"Bu guru, Fayyadh kenapa?" Kak Seni, tetangga kami yang baik hati itu datang malam-malam mengetuk pintu.
Sudah tiga malam menjelang Magrib Fayyadh menangis terus. Lalu bisa tertidur diatas jam 9 karena kelelahan. Dikasi nen menolak, cek diaper masih kering, semut segala macam nggak ada yang nempel di badan, baju standar dari kemarin-kemarin. Pokoknya kami bingung dan stres.
Belakangan rupanya Kak Aeni mengaku agak khawatir jika Fayyadh sering nangis nggak berhenti. Karena biasanya setelah itu kami akan digoyang gempa yang lumayan besar. Terus selesai gempa dia akan tidur dengan nyenyaknya.
"Kecil-kecil sudah dianggap cenayang," kata Abahnya 😅😅😅
Konon hewan-hewan bisa 'mendeteksi' jika akan terjadi bencana alam. Sehingga mereka akan mencari tempat yang lebih aman. Bagaimana dengan bayi? Wallahu'alam.
Psikologis penduduk Lombok saat-saat itu memang dipenuhi ketakutan dan was-was. Tubuh selalu dalam keadaan 'fight or flight' sehingga kadae hormon stres tetap tinggi. Dan bisa saja tertransfer lewat ASI.
Maka, jika seorang ibu stres biasanya bayi akan semakin rewel. Ibu tambah panik, anak nangis makin kencang. Lingkaran setan yang hanya bisa diputuskan oleh ibu dengan menenangkan diri terlebih dahulu.
Alhamdulillah, Insya Allah rentetan gempa sudah berlalu. Psikologis kami juga sudah lebih tenang. Tetapi dalam beberapa keadaan Fayyadh masih sering rewel menjelang Maghrib dan berlangsung beberapa hari.
Membuat saya bertanya-tanya apakah dia sedang kolik. Apa itu kolik?
Kata kolik digunakan untuk menggambarkan keadaan bayi sehat yang menangis kencang tanpa sebab dan sulit dikendalikan (Nutriclub, 2018).
Bisa jadi itu kolik jika bayi menangis selama tiga jam atau lebih, dalam tiga hari berturut-turut, dan terjadi selama tiga pekan atau lebih.
Gejala lainnya adalah wajah bayi memerah, badan melengkung ke dalam, kaki ditekuk ke arah perut, dan perut teraba agak keras.
Apa penyebabnya? Belum pasti. Sebagian ilmuwan menyatakan karena masalah pada sistem pencernaan yang perkembangannya belum sempurna, tidak seimbangnya 'bakteri baik dan jahat', kebanyakan gas dalam perut, sampai ketidakmampuan bayi mencerna protein di susu sapi.
Ada juga yang menyatakan bahwa kolik terjadi murni karena bayi yang sensitif. Jadi ketika malam sudah tiba ia tidak bisa lagi menerima stimulus berlebihan seperti cahaya lampu, suara-suara, juga perubahan suhu. Jadilah ia rewel dan menangis.
Lalu apakah berbahaya? Untungnya tidak. Kecuali jika disertai badan lemas, demam, sesak, mual muntah, diare, apalagi kejang.
Kolik pada umumnya akan hilang pada waktu bayi berumur 4-5 bulan. Jadi yang sabar ya Mak 😉
Lalu untuk Fayyadh bagaimana? Well, sejak mencurigai ia terkena kolik (saya tak berani mengatakan itu pasti kolik, bukan wewenang euy!) saya menghentikan konsumsi segala produk susu. Jadi goodbye lah itu es krim, susu coklat, dan yogurt. Kalo susu kedelai masih oke.
Lalu saya lebih ingat lagi untuk sendawakan setelah selesai menyusui, lebih telaten lagi pijat ILU sebelum mandi, juga mengkombinasikannya dengan pijat untuk mengeluarkan gas.
Saat episode 'kemungkinan kolik' datang, sampai sekarang jujur saya masih sering stres. Tapi saya membatasi diri untuk menyalahkan diri sendiri. Karena itu sama sekali tak membantu.
Bayi tak berhenti menangis BUKAN salah orang tua. Kita sudah berusaha, meskipun mungkin caranya belum seperti yang dia inginkan.
Jadi jika sudah lelah dan hampir meledak, saya minta Fayyadh digendong orang lain. Atau saya letakkan di kasur dan bunyikan kerincingan. Di lain waktu saya coba pijit perutnya. Kadang berhasil, kadang tetap menangis.
Tapi terus mencoba. Mungkin sekarang belum, tapi lima menit kemudian siapa tahu. Yang jelas gendong dengan baik, silakan diayun tapi jangan digoncangkan, waspada Baby Shaken Sindrome (bisa gugling).
Bisa juga dengan menggulingkan botol berisi air hangat di perutnya (belum pernah saya coba), atau dibedong (pasti nggak berhasil sama Fayyadh 😂), atau ajak naik kendaraan, beberapa bayi bisa tenang dengan cara ini (termasuk Fayyadh).
Penyebab bayi menangis tak hanya itu, tapi masih banyak yang lain. Bayi sendiri yang akan mengajarkan kita cara mana yang dia sukai untuk ditenangkan. Tugas sebagai orang tua untuk mau mencoba dan tetap waras.
Karena mereka menangis bukan untuk menghukum atau dendam pada orang tuanya. Apalagi berarti kita bukan orang tua yang baik, samasekali tidak.
Seperti bayi yang belajar mengeksplore dunia, orang tua pun belajar menjadi orang tua tiap kali memiliki anak. Karena tiap anak itu unik, dan satu perlakuan belum tentu berhasil pada anak yang berbeda.
Comments
Post a Comment