Skip to main content

Ini terakhir kalinya aku menangis

Pagi ini ketika seorang teman curhat tentang kisah cintanya yang terancam putus, aku hanya bisa mendengarkan. Sambil mengelus lengannya. Berhati-hati bertanya dan memberi komentar.

Bagaimana mungkin seorang yang tak pernah mengalami sesuatu hal akan bisa memahami? Mungkin bisa, tapi tak utuh. Pengalamanku dalam hal percintaan nyaris nol, jadi aku tak pantas jadi konsulen dalam hal itu. Aku hanya bisa mereka-reka, atau menghubungkan dengan konteks hubungan yang lain, dalam hal ini persahabatan.

Tak satu dua teman yang bercerita tantang ini. Meski lebih banyak lagi yang menghindari topik ini bersamaku. Tanpa ingin membuat kepalaku terasa besar, mungkin saat curhat mereka tak melihatku sebagai seseorang yang mampu memberi solusi. But simply because I was there. Hanya aku yang ada disana ketika mereka butuh seseorang yang bisa mendengarkan.

Dan itulah yang ku lakukan. Mendengarkan. Karena aku sendiri tak punya cerita untuk dibagikan, selain hampir memiliki cerita. Kebanyakan masalahnya adalah ketidakpastian, kurangnya komunikasi sehingga berujung kesalahanpahaman. Yang kemudian menyakiti satu atau kedua belah pihak.

Ketika menghadapi masalah seperti ini, kebanyakan dari perempuan akan menangis. Dan terlontarlah pernyataan: Ini terakhir kalinya aku menangis karena hal ini.

Kenyataannya, tak banyak dari kaum kami yang bisa menepati apa yang ia katakan. Terakhir kalinya berubah menjadi kedua, ketiga, dan seterusnya.

Menangis, walaupun bagi banyak orang dianggap cengeng, adalah outlet yang baik untuk menyalurkan perasaan. Perasaan negatif tak seharusnya dipendam, karena ia hanya akan mengambil banyak tempat di hati. Sehingga lama kelamaan akan menyesakkan. Menangis untukku pribadi memberikan kesempatan untuk bercermin, karena saat menangis kilasan-kilasan hal yang memenuhi hati dan pikiran itu akan hadir. Dan tak jarang aku bisa menemukan hal kecil yang justru bisa membalikkan pikiran, meski tak lantas langsung bisa menghentikan tangis yang terlanjur pecah.

Dan ya, beberapa hari ini aku sering menangis. Karena semua hal. Mungkin minggu ini minggu mellow. Entahlah, terkadang aku tak tahu menangis karena apa. Yang aku tahu dadaku lebih ringan setelah itu. Meskipun aura sensitif masih menetap berpuluh-puluh jam setelahnya, tapi aku yakin sesuatu itu sudah dekat. Pertolongan, atau apapun namanya.

Yang jelas, aku tak mau kembali ke masa-masa itu. Masa ketika aku bisa menemukan sesuatu yang hilang dengan menghinakan diri sendiri. Ketika hariku penuh dengan angan-angan kosong. Ketika aku mengacuhkan Rabbku dengan dalih keingintahuan. The times when I feel lonely, desperate, yet keep doing disgusting thing.

Menangis, ketika itu bisa menghantarkanku menemui aku yang lebih baik, maka tak ada istilah ini terakhir kalinya.

#Latepost
#Bangli

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...