Skip to main content

Scene 1: Memori

"Coba yang ini", ia menunjukkan sandal berwarna ungu. Berlian-berlian plastik menghiasi pinggiran tali-talinya yang jumlahnya memenuhi syarat untuk membuat simpul terumit di pramuka. Dahiku mengernyit. Ni anak minta ditimpuk apa?

Sambil melotot aku berkata ,"Iyuh, emang gue emak-emak?!"

Dan tawanya meledak. Kadang ku pikir salah satu resolusi hidupnya adalah melihat hidupku menderita. Kami sudah setengah jam (Tuhan, jadwal tidur siangku berkurang drastis!) berkeliling di toko sepatu yang disebutnya sebagai 'yang terlengkap di kecamatan kecil kami'. Tujuan: mencari ganti sandalku yang putus. Namun sayang, meski sebutannya menjanjikan belum satupun ada yang cocok dengan hati dan kakiku. Ckckckck.. sandal jaman sekarang. Sepertinya semua pabrik sandal karyawannya adalah ibu-ibu arisan yang terobsesi hidup mewah namun minim modal. Jadi diputuskanlah memakai bahan kawe nomor 10 untuk aksesoris.

Oh ya kenapa tadi putus? Aku mengelus dada lagi. Cowok resek yang sekarang sok baik ini tadi meminjam sandal kelinci kuningku pas jam sholat. Lalu 'tidak sengaja' membuat talinya terlepas (dan tidak gisa disambung lagi karena lubangnya menganga), saat dia dan teman-teman kelasku yang kurang kerjaan itu maen futsal di sawah belakang sekolah. Ngapain juga mereka ga pake sepatu? Oh ya, baru selesai sholat. Tapi ok bisa hanya sandalku yang putus? Baru tiga tahun dipakai juga.

"Woi, jangan bengong. Jadi mau nyari sandal nggak?" Ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Seketika aku berkedip.

"Iya jadi." Aku keki.

"Makanya cari, masak satu aja nggak ada yang cocok?" Ujarnya sambil menuju rak display selanjutnya. Kemudian melihat-lihat sandal yang ada disana. Memilih, mengambil, memperhatikan, lalu menaruhnya kembali. Sampai disini aku mikir, yang butuh sandal aku atau dia sih? Hoaaam.. oh tidur siangku yang berharga. Apa salahmu mengapa harus dikorbankan? Langkahku terhenti karena terantuk kursi. Oh thanks God, tak menunda aku duduk. Bayangkan betapa lelah kakiku menyusuri toko ini.

"Nih coba." Tanganku yang memijit betis terhenti. Kepalaku mendongak melihat sandal yang ia sodorkan. Sandal coklat tua dengan satu gasper tebal. Berbahan kulit imitasi namun tidak terkesan kampungan. Agak mirip sandal cowok dan simpel. Sesuai seleraku. Baru mau ku ambil, mataku terbelalak. Seketika aku berdiri dan berkacak pinggang.

"Maksudnya apa? Itu ukurannya kecil banget!" Tunjukku kesal. Padahal sandalnya bagus.

"Coba." Tangannya masih tak bergeming menyodorkan sandal itu.

"Kecil, mana muat. Ini penghinaan!" Aku ngotot.

"Coba dulu." Katanya lagi sambil tersenyum. Oh, aku benci senyum itu. Senyum yang menandakan ia tahu sesuatu sementara aku tidak. Sambil memastikan ia melihat aku menghentakkan kaki, lalu ku ambil sandal itu darinya dan kembali duduk. Ku lepaskan sandal yang bertuliskan 'Musholla SMA'. Sambil bersungut-sungut mencoba sandal coklat itu.

"Tu kan! Udah dibilang! Ga mu.." kalimatku terpotong ketika seluruh kakiku kananku masuk di sandal itu. Tak percaya, ku lihat ujung jari dan tumitku. Ku ulangi berkali-kali. Nihil. Tidak ada satu bagianpun yang keluar dari sandal. Ku dengar dari samping ia terkikik. Aku melotot lagi. Dia terbatuk menyembunyikan tawa.

"Diam!"

Dia terlampau mengerti untuk tak melanjutkan. Berdehem beberapa kali dan berhenti tertawa. Walapun aku masih bisa melihat ia mengusap airmata dan memegangi perutnya

Dengan berat hati ku coba lagi sandal kiri. Memang pas. Tak mau membuatnya puas aku segera melepasnya dan memakai lagi sandal musholla. Lalu memasang senyum paling manis aku menyodorkan sandal itu dan berkata, "Nih, bayar!"

Akan jauh lebih senang jika ia merengut dan menolak. Tapi aku lupa betapa gentlemannya dia. Belum lagi ditambah betapa pandai aku memainkan guilty card. Tanpa kata disambarnya sandal itu dari tanganku. Tentu saja ia harus mengolokku dengan membungkukkan punggungnya bak pangeran kesiangan sebelum berjalan ke kasir. Aku hanya memutar bola mata melihat ulahnya.

Begitu Mbak Kasir selesai menscan belanjaan kami dan menaruh sandal  di kotak yang disediakan, ku lepaskan sandal yang kupakai dan dengan tenang menukarnya dengan yang baru dibayar. Semua dengan kotak masih di atas etalase kasir. Kemudian aku berkata padanya "Tengkiyu. Balikkin ke sekolah ya?"

Setelah itu aku berjalan riang keluar toko. Berhenti sebentar dan berbalik menjulurkan lidah padanya. Childish okay, so what? Ia hanya menggeleng dan si Mbak tampak berusaha keras menampilkan wajah polos.

Well, setidaknya kali ini aku bisa menjauh darinya dengan kepala tegak.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...