Skip to main content

MUSHAB BIN UMAIR

Kalau kamu menilai seseorang berdasarkan kata orang, sama saja dengan kamu nilai rasa makanan bekas kunyahan orang.

#someone

Jijik, adalah kata pertama yang muncul di kepala saya membaca kalimat ini. Tapi setelah direnungkan, memang benar begitu adanya. Kebenaran yang menjijikkan.

Karena begitulah adanya kebanyakan kita sekarang ini, tak terkecuali saya. Dengan mudahnya kita menilai seseorang berdasarkan katanya. Atau karena sepenggal kalimat yang diucapkan  padahal kita tidak tahu dalam keadaan emosi apa ia saat itu.

Hey, disini juga pasti ada yang pernah menyesali kata-katanya kan? Seandainya saya nggak ngomong gitu.

Ada banyak kesempatan, ketika akal sehat  kita tertutupi ketakutan, prasangka, ketidaktahuan, kemarahan. Jika kita  bukan diri kita sendiri saat itu, maka pantaskah kita lantas menghakimi orang lain?

Kecuali ketika dia memang konstan mengatakan dan melakukan hal demikian, maka lain soal.

Namun seburuk-buruk manusia, pasti masih ada baiknya. Yang kadang kita (tidak mau) tahu. Jika ada titik hitam maka itu saja yang terlihat, sedangkan kertas putih tempat titik itu jatuh dipandang tak berharga.

Apalagi jaman medsos saat ini. Keberadaan media-media mainstream juga tidak banyak membantu. Karena masing-masing punya sisi yang harus dibela. Kadang informasi akun-akun pribadi jauh lebih bisa dipercaya.

Dan jika ada yang hilang dari mata rantai itu, ialah tabayyun. Atau cek dan ricek. Benarkah dia seperti yang dituduhkan?

Adalah Mushab Bin Umair, Duta Islam pertama yang diutus Rasulullah mengajarkan saya indahnya ketenangan hati saat disangkai buruk.

Mushab diutus untuk mengajarkan Islam pada Bani. Karena kesantunannya, maka tak perlu waktu lama untuk penduduk disana berbondong-bondong masuk Islam.

Kondisi yang membuat geram pemimpin suku yang bernama Hudayr. Ia mendatangi Mushab di sambil membawa tombak dan mengancam akan membunuhnya.

Namun Mushab dengan tenangnya berkata "Duduklah dulu wahai saudaraku, dan dengarkan. Jika nanti setelah mendengar kau tetap tak menyukai, maka aku akan pergi."

Hudayr, meskipun diamuk amarah ternyata masih berpegang pada akal sehat. Maka ia letakkan tombaknya dan duduk di majlis Mushab. Ya? Apa ruginya? Hanya sekian menit dan dia akan mendengar dan menilai sendiri, apakah yang dilaporkan oleh orang-orang itu benar?

Maha Suci Allah yang melihat kebaikan dalam diri Hudayr, yang seketika itu menyatakan diri masuk Islam karena hatinya tersentuh. Ajaran ini jauh lebih mulia daripada yang diwariskan nenek moyangnya.

Sayangnya, kita tak sesabar Hudayr. Selalu tergesa mengetik. Berlomba memberi komentar. Bersemangat mengeshare berita terhangat meskipun belum tahu kebenarannya.

Mungkin itu juga mengapa kita mudah sekali terpecah. Karena ketergesaan, karena kesombongan. Mengakui jika kebenaran orang lain adalah kebohongan karena tak sama dengan kebenaran kita sendiri.

Atau lebih parah lagi, karena orang lain memang lebih baik dari diri kita sendiri.

Comments