Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2016

Beruntung ke TPA Suwung

Amankan diri, amankan lingkungan, amankan pasien. Dikenal juga dengan prinsip 3A. Sebuah protap dalam dunia medis jika kita menemukan kecelakaan, bencana, dan sejenisnya. Perhatikan, bukan menyelamatkan orang lain (dalam hal ini pasien) yang menjadi hal utama, tetapi diri sendiri terlebih dahulu. Bahkan menyelamatkan pasien menjadi hal terakhir. Bagaimana kita bisa menolong orang lain jika jiwa sendiri terancam? Atau lingkungan sekitar pasien masih membahayakan? Banyak pecahan kaca misalnya. Terdengar selfish mungkin, tetapi aturan adalah aturan. Yang seringkali terabaikan jika sudah berada di lapangan, entah karena panik atau rasa kemanusiaan yang tak menyisakan tempat untuk berlogika. Aturan ini tanpa sadar sering saya generalisir dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi sebagai seorang relawan. Walaupun hanya sekali turun ke lapangan ketika longsor dan lebih banyak melakukan baksos ke desa-desa yang aman namun saya menjadi paham bahwa tak ada gunanya ikut membantu tetapi tanpa sadar me...

Text

Untuk kesekian kalinya, nyeri itu menusuk di dada. Saat aku pikir aku sudah lupa, lebih jauh lagi, kuat. Berkali-kali aku ingin bertanya, salahku apa? Dan apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya? Tapi tidak. Aku hanya terdiam merawat sakit hatiku. Apalagi ketika aku membaca artikel tadi. Jika ingin bertengkar, berdebat, atau membicarakan sesuatu yang serius, jangan lewat text. Karena kita tak akan bisa membaca nada, intonasi, atau mimik wajah seseorang. Bahkan emoticon bisa ditafsirkan berbeda. Tapi bagaimana aku bisa membicarakan semuanya bertemu mata? Jarak sudah terpisah ratusan kilo. Lalu harus bagaimana? Aku tak lagi nyaman berbagi hidupku di media sosial lain, takut menyinggung perasaan orang lain. Atau takut memunculkan posting yang bisa membuat orang lain menilaiku makin buruk. Apa artinya semua ini? Tapi apakah perlu semua itu? Mungkin saja orang yang ingin ku jaga perasaannya malah tak menganggapku sedikitpun? Sudah membuangku jauh-jauh dari hidupnya? Mungkin aku ha...

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

Distrust

It's something to know some people judged you before they know you. Even doesn't have tendencies to ask you the question itself. It hurts. But still, you can easily ignore it. They don't know you after all. But when someone close to you do the same thing, it's a whole different thing. And it's hurt beyond word. Made you want to shout before their face, pull their hair, and maybe broke some glass to add a dramatic effect (no, I'm not in the mood to beat my head to the wall). My point is, it's hurt. Yeah sometimes later, we can reflect, or think about it clearly. There's must be something that triggered it. Namely our action. But for some first seconds, there's a doubt. A heartbreak. That we dont deserved it. Because we deserved to be trust. After all we have done to them. Sadly, the universe seem likes mysteries. A single 'why' cannot guarantee a 'because' as an answer. It could be more. The thing is, how do I know my reaction to ...

Aunty

An abused wife for years, but not a single tear when he finally divorced her. She even thought about how to keep earn money right after it. And I wonder, how come someone can be so strong? My desperate little heart tell me, she doesn't have choice unless to be strong. Meanwhile, my foolish romantic brain actually dare to remember that old-sickly sentence, that life must go on. But my once idealistic faith wish to believe, that it's because she (and all of us) have Allah to rely on. Always.

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...