Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2018

MEMULIAKAN TAMU

"Mbak Fitri uangnya banyak ya?" Heeeeh..?? Pertanyaan apa ini. "Kok bilang gitu?" "Iya, kan kalo kita mau bikin apa gitu katanya pake uang Mbak Fitri aja.." Yaa Rabb, logika anak-anak. Sambil tersenyum saya menjawab "Ya kalo kadang ada yaa ada. Kalo nggak ya mau gimana. Doain aja biar uangnya ada en berkah." #modus Sore ini anak-anak kompleks berkunjung kembali. Berawal dari hadirnya Cemong dan Comel kami menjalin persahabatan. Rentangnya dari menegur ketika papasan sampai saya mewajibkan diri menonton mereka pentas di kemah kemarin. Kami pun mengisi waktu dengan membuat jelly, sambil mereka bercerita tentang hantu di sekolah masing-masing. Yang efeknya bikin pada takut pulang padahal hari masih terang benderang 😅😅😅 Setelah mereka pulang, saya pun berpikir. Ya, betapa banyak selama ini saya menemukan teman-teman yang dari penampilan dan tempat tinggal begitu sederhana, tetapi ketika kita kunjungi aneka j...

MUSHAB BIN UMAIR

Kalau kamu menilai seseorang berdasarkan kata orang, sama saja dengan kamu nilai rasa makanan bekas kunyahan orang. #someone Jijik, adalah kata pertama yang muncul di kepala saya membaca kalimat ini. Tapi setelah direnungkan, memang benar begitu adanya. Kebenaran yang menjijikkan. Karena begitulah adanya kebanyakan kita sekarang ini, tak terkecuali saya. Dengan mudahnya kita menilai seseorang berdasarkan katanya. Atau karena sepenggal kalimat yang diucapkan  padahal kita tidak tahu dalam keadaan emosi apa ia saat itu. Hey, disini juga pasti ada yang pernah menyesali kata-katanya kan? Seandainya saya nggak ngomong gitu. Ada banyak kesempatan, ketika akal sehat  kita tertutupi ketakutan, prasangka, ketidaktahuan, kemarahan. Jika kita  bukan diri kita sendiri saat itu, maka pantaskah kita lantas menghakimi orang lain? Kecuali ketika dia memang konstan mengatakan dan melakukan hal demikian, maka lain soal. Namun seburuk-buruk manusia, pasti masih ada baiknya. Yang kada...

ANJALI SAID: LOMBOK IS THE BEST

Kabhi Kushi Kabhie Gham adalah salah satu film India favorit saya sepanjang masa. Nonton berkali-kali, masih nangis juga berkali-kali. Yang berbeda mungkin adalah dulu saya ikut menari-nari, tapi sekarang duduk anteng bak ibu peri. Uhuks.. maksa.com Karakter favorit saya adalah Anjali. Yang ceria, ceroboh, tapi ternyata baperan daaaan sangat mencintai India. Sampai setelah menikah dan tinggal di London selama 10 tahun, dia masih selalu membanding-bandingkan India dan London, tak lupa menularkan virus yang sama pada anaknya. Anaknya yang London's kids tentu ogah, tapi di akhir cerita dikisahkan sampai bisa mengajak teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu kebangsaan India 'Jaana Gaana Maana'. Agak overdramatis, tapi namanya juga film 😂 Semasa tinggal di Denpasar, sosok Anjali ini tumpah ruah di bibi saya. Seringkali setiap makan sesuatu, akan membandingkan Lombok dan Denpasar. -Duren Aduuuh, kebayang terus rasa duren Lombok. Ini sih baunya aja nggak ada (dibe...

MENJAGA PERASAAN PADA PASANGAN

Bukan, ini bukan tentang menjaga perasaan cinta. Ada jauh lebih banyak orang yang lebih mumpuni untuk membahasnya. Yang telah teruji cintanya setelah bertahun-tahun bersama. Sebaliknya, saya ingin menulis tentang perasaan buruk pada pasangan. Beberapa pagi lalu, saya memposting 'kemenangan' saya dalam perang bully dengan suami. Can't resist the sweet feeling of victory 😅 Rupanya, suami tak suka dengan postingan itu. Karena saya menarasikannya sebagai 'suami yang zalim' (his word exactly, not mine). Padahal, niatnya untuk lucu-lucuan. Bahwa dalam beberapa hal istri juga harus pede dan tebal muka. Uhuks.. Tetapi kembali, beda pemikiran beda pula penafsiran. Belum lagi orang-orang yang berpikiran jika suami keterlaluan. Yang sebenarnya jauh panggang dari api. Jadi, untuk kemaslahatan bersama, saya menghapus postingan tersebut 🤗 Hari kami kemudian berjalan seperti biasa. Masak dan sarapan bersama, beberes rumah, lalu berangkat ke Festival Je...

Telepon Ibuq

Saya masih belum berhenti tertawa ketika suami tiba-tiba bertanya "Ada pulsa?" "Ada." "Mau telpon Ibuq." "Oh, ini dah telepon." Lalu saya mengambil hape dan memencet tombol dial. Belum tersambung, hape langsung direbut dan disentuhlah tombol cancel. "Nanti aja." "Lah, kenapa?" Suami memasang raut wajah serius dan berkata "Mau balikin anaknya." "Oh ya? Hayuk segera!" "Hah?! Kok malah seneng? Ku pikir kamu bakal sedih." Saya menggeleng dan menjawab dengan semangat. "Iya, kan disana lagi banyak duren, rambutan, manggis." Sambil menangkupkan kedua tangan di dada lengkap dengan ekspresi dreamy plus memejamkan mata. Ketika buka mata, tampaklah ekspresi suami yang shock berat. Dear, sorry to say. Tapi aku udah lulus tes bullying dari pasukan bulliers elit didikan CIA sejak 5 tahun lalu. Jangan sedih, silakan coba lagi! Efek liat duren, rambutan, manggis, duku, daaaaaan sepupu-sepu...

COMEL IN MEMORIAM: PELAJARAN TENTANG TANGGUNG JAWAB

Malam tepat dua minggu yang lalu, sekitar jam 21.15 saya sampai di kontrakan sepulang piket siang. Hujan baru saja reda. Menyisakan hawa dingin, tempias dari genteng, dan jalanan yang becek. Setelah mematikan mesin motor, saya merapikan jas hujan yang tadinya hanya dilipat sembarangan. Lalu samar-samar terdengar eongan kucing. Terus menerus tanpa henti. Dari suaranya, sepertinya anak kucing. Khawatir jatuh atau terperangkap dimana, saya membuka pintu dan mengucap salam. Lalu tanpa ba-bi-bu mengajak suami keluar. "Ada suara anak kucing, takutnya mereka kejebak atau gimana. Habis hujan gini. Bawa senter ya?" Suami yang masih bergelut dengan tesisnya segera bangkit. Entah karena jiwanya yangbteramat baik atau tak mau menghadapi resiko diambuli pecinta kucing yang sedang hamil 😅 Kamipun berjalan ke arah suara itu terdengar. Ternyata datang dari rumah kosong yang berjarak tiga rumah dari kontrakan kami. Tepatnya, di atas loteng. Disana, seekor anak kucing berwarna...

TENTANG PENYAKIT 'AIN

TENTANG PENYAKIT 'AIN Pagi ini membaca berita tentang seorang artis yang kehilangan satu dari dua janin kembar dalam kandungannya. Turut berduka dan entah mengapa saya langsung berpikir tentang penyakit 'ain. Mungkin karena saya membaca judul artikel tentang si artis yang melakukan maternity photoshot sekitar seminggu yang lalu. Tidak membuka linknya, hanya sekilas saja. Dan sempat kagum dengan perutnya yang sudah membuncit. Apakah karena itu? Astaghfirullah.. Penyakit 'ain sendiri secara bahasa diambil dari 'ain-yainu yang berarti pandangan mata. Sedangkan secara istilah merupakan penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata, tak hanya itu hati dan dengki, tetapi juga karena kagum. Baik disertai maksud buruk di hati ataupun tidak. Yang paling sering terkena adalah balita dan anak-anak, karena mereka belum mampu membentengi diri dengan amalan-amalan yang dianjurkan. Tetapi tak menutup kemungkinan menyerang orang dewasa dan ibu hamil. Cirinya bagaimana? Biasanya ...

SUAMIKU BAU ROKOK

Kemarin malam, saya belum lagi terlelap ketika suami masuk kamar sepulangnya dari pertemuan bapak-bapak kompleks. Ketika mendekat, saya refleks menjauh karena suami bau rokok. Samar, tapi hidung saya terlanjur sensitif. "Tadi bapak-bapak sambil ngerokok ya disana?" Tanya saya. "Iya, hampir semua." Suami tak merokok. Itu adalah salah satu hal yang paling saya syukuri. Meskipun demikian berada di dekat belasan perokok dalam waktu 1,5 jam membuatnya mau tak mau membawa pulang oleh-oleh bau khas asap rokok. Dan mungkin racun-racun yang menempel di bajunya. Seketika saya terhenyak. Ya, sekian lama tinggal di Solo baru semalam saya merasakan bau rokok yang begitu menyengat. Disini tentu saja perokok banyak, tetapi bisa saya hindari. Rute hidup kontrakan--tukang sayur-kontrakan-gazebo-kontrakan dan sesekali keluar rumah membuat saya nyaris terbebas dari asap tak menyenangkan itu. Ah, sungguh. Menghirup udara bersih setiap saat adalah salah satu nikmat yang patut saya...

Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi: Sebuah Catatan

"Pernah nonton film 'Up' nggak?" Tanya saya pada suami sesaat setelah kami keluar bioskop. "Yang mana?" Tanyanya balik. "Film animasi yang kakek-kakek bawa rumahnya terbang pake balon." "Ah, yang itu. Kenapa?" "Nonton itu aja aku nangis loh, apalagi yang beginian.." Entah ada apa dengan film keluarga, tapi sedari dulu selalu bisa membuat kelenjar lakrimalis bekerja lebih berat. Uhuks.. Film 'Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi' sudah mencuri perhatian saya semenjak seminggu yang lalu. Thanks to review dari orang-orang keren yang berseliweran di timeline. Untuk saya pribadi, film ini insya Allah akan memorable. Kisahnya membumi, nyata, dan memang banyak terjadi. Tak tertutup kemungkinan saya pun bisa mengalaminya kelak, tapi semoga tidak. Untuk itu saya ingin menuliskan poin-poin yang sebisa mungkin saya hindari negatifnya dan ikuti positifnya. 1. Tentang masa lalu 'Setiap orang memiliki kesalahan. Dan hanya orang bija...

Orangtua Yang Tak Dewasa

"Adik asuh itu bukan milik pribadi, tetapi tanggung jawab bersama. Jadi silakan mengingatkan jika memang ada yang salah. Dan adik-adik juga tidak boleh hanya patuh pada Kakak asuhnya saja." Ini teguran sahabat saya dulu waktu kami jadi panitia Masa Orientasi Siswa dulu. Ada gesekan di antara kami ketika rekan OSIS lain dianggap 'terlalu ikut campur' pada kelompok adik asuh yang bukan adik asuhnya. Qadarullah, beliau menjadi seorang guru sekarang. Barakallah.. Adalah rasa memiliki atau mungkin ego yang saya rasakan saat itu. Bahwa adik asuh saya yang terbaik, mereka disiplin dan patuh, sehingga rekan lain tidak boleh seenaknya memarahi atau menghukum. Yang paling tahu mereka kan saya. Padahal, interaksi hanya di kelas saja. Dan hanya beberapa saat saja. Siapa yang bisa menjamin perilaku mereka saat tak berada di pengawasan saya? Mungkin kesalahan ini yang dimiliki orang tua jaman now. Terlalu sayang, rasa memilikinya besar, dan merasa tahu segala. Sehingga tak ada...

TENTANG KRITERIA JODOH

"Mbak, apa aku salah nolak orang karena dia kerja di tempat yang jelas-jelas penuh riba?" Satu pesan WhatsApp masuk di suatu malam. Dengan semangat saya mengetik.. "Nggak." "Aku mendukungmu 100%. And I'm proud of you." Kalimat itu bukan sekedar lip service. Sungguh, saya bangga padanya. Tidak mudah menjadi seorang gadis berusia diatas 25 tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan didatangi jodoh. Sekalinya ada yang mendekat, harus direlakan karena masalah prinsip yang untuk sebagian orang adalah hal tak penting. Apalagi jika tinggal di lingkungan yang mana perempuan seumuran biasanya sudah punya 2-3 orang anak. Maka muncullah komentar-komentar macam: -Kamu sih terlalu pemilih, makanya jangan sombong-sombong jadi cewek. -Standarmu ketinggian, mana ada jaman sekarang orang yang begitu? -Inget umur, jangan keasikan sekolah en kerja. Dear.. dear.. Apa salahnya pemilih? Perempuan itu, pembalut yang sekali pakai aja masih milih-milih merk. Apala...