mungkin ada rumor yang tersiar. Namun tingkahku juga tak banyak membantu meredamnya. Bahkan membuatnya semakin merebak. Terlebih mungkin aku tak cukup berusaha untuk mengklarifikasinya. Belum lagi jika dihitung kenaifanku. Percaya bahwa setiap orang bisa menilai yang terbaik dari orang lain. Nyatanya, orang-or...

Scene 2: Mimpi

Suara azan sudah berkumandang 15 menit yang lalu. Dingin subuh menyesap di kaki dan tanganku.  Ku tarik lagi selimutku, memastikan tak ada badan yang tak tertutupi selain wajah. Hmmm.. hangat. Di kamar sebelah, terdengar krasak krusuk paman-paman dan sepupu-sepupu yang menginap sejak kemarin. Mereka beranjak mengambil air wudhu. Sayup-sayup suara mereka masih terdengar. Namun tak lama kemudian semakin menghilang hingga hening yang tersisa. Rupanya aku tertidur. Entahlah sudah berapa lama sejak janji 'lima menit lagi mumpung orang-orang masih pake kamar mandi' berlalu. Aku terlonjak bangun. Belum sholat subuh. Ketika aku keluar rumah, hanya mengenakan baju tidur Hello Kitty berwarna hijau buluk. Aku ternganga melihat matahari yang sudah terbit. Udara sudah hangat bahkan cenderung panas. Tuhan, apa yang aku lakukan. Subuhku tertinggal karena tidur! Napasku memburu, jantungku berdetak keras seperti akan keluar dari rongganya. Masalahku bukan hanya meninggalkan subuh, tapi terny...

Scene 1: Memori

"Coba yang ini", ia menunjukkan sandal berwarna ungu. Berlian-berlian plastik menghiasi pinggiran tali-talinya yang jumlahnya memenuhi syarat untuk membuat simpul terumit di pramuka. Dahiku mengernyit. Ni anak minta ditimpuk apa? Sambil melotot aku berkata ,"Iyuh, emang gue emak-emak?!" Dan tawanya meledak. Kadang ku pikir salah satu resolusi hidupnya adalah melihat hidupku menderita. Kami sudah setengah jam (Tuhan, jadwal tidur siangku berkurang drastis!) berkeliling di toko sepatu yang disebutnya sebagai 'yang terlengkap di kecamatan kecil kami'. Tujuan: mencari ganti sandalku yang putus. Namun sayang, meski sebutannya menjanjikan belum satupun ada yang cocok dengan hati dan kakiku. Ckckckck.. sandal jaman sekarang. Sepertinya semua pabrik sandal karyawannya adalah ibu-ibu arisan yang terobsesi hidup mewah namun minim modal. Jadi diputuskanlah memakai bahan kawe nomor 10 untuk aksesoris. Oh ya kenapa tadi putus? Aku mengelus dada lagi. Cowok resek yang ...

Brother dear

Last night, I've been laugh and laugh and laugh till my throat dry. Need some water. I changed my profile picture on BBM with a pretty girl in pink saree. I always want one since I saw Preitty Zinta in lime saree when I'm still in an elementary school. So long and till now I'm not having it, yet. For more dramatic effect, I added a status 'Pengen, araq ndeq te dagang liq Naq Tuan?' Comments come from Usi and the hilarious one come from Hilmi. And for the next thirty minutes we engaged in a 'dialog' between Tapasha and her father from Uttaran series. The series we both despised long past. Jesting is one thing but found someone to do it together is a different thing. For entire my life I always find that sometimes, I enjoying befriends boys than girl. For they are more fun and easy going. I even adopted them as a brothers dear I never have. Like Hilmi. And later when I watch Veera series, and watch scene when a girl ask her friend how she looked like in he...

Soulmate

Ketika mendengar seseorang yang sering memberi tausiyah atau motivasi, sebuah pertanyaan sering terbersit dalam hati. 'Bagaimana bisa mereka menyusun kalimat-kalimat seindah itu?'. Cerita-cerita sepelepun, bisa jadi begitu menggugah di tangan mereka. Namun meski demikian, tak sedikit juga orang yang tak menyukai hal tersebut. Lalu muncullah pertanyaan berikutnya, 'Bagaimana bisa?' Yang katanya motivator top pun sampai dibuatkan meme, 'Hidup ini nggak seindah ucapannya Mario Teguh.' Sebaliknya, seorang teman hampir selalu memakai depe dari official akun milik beliau. She's worship the ground he walk on. Lalu ada lagi Salim A. Fillah. Dimana selama kajiannya saya ternganga karena mendengar kalimatnya yang mengalir tak putus-putus, tanpa teks atau media presentasi. Hanya dari pengetahuannya yang Masya Allah sangat luas. Namun begitupun, seorang teman pernah berujar, "Saya nggak cocok dengan buku-buku Salim Pieq, terlalu puitis. Saya lebih condong dengan ...

Beruntung ke TPA Suwung

Amankan diri, amankan lingkungan, amankan pasien. Dikenal juga dengan prinsip 3A. Sebuah protap dalam dunia medis jika kita menemukan kecelakaan, bencana, dan sejenisnya. Perhatikan, bukan menyelamatkan orang lain (dalam hal ini pasien) yang menjadi hal utama, tetapi diri sendiri terlebih dahulu. Bahkan menyelamatkan pasien menjadi hal terakhir. Bagaimana kita bisa menolong orang lain jika jiwa sendiri terancam? Atau lingkungan sekitar pasien masih membahayakan? Banyak pecahan kaca misalnya. Terdengar selfish mungkin, tetapi aturan adalah aturan. Yang seringkali terabaikan jika sudah berada di lapangan, entah karena panik atau rasa kemanusiaan yang tak menyisakan tempat untuk berlogika. Aturan ini tanpa sadar sering saya generalisir dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi sebagai seorang relawan. Walaupun hanya sekali turun ke lapangan ketika longsor dan lebih banyak melakukan baksos ke desa-desa yang aman namun saya menjadi paham bahwa tak ada gunanya ikut membantu tetapi tanpa sadar me...

Text

Untuk kesekian kalinya, nyeri itu menusuk di dada. Saat aku pikir aku sudah lupa, lebih jauh lagi, kuat. Berkali-kali aku ingin bertanya, salahku apa? Dan apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya? Tapi tidak. Aku hanya terdiam merawat sakit hatiku. Apalagi ketika aku membaca artikel tadi. Jika ingin bertengkar, berdebat, atau membicarakan sesuatu yang serius, jangan lewat text. Karena kita tak akan bisa membaca nada, intonasi, atau mimik wajah seseorang. Bahkan emoticon bisa ditafsirkan berbeda. Tapi bagaimana aku bisa membicarakan semuanya bertemu mata? Jarak sudah terpisah ratusan kilo. Lalu harus bagaimana? Aku tak lagi nyaman berbagi hidupku di media sosial lain, takut menyinggung perasaan orang lain. Atau takut memunculkan posting yang bisa membuat orang lain menilaiku makin buruk. Apa artinya semua ini? Tapi apakah perlu semua itu? Mungkin saja orang yang ingin ku jaga perasaannya malah tak menganggapku sedikitpun? Sudah membuangku jauh-jauh dari hidupnya? Mungkin aku ha...

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

Distrust

It's something to know some people judged you before they know you. Even doesn't have tendencies to ask you the question itself. It hurts. But still, you can easily ignore it. They don't know you after all. But when someone close to you do the same thing, it's a whole different thing. And it's hurt beyond word. Made you want to shout before their face, pull their hair, and maybe broke some glass to add a dramatic effect (no, I'm not in the mood to beat my head to the wall). My point is, it's hurt. Yeah sometimes later, we can reflect, or think about it clearly. There's must be something that triggered it. Namely our action. But for some first seconds, there's a doubt. A heartbreak. That we dont deserved it. Because we deserved to be trust. After all we have done to them. Sadly, the universe seem likes mysteries. A single 'why' cannot guarantee a 'because' as an answer. It could be more. The thing is, how do I know my reaction to ...

Aunty

An abused wife for years, but not a single tear when he finally divorced her. She even thought about how to keep earn money right after it. And I wonder, how come someone can be so strong? My desperate little heart tell me, she doesn't have choice unless to be strong. Meanwhile, my foolish romantic brain actually dare to remember that old-sickly sentence, that life must go on. But my once idealistic faith wish to believe, that it's because she (and all of us) have Allah to rely on. Always.

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...

Anger

Don't be angry.. Don't be angry.. Don't be angry.. My understanding why this advise must be repeated three times fall down right know. When I just feel it by myself. How I my heart beat accelerated, my eyes menacing, my face will be red as tomato, my intonation increase few octaves. I feel the fury pump up into my vein. A second more and either it will eat me alive or I'll burst. I have a final successive with my colleagues tonight about money in Mandala. I don't how it begin but suddenly we yelled each other. She yell maybe because it was the usual for her but I can't stand it anymore. I tried to knock some sense to her but she just doesn't want to listen. Instead she keep rambling about her chart was a right one. And I just can't help it, I tried harder and increased my voice. Hoping she would calm down and let me explain. In the end, it wasn't work and need the third person to separate us and explain the problem with manners. I don't get it...

Gumi Samawa

Dunno but I'm teased to call this island with 'Land before time'. Yup, I'm here. On the bus to Dompu. I'm sit in a front row, right behind the driver. And I greedily basking at the view before me. Land and land, mountain and mountain, seashore and seashore. Some wild cow even casually cross the way and made the driver hit the brake abruptly. So do with the goats that plays in the market. A new building's market, precisely. And I'm concerned that most of the houses uses asbes or seng as the roof. I wonder how they bear with the heat in the midday, as my friend said, there are two suns in Sumbawa. With a vast land, and some small gazebo in a few acre, usually under a tree. It will be a perfect picture. But I'm not sure people here will have a time to appreciate it, let alone take a selfie. I pictured their life will circle in work in it, go home, and go there again. No wonder why almost all my friends prefer to stay in Mataram after college. Here, times c...