"Coba yang ini", ia menunjukkan sandal berwarna ungu. Berlian-berlian plastik menghiasi pinggiran tali-talinya yang jumlahnya memenuhi syarat untuk membuat simpul terumit di pramuka. Dahiku mengernyit. Ni anak minta ditimpuk apa?
Sambil melotot aku berkata ,"Iyuh, emang gue emak-emak?!"
Dan tawanya meledak. Kadang ku pikir salah satu resolusi hidupnya adalah melihat hidupku menderita. Kami sudah setengah jam (Tuhan, jadwal tidur siangku berkurang drastis!) berkeliling di toko sepatu yang disebutnya sebagai 'yang terlengkap di kecamatan kecil kami'. Tujuan: mencari ganti sandalku yang putus. Namun sayang, meski sebutannya menjanjikan belum satupun ada yang cocok dengan hati dan kakiku. Ckckckck.. sandal jaman sekarang. Sepertinya semua pabrik sandal karyawannya adalah ibu-ibu arisan yang terobsesi hidup mewah namun minim modal. Jadi diputuskanlah memakai bahan kawe nomor 10 untuk aksesoris.
Oh ya kenapa tadi putus? Aku mengelus dada lagi. Cowok resek yang sekarang sok baik ini tadi meminjam sandal kelinci kuningku pas jam sholat. Lalu 'tidak sengaja' membuat talinya terlepas (dan tidak gisa disambung lagi karena lubangnya menganga), saat dia dan teman-teman kelasku yang kurang kerjaan itu maen futsal di sawah belakang sekolah. Ngapain juga mereka ga pake sepatu? Oh ya, baru selesai sholat. Tapi ok bisa hanya sandalku yang putus? Baru tiga tahun dipakai juga.
"Woi, jangan bengong. Jadi mau nyari sandal nggak?" Ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Seketika aku berkedip.
"Iya jadi." Aku keki.
"Makanya cari, masak satu aja nggak ada yang cocok?" Ujarnya sambil menuju rak display selanjutnya. Kemudian melihat-lihat sandal yang ada disana. Memilih, mengambil, memperhatikan, lalu menaruhnya kembali. Sampai disini aku mikir, yang butuh sandal aku atau dia sih? Hoaaam.. oh tidur siangku yang berharga. Apa salahmu mengapa harus dikorbankan? Langkahku terhenti karena terantuk kursi. Oh thanks God, tak menunda aku duduk. Bayangkan betapa lelah kakiku menyusuri toko ini.
"Nih coba." Tanganku yang memijit betis terhenti. Kepalaku mendongak melihat sandal yang ia sodorkan. Sandal coklat tua dengan satu gasper tebal. Berbahan kulit imitasi namun tidak terkesan kampungan. Agak mirip sandal cowok dan simpel. Sesuai seleraku. Baru mau ku ambil, mataku terbelalak. Seketika aku berdiri dan berkacak pinggang.
"Maksudnya apa? Itu ukurannya kecil banget!" Tunjukku kesal. Padahal sandalnya bagus.
"Coba." Tangannya masih tak bergeming menyodorkan sandal itu.
"Kecil, mana muat. Ini penghinaan!" Aku ngotot.
"Coba dulu." Katanya lagi sambil tersenyum. Oh, aku benci senyum itu. Senyum yang menandakan ia tahu sesuatu sementara aku tidak. Sambil memastikan ia melihat aku menghentakkan kaki, lalu ku ambil sandal itu darinya dan kembali duduk. Ku lepaskan sandal yang bertuliskan 'Musholla SMA'. Sambil bersungut-sungut mencoba sandal coklat itu.
"Tu kan! Udah dibilang! Ga mu.." kalimatku terpotong ketika seluruh kakiku kananku masuk di sandal itu. Tak percaya, ku lihat ujung jari dan tumitku. Ku ulangi berkali-kali. Nihil. Tidak ada satu bagianpun yang keluar dari sandal. Ku dengar dari samping ia terkikik. Aku melotot lagi. Dia terbatuk menyembunyikan tawa.
"Diam!"
Dia terlampau mengerti untuk tak melanjutkan. Berdehem beberapa kali dan berhenti tertawa. Walapun aku masih bisa melihat ia mengusap airmata dan memegangi perutnya
Dengan berat hati ku coba lagi sandal kiri. Memang pas. Tak mau membuatnya puas aku segera melepasnya dan memakai lagi sandal musholla. Lalu memasang senyum paling manis aku menyodorkan sandal itu dan berkata, "Nih, bayar!"
Akan jauh lebih senang jika ia merengut dan menolak. Tapi aku lupa betapa gentlemannya dia. Belum lagi ditambah betapa pandai aku memainkan guilty card. Tanpa kata disambarnya sandal itu dari tanganku. Tentu saja ia harus mengolokku dengan membungkukkan punggungnya bak pangeran kesiangan sebelum berjalan ke kasir. Aku hanya memutar bola mata melihat ulahnya.
Begitu Mbak Kasir selesai menscan belanjaan kami dan menaruh sandal di kotak yang disediakan, ku lepaskan sandal yang kupakai dan dengan tenang menukarnya dengan yang baru dibayar. Semua dengan kotak masih di atas etalase kasir. Kemudian aku berkata padanya "Tengkiyu. Balikkin ke sekolah ya?"
Setelah itu aku berjalan riang keluar toko. Berhenti sebentar dan berbalik menjulurkan lidah padanya. Childish okay, so what? Ia hanya menggeleng dan si Mbak tampak berusaha keras menampilkan wajah polos.
Well, setidaknya kali ini aku bisa menjauh darinya dengan kepala tegak.
Comments
Post a Comment