Skip to main content

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut?

Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati.

Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati.

Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'.

Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah masih menginginkanku untuk belajar, belajar, dan belajar sebelum ia mewujudkannya. Karena menjadi seorang ibu adalah tanggung jawab yang sangat besar. Setara dengan kebahagiaan yang akan dirasakan.

Setelah menjadi ibu, entah secara refleks atau apa, seorang wanita akan menjadi selfless. Apapun yang ia lakukan, selalu mengutamakan anaknya terlebih dahulu. Heaven, ia yang dulunya tak ada hari terlewat tanpa merawat diri, sekarang tak mandi jika anaknya belum wangi. Bahkan dipanggil 'Ummi A' secara tak sadar akan membuat wajahnya bersinar. Light up no matter her mood before. Bahkan beberapa ibu yang ku temui menolak menulis nama gadisnya, dan bersikeras ditulis nama dengan 'Mama B'.

Alhamdulillah, aku masih bisa diberikan kesempatan memiliki ibu. Dan lebih dari sebulan ini aku bisa membantunya meski tak banyak. Hanya Allah yang tahu bagaimana buncahnya bahagia di hatiku hanya dengan bisa melihat ibuq bisa makan dengan lahap sepulang sekolah, meskipun masakanku masih jauh dari sempurna. Dan malam ini, ketika ia bilang 'nanti lama-lama bisa sih ngatur bumbu, udah pas takarannya' aku hanya menunduk. Padahal hatiku bersorak gembira. Alhamdulillah.

Ibuq. Tidur paling telat dan bangun paling pagi. Beberapa waktu yang lalu aku tergoda untuk menulis pertanyaan darimana ia, dan seluruh ibu lainnya di dunia ini, mendapat kemampuan dan kemauan untuk melakukannya? Hal-hal monoton dan tak pernah selesai, dengan penghargaan yang sangat kurang, setiap hari selama hidup mereka?

Dan malam ini aku mendapatkan jawabanku. Bukan, bukan mendapatkan. Tepatnya tersadar, aku mengalaminya. Ya, sebulan ini di rumah aku mengecap secuil pengalaman menjadi ibu rumah tangga. Bangun pagi, beres-beres, mencuci piring dan baju, ke pasar, memasak, menunggu anggota keluarga pulang, menyiapkan makan siang. Masya Allah, I feel content. Rasanya aku tak ingin keluar mencari pekerjaan dan melewatkan hari tanpa bisa memasak untuk orang tuaku. Hal-hal kecil seperti itu, masya Allah kenikmatan yang luarbiasa.

Entah kapan Allah memberiku kesempatan untuk memasak untuk keluarga kecilku sendiri. Sampai hari itu datang, aku akan belajar. Dan menikmati waktuku bersama keluarga. Yang aku tahu jika aku sudah berkeluarga nanti, kesempatan seperti ini akan bisa berkurang.

Jadi mulai sekarang, jika ada orang bertanya "Kamu kerja dimana?" I will held my head high and smile, then answered "Kerja sama Ibuq. Masakin dan cuciin piringnya." Hope they catch the humor :-D

Comments