Skip to main content

Beruntung ke TPA Suwung

Amankan diri, amankan lingkungan, amankan pasien. Dikenal juga dengan prinsip 3A. Sebuah protap dalam dunia medis jika kita menemukan kecelakaan, bencana, dan sejenisnya. Perhatikan, bukan menyelamatkan orang lain (dalam hal ini pasien) yang menjadi hal utama, tetapi diri sendiri terlebih dahulu. Bahkan menyelamatkan pasien menjadi hal terakhir. Bagaimana kita bisa menolong orang lain jika jiwa sendiri terancam? Atau lingkungan sekitar pasien masih membahayakan? Banyak pecahan kaca misalnya. Terdengar selfish mungkin, tetapi aturan adalah aturan. Yang seringkali terabaikan jika sudah berada di lapangan, entah karena panik atau rasa kemanusiaan yang tak menyisakan tempat untuk berlogika.

Aturan ini tanpa sadar sering saya generalisir dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi sebagai seorang relawan. Walaupun hanya sekali turun ke lapangan ketika longsor dan lebih banyak melakukan baksos ke desa-desa yang aman namun saya menjadi paham bahwa tak ada gunanya ikut membantu tetapi tanpa sadar membahayakan diri sendiri. Karena itu ketika longsor, saya yang sehari-hari selalu mengenakan rok dan sandal jepit, memantapkan diri untuk memakai training olahraga dan meminjam sepatu kets milik keponakan. Dan benar, sesampainya disana medan memang akan sangat menyulitkan jika tak menyesuaikan pakaian. Kita akan tertinggal jauh oleh rombongan dan rentan terpeleset karena tanah yang licin. Aturan memang tidak dibuat untuk main-main.

Aturan yang sama juga saya bawa ketika akan memulai social project di tempang pembuangan akhir (TPA) sampah Suwung. Sosial projectnya sendiri sederhana. Membagikan bubur kacang hijau dan roti goreng kepada pemulung yang bekerja di TPA tersebut. Namun persiapan kami tidak main-main. Karena katanya TPA tersebut adalah muaranya semua sampah di Kota Denpasar, kami sudah membekali diri dengan sepatu tertutup, baju lengan panjang, bawahan yang menutup sampai mata kaki, dan tentu saja masker. Tak puas dengan satu masker, kami memakai dua sekaligus. Tak lupa juga persediaan hand sanitizer dan tisu basah antibakteri. Pokoknya, siap tempur untuk menginjakkan kaki di TPA.

Deskripsikan dari awal masuk tpa.

Sesampainya disana, menit-menit pertama kami hanya ternganga. Tempat yang semula nampak seperti gunung dari kejauhan kini terlihat aslinya. Sejauh mata memandang hanya sampah, sampah, dan sampah. Di sebelah kiri tampak bukit-bukit sampah kering yang telah ditimbun tanah, dengan beberapa pohon tumbuh disana. Lalu di sebelah kanan tampak seperti kolam yang sangat luas. Namun isinya bukanlah air jernih, tapi sampah-sampah yang sudah setengah penuh. Sisi-sisinya tampak dilapisi plastik atau apapun itu yang berwarna hitam. Di tengah-tangah tampak sebuah eksavator yang sedang mengais-ngais sampah. Sementara yang satu lagi memcoba memadatkan sampah dengan berungkali melindas sampah tersebut.

Rupanya, ketakjuban kami tak sampai disana. Sekitar 50 meter di depan kami, tampak dua buah bukit sampah besar. Keduanya dipisahkan oleh jalan yang dilalui truk pengangkut. Disanalah puluhan sapi yang gemuk-gemuk mencari makan. Dan puluhan manusia mengais barang yang bisa berguna dari apa yang orang buang. Truk-truk sampah silih berganti menurunkan sampah. Dan sebelum semuanya ditumpahkanpun, para pemulung akan berlari kesana untuk mencari barang-barang yang sekiranya masih bisa dijual. Sebagian memakai kait untuk mengambilnya, sebagian langsung memakai tangan. Itupun tak semua dari mereka memakai sarung tangan. Kebanyakan para pemulung memakai baju dan celana panjang, sebagian memakai sepatu bots. Namun sebagian ada juga yang hanya memakai celana.

Saya semakin tak mempercayai penglihatan ketika di tengah-tengah bukit tersebut terdapat sebuah 'kantin'. 'Kantin' itu sendiri terbuat dari beberapa kayu yang dipancangkan, atapnya dari seng dan beberapa terpal. Untuk memisahkan dengan area sekitarnya, ditumpukkan beberapa buah karung (yang tentu saja berisi sampah) sehingga membentuk setengah lingkaran. Penjualnya tampak membuat kopi dan beberapa bapak-bapak sedang asyik makan nasi bungkus. Saya makin tak bisa berkata-kata ketika melihat seorang anak laki-laki (mungkin anak si penjual) duduk di atas tumpukan karung dan memainkan mainan bekas. Dia tak memakai topi walaupun terik matahari menyengat. Setidaknya dia masih memakai baju dan celana panjang. Di dekat si anak, tampak ibu-ibu yang sibuk memotong sayuran dan buah-buahan yang hampir busuk dengan tangan telanjang. Yaa Rabb, di rumah sakit menyuntikkan obat saja kami memakai sarung tangan yang langsung dibuang setelah dipakai, tapi ibu-ibu ini?

Mobil yang kami naiki tiba-tiba berhenti memutuskan lamunan saya. Rupanya kami sudah tiba di tengah bukit. Di depan kami tampak sebuah truk sampah sedang menurunkan muatan. Kedatangan kami rupanya menarik perhatian para pemulung. Mereka sejenak menghentikan pekerjaannya. Pak Bambang, ketua BSMI Bali mengisyaratkan kami untuk keluar. Saya dan tiga orang lainnya bersiap. This is the moment of truth. Saat pintu mobil terbuka seketika bau sampah menyeruak. Yaa Rabb, untunglah saya sudah terlatih dengan bau-bau luka di rumah sakit. Meskipun bau sampah ini jauh lebih menusuk setidaknya saya tidak mual. Masalah lain ketika akan menurunkan kaki. Wahai sepatuku, tabahkan hatimu. Memilih tanah (tidak, lebih tepatnya sampah) yang kering kami melangkah menuju belakang mobil. Yaa Rabb, belum genap satu menit dan keringat di dahi sudah membanjir. Bagaimana bisa para pemulung bekerja disini dengan bau dan panas matahari yang menyengat?

Belum sempat menjawab pertanyaan sendiri, kami sudah diserbu para pemulung. Rupanya Pak Bambang sudah mengumumkan bahwa kedatangan kami adalah untuk membagikan bubur kacang hijau. Para pemulung merubung kami bertiga dari segala arah. Tangan kami tak cukup sigap untuk mengulurkan bubur dan roti sehingga banyak dari pemulung yang mengambil sendiri dari keranjang. Tidak sedikit yang mengambil dua bungkus atau lebih dengan alasan untuk teman atau keluarganya yang di sebelah. Tidak sampai lima menit, dua keranjang besar bubur dan cakwe habis. Menyisakan rasa bahagia di hati kami melihat wajah senang dan ucapan terimakasih dari para pemulung.

Tak menyiakan waktu karena di belakang kami sudah menunggu truk sampah yang lain, kami  bergegas masuk ke mobil. Mobil kami terseok-seok di jalan yang tidak rata. Tampak beberapa pemulung melambaikan tangan sambil menyeruput kacang hijau yang diberikan. Sebagian besar dari mereka langsung bahkan langsung memakan cakwe tanpa melepas sarung tangan kain yang mereka kenakan. Hanya beberapa orang yang melepas sarung tangan dan memakan cakwe tanpa melepas plastik. Tak ada yang terlihat cuci tangan. Konsep kebersihan dan 3A saya tertimbun bersama sampah disini. Terkubur jauh bersama sampah dari beberapa tahun sebelumnya. Disini, mereka tak hirau keamanan diri sendiri. Apalagi mempertimbangkan keamanan lingkungan. Karena lingkungan ini adalah tempat penghidupan mereka. Yang tersisa hanya A ketiga, amankan pasien. Dalam hal ini bagaimana mereka bisa 'mengamankan' rupiah untuk dibawa pulang. Menyambung hidup diri dan keluarga. Tak ada kata jijik, pun di kamus saya. Yang tersisa hanya prihatin.

Dalam perjalanan pulang kami lebih banyak terdiam. Memikirkan betapa kami kurang banyak bersyukur. Memiliki tempat kerja yang aman, tak kotor dan berbau. Dapat menghirup udara segar setiap saat. Memakai pakaian yang layak dan bersih. Bisa mencuci tangan sebelum makan. Tidak bergantung dari barang yang dibuang orang lain. And the list goes on.

Satu hal yang paling saya syukuri. Kesempatan untuk mengunjungi TPA itu sendiri. Tempat yang sebelumnya tidak saya ketahui keberadaannya. Apalagi untuk memikirkan orang-orang di dalamnya. Lebih jauh lagi, memiliki kepedulian terhadap kesehatan mereka. Datang ke TPA membuka mata saya. Jika menjadi relawan yang membagikan bubur dan menyaksikan mereka memakannya saja sudah begitu membahagiakan, bagaimana bahagianya jika saya yang menjadi donatur?

Mungkin saat ini masih jauh impian saya untuk menjadi donatur. Tetapi menjadi relawan BSMI Balipun sudah cukup memberikan banyak pelajaran. Bahwa menjadi relawan tak perlu muluk-muluk. Cukup niat yang baik dan komitmen. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Seperti menyediakan waktu, sekali lagi, hanya waktu. Dua sampai tiga jam setiap Jumat, untuk membungkus, mengantarkan, kemudian membagikan bubur dan roti di TPA. Setiap orang, bahkan anak kecilpun bisa melakukannya.

Yang tidak dimiliki setiap orang adalah kepedulian dan kemauan untuk melakukannya. Kepedulian, adalah hal indah yang ditularkan oleh teman-teman relawan dan donatur BSMI Bali. Dan mereka mebuktikan, dengan kemauan yang kuat kami bisa melakukan banyak hal. Bersama, kami bisa menciptakan kesempatan. Kesempatan-kesempatan yang indah untuk berbagi. Apapun yang bisa dibagikan, ilmu, senyum, pelayanan kesehatan, bubur, sembako. Meski sedikit, bukankah amal itu lebih dicintai Allah jika dilakukan terus menerus?

Terimakasih BSMI. Telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi dan menempa kepedulian diri. Semoga BSMI terus bisa menebar manfaat seluas-luasnya. Salam Kemanusiaan tanpa batas!

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...