"Yaa Allah, pantesan! Coba liat Bik." Saya menunjukkan pantat Fayyadh pada Bik Janah. Di beberapa titik kulit sekitar anusnya bukan lagi merah muda karena radang, tapi sudah merah tua karena luka. "Pantas selama ini kalo pipis atau pup dia nangis banget", jawab Bik Janah. Yaa Rabb, seketika saya lemas. Dan mulai menyalahkan diri. Ibu macam apa tak tahu anaknya ruam popok? Waktu itu Fayyadh belum genap 10 hari. Sebelumnya dia memakai popok kain bertali dua yang sehari saja cuciannya mencapai dua ember. Tetapi tiga hari ke belakang kami memutuskan untuk memakaikan popok sekali pakai (pospak) karena akan ada acara di rumah selama dua hari. Tidak ada tempat menjemur pakaian dan tentu saja lebih praktis, begitu pertimbangannya. Tetapi yang terjadi, sungguh diluar dugaan. Baru tiga hari dan ruamnya sudah separah itu. Seketika kami hentikan pemakaian pospak dan tisu basah lalu kembali pada popok kain. Tak lupa mengoleskan krim ruam popok tiap selesai membersihkan pipi...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.