Akhir tahun 2011, beberapa hari sebelum berangkat ke Bali saya berkeliling ke rumah 'orang tua yang lain'. Sejauh ini masih ada tiga pasang. Alhamdulillah.. Rumah terakhir yang saya kunjungi adalah rumah Inaq dan Amaq di Bendung. Saat akan berpamitan, Inaq menyelipkan beberapa lembar uang saat bersalaman. Sontak saya menolak, tetapi Inaq tak menerima kata tidak. Satu menit selanjutnya diwarnai saling pindahkan uang dari satu tangan ke tangan yang lain. Sampai akhirnya saya yang mengalah. Meringiskan kalimat 'mengapa mesti repot-repot'. Uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain. Sampai di gerbang kembaran saya menjelaskan "Memang seperti itu adatnya disini kalau seorang anak akan pergi jauh. Diterima saja. Sebagai tanda restu orang tua." Hiks.. Hati ini berembun. Banyak dari kita yang tak mau menerima uang pemberian orang tua, keluarga, ataupun orang yang telah merasa dibantu. Dengan alasan sudah ada. Sudah dewasa, sudah bekerja. Mending buat belanja...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.