Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2016

More than words

"Ini titip buat yang kecil-kecil. Aku inget kemaren Kak Pioq bilang cucunya suka sekali jelly. Tapi gimana mau nyari cepet-cepet orang baru bilang malem besoknya berangkat. Bawa juga ini kripik singkong yang udah dibungkus. Mamiq suka sekali. Pas kita ke Bedugul kemaren nyemil itu terus." Petuah bibi pas mau balik ke Lombok. Ritual khususnya, sore hari sebelum balik kita pergi ke Jl. Tukad Badung buat beli oleh-oleh. Lalu dibungkus en diingetin yang ini buat siapa yang ono buat si itu. Pas mau balik ke Denpasar gitu juga. Ibuq en bibi-bibi bakal nanya, "Bik Dijah pesen apa?" Kalo pesen kopi bakal disiangin, kalo pesen terasi dicariin yang paling enak. Lalu malem sebelum berangkat biasanya dua orang bibi bakal datang bawa tas belanjaan. Isinya full kayak orang baru pulang dari pasar. Ada tomat, kacang tanah, bawang putih, bawang merah, kadang ada juga tahu sama kangkung. Padahal, Bik Dijah bisa beli semua itu di Pasar Sanglah. Tapi alasan para bibi adalah "P...

Mess

This noon, when I passed by the masjid monument at Jalan Lingkar an epiphany hit me. The roads were under construction for months now. Yeah, some part still bit rocky but we have no difficulty to ride on it. So far, I'm in awe. My little island is growing up *wiping imaginary tears. Back to the epiphany. I saw that the road almost finished. But the mess is also everywhere. Yep, I want to tell about the mess. The mess is an evidence that there's something happened. A moving thing. A progress. For better or worse, but nothing stagnant. If you want to make a new road, built a house, the mess will absolutely there. Before everything finished and will be clean up after that. And taraaaaa! You got a new road. A polished house. That was it. To get something new, don't be afraid to face some mess. For it will follow a process. You can clean it, but sometimes you don't have enough time. Because compared to exceed the process, it was a small thing. Because it's not a prior...

Danau Buyan

Bermandi cahaya bulan separuh bulat Api unggun menjilat-jilat Bintang tampak seribu kali lebih dekat Namun, awan stratus menyebar pekat Diri sempurna berserah pada Yang Maha Ku at Meski masih tertatih taat Meski dosa hitam melekat

Lembar-Padang Bai

For the umpteenth times, I cross Selat Lombok. To travel with Janah, to get my transkrip, to give some presents, to say hi, and to mend my broken heart. Yeah, I admitted it. In one way or another, I was broken heart. I feel unworthy, feel betrayed. In that time, I tried to see it in a new light. Telling myself it was nothing. But no, the darkness is more powerful than my weak light. Honestly, till 48 hour ago I still reluctant to go. Feeling it's not time yet. A new negative feeling made it way to my heart. Unwanted. Discarded. What's else? But something happened. I finally realized that it was life. Never fair in our my. But people came and go. Nothing forever. The forever one is the change itself. Yeah, I can be the flavour of the month. But so do someone else. I chose this way. I chose to go. And I can't force people to stay their way meanwhile I myself change. Yes there are the loss, the warm, the distance. But nothing I can do except nursing the loss till it bearabl...

Bossy

Yesterday, I went to pick up Indi from her school. We will go to Narmada and according to mom, there will be no people in the house to accompany her. Where to eat and everything? When the truth are the will be mamiq there and mom can't bear the guilty feeling if she dramatically cry because she can't go with us. Narmada is everybody's favourite anyway. So I went. Feel nervous to face her teacher and some curious glances from her friends. But after said salam, everything when easy. Too easy in fact her teacher opened the door before I can politely knock. No need to fabricate the reason too. I've got the permit with flying colors. "I brought my bike", she said without preamble. We even barely left her class. "Of course you are", I replied along with a chuckled. Well I can't have her and her bike sit in harmony on the back of motorcycle right? Then she rushed to her bike. The next thing I know she paddled it with great amount of excitement. I ju...

Pepatah

Tak ada asap jika tak ada api. Terjemahan bebasnya: ada akibat, pasti ada sebabnya. Kadangkala, aku benci mengakui kalau orang tua itu (seringkali) selalu benar. Mungkin ini maksud ungkapan itu: percayalah apa yang dikatakan orang tua, bukan karena mereka selalu benar, namun karena mereka memiliki lebih banyak pengalaman berbuat salah. Karenanya mereka juga bisa belajar lebih banyak. Buktinya tercipta sekian pepatah yang jika direnungkan mengandung arti begitu dalam. Seperti kalimat pertamaku. Aku bersyukur bisa paham artinya. Meskipun harus m engalami pedih terlebih dahulu. Ya, aku akhirnya sadar. Apapun yang orang sangkakan padaku, berawal dari apa yang ku lakukan. Baiklah, mungkin ada rumor yang tersiar. Namun tingkahku juga tak banyak membantu meredamnya. Bahkan membuatnya semakin merebak. Terlebih mungkin aku tak cukup berusaha untuk mengklarifikasinya. Belum lagi jika dihitung kenaifanku. Percaya bahwa setiap orang bisa menilai yang terbaik dari orang lain. Nyatanya, orang-or...

Scene 2: Mimpi

Suara azan sudah berkumandang 15 menit yang lalu. Dingin subuh menyesap di kaki dan tanganku.  Ku tarik lagi selimutku, memastikan tak ada badan yang tak tertutupi selain wajah. Hmmm.. hangat. Di kamar sebelah, terdengar krasak krusuk paman-paman dan sepupu-sepupu yang menginap sejak kemarin. Mereka beranjak mengambil air wudhu. Sayup-sayup suara mereka masih terdengar. Namun tak lama kemudian semakin menghilang hingga hening yang tersisa. Rupanya aku tertidur. Entahlah sudah berapa lama sejak janji 'lima menit lagi mumpung orang-orang masih pake kamar mandi' berlalu. Aku terlonjak bangun. Belum sholat subuh. Ketika aku keluar rumah, hanya mengenakan baju tidur Hello Kitty berwarna hijau buluk. Aku ternganga melihat matahari yang sudah terbit. Udara sudah hangat bahkan cenderung panas. Tuhan, apa yang aku lakukan. Subuhku tertinggal karena tidur! Napasku memburu, jantungku berdetak keras seperti akan keluar dari rongganya. Masalahku bukan hanya meninggalkan subuh, tapi terny...

Scene 1: Memori

"Coba yang ini", ia menunjukkan sandal berwarna ungu. Berlian-berlian plastik menghiasi pinggiran tali-talinya yang jumlahnya memenuhi syarat untuk membuat simpul terumit di pramuka. Dahiku mengernyit. Ni anak minta ditimpuk apa? Sambil melotot aku berkata ,"Iyuh, emang gue emak-emak?!" Dan tawanya meledak. Kadang ku pikir salah satu resolusi hidupnya adalah melihat hidupku menderita. Kami sudah setengah jam (Tuhan, jadwal tidur siangku berkurang drastis!) berkeliling di toko sepatu yang disebutnya sebagai 'yang terlengkap di kecamatan kecil kami'. Tujuan: mencari ganti sandalku yang putus. Namun sayang, meski sebutannya menjanjikan belum satupun ada yang cocok dengan hati dan kakiku. Ckckckck.. sandal jaman sekarang. Sepertinya semua pabrik sandal karyawannya adalah ibu-ibu arisan yang terobsesi hidup mewah namun minim modal. Jadi diputuskanlah memakai bahan kawe nomor 10 untuk aksesoris. Oh ya kenapa tadi putus? Aku mengelus dada lagi. Cowok resek yang ...

Brother dear

Last night, I've been laugh and laugh and laugh till my throat dry. Need some water. I changed my profile picture on BBM with a pretty girl in pink saree. I always want one since I saw Preitty Zinta in lime saree when I'm still in an elementary school. So long and till now I'm not having it, yet. For more dramatic effect, I added a status 'Pengen, araq ndeq te dagang liq Naq Tuan?' Comments come from Usi and the hilarious one come from Hilmi. And for the next thirty minutes we engaged in a 'dialog' between Tapasha and her father from Uttaran series. The series we both despised long past. Jesting is one thing but found someone to do it together is a different thing. For entire my life I always find that sometimes, I enjoying befriends boys than girl. For they are more fun and easy going. I even adopted them as a brothers dear I never have. Like Hilmi. And later when I watch Veera series, and watch scene when a girl ask her friend how she looked like in he...

Soulmate

Ketika mendengar seseorang yang sering memberi tausiyah atau motivasi, sebuah pertanyaan sering terbersit dalam hati. 'Bagaimana bisa mereka menyusun kalimat-kalimat seindah itu?'. Cerita-cerita sepelepun, bisa jadi begitu menggugah di tangan mereka. Namun meski demikian, tak sedikit juga orang yang tak menyukai hal tersebut. Lalu muncullah pertanyaan berikutnya, 'Bagaimana bisa?' Yang katanya motivator top pun sampai dibuatkan meme, 'Hidup ini nggak seindah ucapannya Mario Teguh.' Sebaliknya, seorang teman hampir selalu memakai depe dari official akun milik beliau. She's worship the ground he walk on. Lalu ada lagi Salim A. Fillah. Dimana selama kajiannya saya ternganga karena mendengar kalimatnya yang mengalir tak putus-putus, tanpa teks atau media presentasi. Hanya dari pengetahuannya yang Masya Allah sangat luas. Namun begitupun, seorang teman pernah berujar, "Saya nggak cocok dengan buku-buku Salim Pieq, terlalu puitis. Saya lebih condong dengan ...