Pagi ini ketika seorang teman curhat tentang kisah cintanya yang terancam putus, aku hanya bisa mendengarkan. Sambil mengelus lengannya. Berhati-hati bertanya dan memberi komentar. Bagaimana mungkin seorang yang tak pernah mengalami sesuatu hal akan bisa memahami? Mungkin bisa, tapi tak utuh. Pengalamanku dalam hal percintaan nyaris nol, jadi aku tak pantas jadi konsulen dalam hal itu. Aku hanya bisa mereka-reka, atau menghubungkan dengan konteks hubungan yang lain, dalam hal ini persahabatan. Tak satu dua teman yang bercerita tantang ini. Meski lebih banyak lagi yang menghindari topik ini bersamaku. Tanpa ingin membuat kepalaku terasa besar, mungkin saat curhat mereka tak melihatku sebagai seseorang yang mampu memberi solusi. But simply because I was there. Hanya aku yang ada disana ketika mereka butuh seseorang yang bisa mendengarkan. Dan itulah yang ku lakukan. Mendengarkan. Karena aku sendiri tak punya cerita untuk dibagikan, selain hampir memiliki cerita. Kebanyakan masalahnya ...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.