Skip to main content

SUAMIKU BAU ROKOK

Kemarin malam, saya belum lagi terlelap ketika suami masuk kamar sepulangnya dari pertemuan bapak-bapak kompleks.

Ketika mendekat, saya refleks menjauh karena suami bau rokok. Samar, tapi hidung saya terlanjur sensitif.

"Tadi bapak-bapak sambil ngerokok ya disana?" Tanya saya.
"Iya, hampir semua."

Suami tak merokok. Itu adalah salah satu hal yang paling saya syukuri. Meskipun demikian berada di dekat belasan perokok dalam waktu 1,5 jam membuatnya mau tak mau membawa pulang oleh-oleh bau khas asap rokok. Dan mungkin racun-racun yang menempel di bajunya.

Seketika saya terhenyak. Ya, sekian lama tinggal di Solo baru semalam saya merasakan bau rokok yang begitu menyengat. Disini tentu saja perokok banyak, tetapi bisa saya hindari. Rute hidup kontrakan--tukang sayur-kontrakan-gazebo-kontrakan dan sesekali keluar rumah membuat saya nyaris terbebas dari asap tak menyenangkan itu.

Ah, sungguh. Menghirup udara bersih setiap saat adalah salah satu nikmat yang patut saya syukuri. Meskipun kenyataannya sering saya lupa lakukan 😔

Betapa banyak diluar sana perempuan yang jangankan sedang hamil, sudah punya bayi pun suami masih merokok di dekatnya. Lalu esok lusa, ia sendiri ke klinik. Membawa bayi yang batuk pilek.

Diberi obat juga nasehat. Jauhkan si bayi dari perokok. Kalau sudah merokok ganti baju dulu sebelum menyentuh bayi. Si bayi sembuh, untuk kemudian dibawa berobat lagi bulan depan. Makin lama makin sesak. Obat batuk biasa tak mempan maka masuklah antibiotik. Antibiotik lini pertama sudah tak ada perbaikan maju lagi generasi yang lebih canggih.

Ketika ditanya, apa bapak si bayi masih merokok? Kebanyakan ibu hanya tertunduk atau tersenyum pasrah. Ada yang berkata lirih "Sudah diluar rumah Bu, ngerokoknya."

Tetap aja Bu, selama masih ada perokok aktif di rumah jangan cepat-cepat berharap batuk dan sesak anak akan sembuh. Karena bukan hanya asapnya, racun-racun yang menempel di baju perokok juga tak kalah berbahaya.

Ya sudahlah, kewajiban petugas kesehatan hanya memberi saran. Yang sangat diharapkan untuk dilakukan. Tapi semua kembali pada pilihan hidup masing-masing keluarga.

Namun sebagai istri dan ibu, bolehlah saya berdoa dan berharap. Esok lusa akan banyak istri dan ibu yang juga lebih bersyukur. Karena suami tercinta, lebih mencintai dia dan anak-anak daripada batang-batang rokok.

Comments