Pagi ini ketika seorang teman curhat tentang kisah cintanya yang terancam putus, aku hanya bisa mendengarkan. Sambil mengelus lengannya. Berhati-hati bertanya dan memberi komentar.
Bagaimana mungkin seorang yang tak pernah mengalami sesuatu hal akan bisa memahami? Mungkin bisa, tapi tak utuh. Pengalamanku dalam hal percintaan nyaris nol, jadi aku tak pantas jadi konsulen dalam hal itu. Aku hanya bisa mereka-reka, atau menghubungkan dengan konteks hubungan yang lain, dalam hal ini persahabatan.
Tak satu dua teman yang bercerita tantang ini. Meski lebih banyak lagi yang menghindari topik ini bersamaku. Tanpa ingin membuat kepalaku terasa besar, mungkin saat curhat mereka tak melihatku sebagai seseorang yang mampu memberi solusi. But simply because I was there. Hanya aku yang ada disana ketika mereka butuh seseorang yang bisa mendengarkan.
Dan itulah yang ku lakukan. Mendengarkan. Karena aku sendiri tak punya cerita untuk dibagikan, selain hampir memiliki cerita. Kebanyakan masalahnya adalah ketidakpastian, kurangnya komunikasi sehingga berujung kesalahanpahaman. Yang kemudian menyakiti satu atau kedua belah pihak.
Ketika menghadapi masalah seperti ini, kebanyakan dari perempuan akan menangis. Dan terlontarlah pernyataan: Ini terakhir kalinya aku menangis karena hal ini.
Kenyataannya, tak banyak dari kaum kami yang bisa menepati apa yang ia katakan. Terakhir kalinya berubah menjadi kedua, ketiga, dan seterusnya.
Menangis, walaupun bagi banyak orang dianggap cengeng, adalah outlet yang baik untuk menyalurkan perasaan. Perasaan negatif tak seharusnya dipendam, karena ia hanya akan mengambil banyak tempat di hati. Sehingga lama kelamaan akan menyesakkan. Menangis untukku pribadi memberikan kesempatan untuk bercermin, karena saat menangis kilasan-kilasan hal yang memenuhi hati dan pikiran itu akan hadir. Dan tak jarang aku bisa menemukan hal kecil yang justru bisa membalikkan pikiran, meski tak lantas langsung bisa menghentikan tangis yang terlanjur pecah.
Dan ya, beberapa hari ini aku sering menangis. Karena semua hal. Mungkin minggu ini minggu mellow. Entahlah, terkadang aku tak tahu menangis karena apa. Yang aku tahu dadaku lebih ringan setelah itu. Meskipun aura sensitif masih menetap berpuluh-puluh jam setelahnya, tapi aku yakin sesuatu itu sudah dekat. Pertolongan, atau apapun namanya.
Yang jelas, aku tak mau kembali ke masa-masa itu. Masa ketika aku bisa menemukan sesuatu yang hilang dengan menghinakan diri sendiri. Ketika hariku penuh dengan angan-angan kosong. Ketika aku mengacuhkan Rabbku dengan dalih keingintahuan. The times when I feel lonely, desperate, yet keep doing disgusting thing.
Menangis, ketika itu bisa menghantarkanku menemui aku yang lebih baik, maka tak ada istilah ini terakhir kalinya.
#Latepost
#Bangli
Comments
Post a Comment