Siang ini di atas motor..
Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus.
Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second.
Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya.
Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paruku. Ia mengembang dan mengempis sesuai dengan kebutuhan oksigen yang ku perlukan. Aku bisa mengatur, namun hanya untuk waktu singkat. Yang mana butuh konsentrasi tinggi.
Sampai di titik ini aku bertanya, jika semua-tangan, kaki, jantung, paru-paru, otak, dan organ lainnya-bekerja dengan cara mereka sendiri. Lalu dimana sebenarnya aku itu? Bagian mana? Apa hanya aku dan pikirku?
Lalu apa yang harus ku banggakan?
Apa yang berani dibanggakan?
Ah manusia, sudah diatur tapi tak mau diatur.
Yaa muqollibul qulub, tsabbit qolbi 'ala diinik.
Comments
Post a Comment