Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Sangka Buruk Pada Pak Bakpao

Coba cobalah Bakpao yang halal Bakpao M*ga J*ya Enak rasanya Halal loh! Yang berdomisili di kota Solo, Jogja dan sekitarnya mungkin akan familiar dengan jingle ini. Jingle yang akan diputar terus lewat speaker yang dihubungkan ke sepeda motor atau gerobak. Sehingga orang akan tahu jika pedagang bakpao lewat. Saking non stopnya setiap sore lewat di kompleks, kami jadi hafal. Jadi ada yang hilang jika satu sore pedagang bakpao, satee, kue putu, roti, dan bakso kuah tidak lewat. Semua punya ciri khas masing-masing. Khusus Pak Bakpao, saya punya salah kepadanya. Pernah menaruh sangka buruk. Karena beberapa bulan lalu sering lewat di depan kontrakan pas jam Magrib. Si bapak nggak sholat ya? Pikir saya.. Padahal, saya tahu apa? Tetangga saja tak semua muslim. Kalau memang beliau non muslim, ya sah-sah saja mau berjualan di waktu sholat. Duh, saya malu sendiri. Belum lagi jika diingat umurnya yang mungkin sudah dua kali lipat dari saya bahkan lebih. Tapi masih berjualan setiap hari. ...

Antara mampu, dimampukan, dan pura-pura mampu

Ini rumahnya (foto gubuk reyot) Ini gayanya (foto sosialita in action) Familiar dengan meme itu? Yups, menggelitik, tapi kadang memang betul. Betapa banyak orang yang kita lihat kesehariannya kurang mampu tapi penampilannya kalau-kalau orang paling mampu se-desa raya. Saya sering bertanya-tanya, darimana semua kemampuan itu? Tidak semua kan begitu, ada yang memang gaya hidupnya tinggi diikuti juga dengan pendapatan yang tinggi. Atau walaupun pas-pasan, pas mau beli barang branded gitu ada aja jalannya. Pada akhirnya, mereka ini terbagi jadi tiga golongan. Golongan mampu yang memang sudah mampu dari sononya, yang tadinya kurang mampu jadi dimampukan karena terus meningkatkan ikhtiar, dan yang bangkrut karena pura-pura mampu. Yang terakhir ini biasanya terjerat hutang demi tuntutan gaya hidup tadi. Lalu apa yang membedakan? Saya baru sadar ketika tadi pagi Ummi Resty bercerita di grup reseller #ammarkids bahwa beliau baru saja belanja 1,2 juta cuma untuk buah dan camilan. Tak heran...

Bu, ten mriki wargane sae mboten?

"Mbak Fitri.. Mbak Fitri.. Assalamu'alaykum.. Boleh masuk Ndak?" Suara Aira terdengar di depan pintu. Suara kasak kusuk anak lainnya juga. Dari jendela terlihat ada 5 anak lain. Waduh? Baru jam 8 pagi ini? Pikir saya. Fayyadh baru saja bangun dari tidur kilatnya dan abahnya baru berangkat kerja. Ruang tamu saja masih berantakan. Tapi bagaimana? Mereka sudah datang. Sejak beberapa hari lalu saya dan anak-anak kompleks berjanji akan membuat cilok bersama. Mumpung mereka libur. Saya bersedia menyediakan tempat. Bahannya? Cara buatnya? Gampang, ada gugel ini. Baiklah. Saya kemudian mempersilakan mereka masuk. Sebagian langsung merubung Fayyadh yang belum pulih benar dari efek ngantuknya. Lalu saya keluarkan kabar yang saya pikir buruk. "Mbak Fitri ndak sempat belanja. Belum ada bahan apa-apa di rumah buat bikin ciloknya." "Oh, ndak apa-apa Mbak. Nanti kami pulang ambil bahannya." Jawab Aira mewakili teman-temannya. Heeeh? "Emang apa aja bahanny...

Katanya Produk Muslim, Kok Mahal?

Judul diatas adalah pertanyaan saya ketika melihat harha kebanyakan gamis/kerudung syar'i. Bukannya apa-apa, kan maksud orang beli pakaian begitu biar menutup aurat ya? Kenapa nggak dibandrol lebih murah gitu. Biar memudahkan sesama muslim untuk tampil kece tapi tetap syar'i. Itu dulu. Sebelum kenal dengan produk #ammarkids juga #kdlmuslimwear. Ternyata, satu produk itu nggak hanya ujug-ujug produksi terus jual mahal. Tapi melalui banyak proses. Mencari bahan yang bagus. Mendesain produk. Mencari tukang jahit. Menentukan tempat sablon. Riset pasar sampai mencari tim marketing. Juga pengemasan dan pengiriman. Dan seterusnya. Sementara kita tinggal terima saja. Lah, semua produk juga begitu? Lalu apa bedanya? Begini, beberapa produsen yang saya tahu sering mementingkan saudara muslim juga untuk bekerjasama. Meskipun mungkin jatuhnya jadi lebih mahal. Yang penting bantu saudara dulu. Banyak dari mereka (tak hanya produsen, tapi sampai reseller) juga menyisihkan keuntungannya u...

Jangan Tinggalkan Bayi Sendiri Dengan Ayahnya

Familiar dengan judul diatas? Yups, kemarin dulu lewat di beranda saya kumpulan video yang viral. Tentang kenyelenehan beberapa ayah ketika mengasuh bayi/balita sendiri tanpa ibu. Ada bayi yang 'diplester' di tembok, ada yang dimasukkan ke dalam baju, ada yang disuruh gelantungan. Intinya, kegiatan yang bisa bikin ibu-ibu bangsa jantungan dan berpikir ulang jika mau menitipkan anak pada ayah. Saya bagaimana? Saat menonton video itu sih saya tertawa, tapi kalau mendapati langsung mungkin akan keluar tanduk juga. Tapi belakangan ini, saya mencoba kompromi. Agar menjalani hidup lebih woles. Seperti sore kemarin. Kami baru sampai rumah menjelang Ashar. Perpaduan rasa capek dan hujan rintik-rintik membuat rasa kantuk tak bisa ditahan. Padahal itu waktunya Fayyadh mandi sore. Mumpung Abahnya di rumah, selesai sholat saya minta ijin tidur barang 30 menit saja. (Jangan ditiru ya, tidur setelah Ashar tidak dianjurkan) Abahnya Fayyadh setuju. Dan saya masih mendengar suara keran air...

EMPATI DI TAHUN BARU

Belakangan ini, saya menyadari diri tak begitu 'tegar' seperti kemarin-kemarin. Melihat foto anak yang berhasil diselamatkan setelah terjebak 12 jam di tumpukan material pasca tsunami saja membuat saya hampir menangis. Dan terpikirkan sampai berjam-jam kemudian. Yang lalu membuat saya mulai berandai-andai. Jika malam tahun baru nanti, sebagian besar orang tak merayakannya. Bukan atas dasar boleh tak boleh. Tetapi murni karena empati. Bencana alam yang tak putus melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak pertengahan tahun ini masih menyisakan banyak PR. Ribuan nyawa melayang, puluhan ribu tak memikirkan tempat tinggal yang layak, apalah lagi makan tiga kali sehari dengan menu yang diinginkan. Belum hilang trauma gempa di Lombok, belum kering luka saudara-saudara di Palu dan Donggala, kini Banten dan Lampung terdampak tsunami. Rentetan bencana demi bencana seolah tak henti. Lalu masih adakah memiliki hati untuk menyalakan kembang api? Meledakkan petasan? Bakar-bakar ikan? D...

Aisyah si Pencemburu

Dulu, saya pernah menyimpan rasa tak suka pada Aisyah r.a. Gara-garanya, membaca satu biografi Bunda Khadijah r.a. Disana, digambarkan Aisyah sebagai sosok yang sangat pencemburu. Berbanding terbalik dengan Khadijah r.a. yang sangat keibuan. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya dari kekeliruan itu. Membandingkan Aisyah dan Khadijah bukan sesuatu yang bijak dilakukan. Aisyah masih abege ketika menikah dengan Rasulullah. Sementara Khadijah sudah mencapai umur 40 tahun, perempuan dewasa yang matang dengan segudang pengalaman. Maka menjadi contohlah Aisyah, bagaimana ia jadi istri yang begitu jujur. Seringkali mengungkapkan apa yang terjadi dalam rumah tangganya untuk menjawab pertanyaan para sahabat. Juga soal cemburu. Ia pernah membanting wadah makanan berserta isinya di hadapan Rasulullah dan para sahabat yang hadir. Karena itu hadiah dari istri Rasulullah yang lain. Mak-Mak, kita berani nggak kayak gitu? Sambil uji coba ketahanbantingan Taperwer misalnya. Kalau saya belum berani...

Siapa Yang Lebih Sabar?

Belakangan ini saya cemburu. Fayyadh itu kalau Abahnya pulang kerja macam lihat odong-odong. Matanya langsung membesar, senyum terkembang sampai tertawa, terus tangan dan kaki menggapai-gapai. Kurang apa ibu sama kamu Nak? Sembilan bulan mengandung, melahirkan penuh perjuangan, setelah lahir jarang banget ninggalin paling kalo sholat atau  ke kamar mandi aja. Dan kamu lebih favoritkan Abah? #dramagulinggulingkasur Tapi baiklah, jangan fokus pada masalah. Fokus pada solusi. Mengapa kira-kira Fayyadh lebih senang sama Abah? Apa Ibu membosankan? Apa Ibu kurang sabar? Soal sabar, saya teringat jawaban seorang pakar parenting. Ketika seorang ibu bertanya mengapa suaminya lebih sabar menghadapi anak-anak daripada dirinya. "Sebenarnya, bukan Bapak-bapak lebih sabar. Sekarang coba hitung durasi pertemuan ayah dengan anak. Pagi-pagi, dari bangun tidur sampai sebelum berangkat kerja. Katakanlah 3 jam. Lalu sore-malam sepulang kerja sampai anak tidur. Katakanlah 5 jam. Itu kalau ayah ikut...

Dear Toxic Person, Terimakasih

Siang itu saya hampir tak bisa menahan marah. Hati ini sesak karena geram. Ubun-ubun pun rasanya sudah berasap. Jika ada yang melihat mungkin akan pikir-pikir mengajak bicara karena melihat wajah yang merah padam. Juga segera kabur karena besarnya energi negatif yang terpancar dari tubuh saya. Apa pasal? Siang itu adik saya video call, tepat di menit-menit awal Fayyadh baru saja tertidur. Takutnya penting, saya berjingkat meninggalkan kamar dan menerima telponnya. Baru saja gambar stabil dia langsung bertanya "Mana adik Fayyadh?" Saya mengernyitkan dahi. Bukan saja karena nadanya, tapi tampilan gambar tidak menampakkan wajahnya tapi hanya ruang tamu. Setengah kesal saya menjawab, "Baru aja tidur." Lalu dia berkata "Oh, ya sudah kalo gitu." Dan tut. Telepon dimatikan begitu saja. Tanpa kata lain apalagi salam. Yaa Rabb, dia adik saya, dan saya jauh lebih tua darinya. Tidak bisakah ia lebih sopan? Menghargai saya sebagai kakak? Namanya video call ya fac...

Dear Single Ladies, Jatuh Cintalah Pada Manusia

Bagi yang menganggap judul tulisan saya aneh atau cenderung magis, tidak apa. Mau tertawa juga silakan. Wong saya sendiri juga beranggapan begitu ketika Pak Cah, panggilan akrab Pak Cahyadi Takariawan, konselor pernikahan yang kondang itu mengungkapkan syarat pertama pernikahan. Yaitu, "Harus dengan manusia." Yaelah, emang hari gini masih ada yang nikah sama jin Pak? Nyinyir saya. "Loh, saya serius. Pastikan yang ingin Anda nikahi itu seorang manusia." Tegas beliau lagi seolah membaca keskeptisan para hadirin. "Saya tidak main-main. Kemarin lusa seorang perempuan baru lulus S1, sarjana anyar Pak, Bu, dibawa ke ruang konseling kami. Dia mau dijodohkan tetapi kekeuh sudah punya calon yang sangat dia cintai. Sudah berhubungan selama dua tahun. Namanya X, tinggal di kota Y. Ketika ditanya ketemu dimana? Jawabannya belum pernah ketemu. Dia lalu menyodorkan foto-foto si lelaki dan chat mereka." "Saya bilang kepada si Kakak, tolong selidiki akun ini. Sem...

Tentang Poligami: Perempuan Jangan Keder

"Bu, saya ibu dari tiga orang anak. Usia pernikahan kami sebelas tahun. Belakangan ini suami sering bercanda tentang poligami. Bilang 'Abi kan baik Mi, masak Umi ndak mau berbagi kebaikan dengan perempuan lain?' atau menceritakan tokoh-tokoh siapa gitu yang sukses poligami. Saya ndak tahu mesti jawab apa Bu. Dan jujur saya khawatir sendiri. Posisi saya sendiri bekerja. Jadi sampai rumah kadang ndak bisa kayak yang ibu katakan tadi. Berdandan atau menyambut suami as pulang kerja. Karena seringnya lagi masak di dapur atau nemeni anak-anak. Saya mesti gimana Bu?" Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan saat kajian kemarin. Iya, masih dengan Bu Vida. Maafkan hamba yang belum move on. Jadi sebelumnya Bu Vida menjelaskan jika kita harus meluangkan waktu untuk mempercantik diri untuk suami. Mengingat lelaki adalah makhluk visual dan diluar sana betapa banyak visual indah yang suami bisa lihat. Sedangkan di rumah ya begitu-begitu aja. #maktothejleb Minimal baju rapi ...

Romantisme Mawaddah, Sakinah, dan Rahmah

"Ibu-ibu, ada ndak disini suaminya yang ndak romantis?" Tanya Bu Vida saat memulai sesi materi. "...ada.." "Haaaah? Ndak ada?" "Ada Buuu, hampir semua." Hehe.. rupanya kecipak suara hujan membuat jawaban ibu-ibu menjadi tidak jelas. Sore kemarin kami mengadakan kajian ibu-ibu dengan tema "Romantisme Pernikahan Setelah Satu Dasawarsa". Uhuks.. Pemateri kami adalah seorang konselor pernikahan yang insya Allah nama dan prestasinya akan muncul banyak jika digoogling, yaitu Ibu Vida Rabiatul Adawiyah. Beliau aktivis ibu dan anak serta menginisiasi kelas pra nikah di Solo. Ada beberapa pernyataan yang menarik. Seperti "Pernikahannya itu adalah gerbang untuk masuk dalam masalah tanpa henti. Apalagi bagi perempuan." 😂 Nah, karena masalah terus ada, maka "Membahas pernikahan adalah seperti menasehati diri saya sendiri", lanjut beliau. Lalu mengapa memilih tema diatas? Karena 1) Yang hadir kebanyakan usia p...

Curhat Bersama Mas Fahri

"Mas, tak liat kandang burungnya kok dijemur? Lah, burunge kemana?" Saya membuka percakapan ketika Fahri, anak tetangga, datang menghampiri saya dan Fayyadh di gazebo. "Mabur i (kabur) Mbak." "Iya toh? Kapan?" Fahri tampak berpikir. "Kemarin Mbak." Lalu dia naik ke atas gazebo. Menyapa Fayyadh, dan mulai memainkan beberapa mainan yang kami bawa. "Mas Fahri sedih?" Tanya saya lagi. Dia tampak merenung lalu menjawab, "Si Meti (nama burungnya) apik i Mbak." Lima belas menit kemudian, obrolan kami berkutat soal bulu Meti dan coraknya yang cantik. Meski banyak jeda, Fahri lumayan komunikatif. Dari beberapa kalimat, terlihat ia masih belum percaya kalau burungnya sudah kabur dan masih berharap Meti segera kembali. Saya suka bercerita, dan lebih senang mendengar cerita. Apalagi dari anak-anak. Ada kepolosan yang tak bisa ditemui di manapun. Jadi, jika ada kecenderungan tak lazim, misalnya cenderung menyalahkan orang lain. Bia...

Antara MLM dan Sahabat Lama

Mis Biutipul menandai Anda dalam kiriman. Begitu kurang lebih notifikasi pesbuk di suatu pagi. Waaah, alhamdulilah. Hati berbunga-bunga. Ternyata dia masih ingat sama saya. Teman lama yang sudah lama nggak kontakan. Akhirnya karena kelamaan jadi malu negur duluan. Nggak peduli mesti berangkat kerja itu notifikasi yang biasanya cuman digeser langsung di-klik. Lalu jeng! Jeng! Jeeeeng! Ternyata di-tag promosi MLM. Bak antiklimaks, ngenesnya disana, gemes juga disitu, belum malu udah kegeeran, tapi porsi terbesar adalah rasa kecewa. Gimana ya? Yaaah, campur aduk gitulah. Ada yang pernah ngalamin? Mungkin bisa mendeskripsikan lebih baik. "Kamu sensitif banget sih? Namanya juga orang usaha." Iya, saya ngerti. Apalagi yang baru gabung mesti lagi semangat-semangatnya toh? Tapi apa harus main tag, atau langsung inbox tanpa ba-bi-bu sebelumnya. Jujur, bukannya tertarik saya jadi illfeel duluan. Apalagi kalau yang ngetag itu bukan orang yang dikenal. Reaksi saya ini mesti banyak ...

Menghabiskan Jatah 20000 Kata

Kemarin dulu, seseibuk menegur saya kurang kerjaan karena menuliskan panjang lebar tentang susu ibu hamil. Waktu itu sih rasanya tidak kurang kerjaan, wong kerjaan rumah aja kadang banyak yang nggak beres. Tapi sekarang saya sadar. Seseibuk itu benar. Saya kurang kerjaan. Tepatnya, mulut saya. (Terimakasih banyak Bu). Sudah menjadi rahasia umum jika perempuan itu banyak bicara. Konon, rata-rata dalam sehari bisa mengeluarkan 20000 kata. Sementara lelaki hanya 7000 kata. Jadi jangan heran walaupun sedang komen-komenan di grup wa, ketemu orang yang sama di tukang sayur juga perempuan bakal ngerumpi. Lalu bagaimana dengan saya yang kadang 16 jam sehari hanya bersama bayi yang baru bisa mengoceh? Belum lagi jika dihitung 8 jam ditinggal si bayi tidur. Jadi, hitungannya saya cuma sendiri di sepertiga hari. Bagaimana bisa menghabiskan jatah pengeluaran 20000 kata? Itu baru sehari. Lainnya, silakan hitung sendiri. Jadi, tanpa saya sadari sebenarnya menulis panjang-panjang itu mekanisme pe...

Kosongkan Gelasmu

'Saya Fitria. Malam ini siap mengosongkan gelas dan mengisinya dengan ilmu.' Adalah salah satu password jika kami akan memulai kelas online. Masing-masing bisa mengubah wadah dan isinya sesuai keinginan. Saya sering pake baskom terus pura-pura ya diisi es krim 😁 Maknanya, kami wajib mengosongkan pikiran (bukan buat dihipnotis yang pasti 😅) dari pemikiran kalau kami 'sudah tahu'. Pikiran 'sudah tahu' ini diibaratkan air di dalam gelas. Kalau sudah ada isinya kan susah ya diisi lagi? Siapa tahu itu isinya Mango Thai seminggu yang lalu. Meskipun enak tapi kalo udah basi mau diapain? Padahal bakal diisi Green Tea Milk ples cincau bikinan sendiri yang esnya dikit tapi dingin. #mengilerkandirisendiri Jadi mikir, kenapa baru ngeh ada metode begini yak? Kalo tahunya dari dulu-dulu kan sok tahunya bisa dikurangin 😷 Sering banget baru lihat judulnya 'Cara Mencuci Baju' sudah mikir "Kan hari-hari juga udah nyuci. Apa p...

Menantang Diri Untuk Kebaikan

#30DWC Apa itu #30DWC? Yang menyempatkan diri baca status saya akhir-akhir ini sampai titik darah penghabisan mesti ngeh dengan tagar ini. #sokngartismodeon. Selalu saya tuliskan di akhir disertai #DAYBERAPA. Meskipun tidak ada yang repot-repot bertanya, saya mau ceritakan 😀 *koor sak karepmu ae terdengar di belakang. Jadi, 30DWC adalah singkatan dari 30 Days Writing Challenge . Jadi tantangan menulis selama 30 hari nonstop. Tantangan ini lewat di Instagram (ya, saya punya @fitriasulaiman tapi benar-benar cuman jadi silent reader) dan entah mengapa nge-klik gitu di hati. Tanpa membuang waktu saya meminta izin suami apa boleh ikut atau tidak. Saya butuh dukungan dan ditransferkan uang pendaftaran 😂 Wait, tantangan kok berbayar? Iya, karena ini bukan hanya tantangan. Tetapi ada kelas online-nya sekian kali. Juga ada feedback dari mentor yang sudah mumpuni di bidang kepenulisan dan sesama fighter yang menerima tantangan ini. Kelas dimulai tanggal 20 Oktobe...

Lamunan di Stasiun Balapan

"Maaf Mas, tiket Prameks yang jam 16.00 sudah habis. Adanya yang jam 18.00. Kalau mau ada KA Senja Solo Ekspres jam 17.30, harga tiketnya 55K." Ok fix, kami ketinggalan kereta ke Jogja. Dan harus menunggu dua jam di stasiun. Aroma kekecewaan masih kental. Maka mari tarik napas dulu. Kejadian hari ini memang sudah tertakdir. Mulai dari saya yang salah mengerti waktu berangkat, persiapan yang molor, sampai bapak g*car yang ngambil rute berbeda untuk menghindari macet, yang ternyata bikin waktu perjalanan memanjang jauh. Jadi saya menghabiskan waktu dengan mengajak Fayyadh jalan-jalan. Tak lama ia mulai melamun dan tertidur. Lalu saya duduk dan hanya memperhatikan orang-orang yang akan naik kereta. Ada yang berjalan cepat-cepat menyeret koper dan plastik berisi oleh-oleh. Ada yang berjalan perlahan dengan bantuan tongkat tanpa membawa apapun. Ada mahasiswa yang kurus seperti penderita TBC. Ada siswa yang lemaknya bergelambir-gelambir. Ada yang begitu memperhatikan detail pak...

Ubun-ubun Bayi Berdenyut: Normalkah?

Fontanela Mayor. Bagus ya untuk nama anak? Baru lahir sudah jadi mayor. Panggilannya nanti Ela.. Ela.. e.. e.. e.. Atau Aurelia Aurita? Jelas dipanggil Aurel (tanpa Hermansyah). Nama secantik itu adalah nama ilmiah dari ubur-ubur. Sedangkan Fontanela Mayor adalah nama ilmiah dari ubun-ubun besar. Teruuuuus, hubungannya apa Fit? Ya dihubung-hubungkan saja. Berhubung saya seneng gitu nulisnya. Ubun-ubun dan ubur-ubur ternyata nama ilmiahnya kece-kece 😅 Jadi, yang saya mau bahas itu ubun-ubun bayi Mak. Yang kemarin lusa diributkan tetangga. "Kok ubun-ubunnya Fayyadh masih lunak? Anakku loh umur segini udah keras. Makanya kasi ramuan ini. Atau tutup pake koin. Kamu sih nggak mau pakein topi." Bukannya nggak mau Mak, tapi daripada yang bersangkutan nangis kejer? Kan saya pencinta damai 🙃 Jadi Mak, tanpa dikasi ramuan atau ditutup, itu ubun-ubun akan menutup sendiri pada waktunya. Yaitu mulai 9 bulan sampai dua tahun. Jika sebelum itu masih lunak, ya w...

Fase Oral Bayi: Bukan Tanda Siap Makan

"Ngapain kamu kasi anakmu gigit-gigit gelas? Kan sakit mulutnya!" Pagi-pagi sudah sarapan protesan dari Lombok. Kemarin saya kirimkan dua video Fayyadh ke teman sekolah Ibuq. Secara beliau tidak punya ponsel pintar. Video yang menurut saya lucu ternyata dianggap ther-lha-lhu 😂 Yak, mungkin selera humor saya datang dari Mamiq 🤔 Jadi, di video itu Fayyadh sedang tengkurap. Mainan air mineral gelas. Berhubung dia sedang fase oral ya itu pantat gelas juga diemut. Karena gelasnya bersih dan lembut saya biarkan, bahkan videokan. Gemes lihat dia gemes. Tapi bikin neneknya lemes 😅 Tapi bagaimanapun, saya masih beruntung. Setidaknya Ibuq tidak bilang "Makanya, kasi makan. Kamu nggak kasian liat dia ngeliatin terus?" Atau yang lebih klasik, "Jangan kasi ngemut-ngemut barang, nanti jadi kebiasaan." Atau yang nyinyir, "Jangan pelit gitu Mbak. Kasi makan anaknya biar gemuk." Intinya, yang menganjurkan bayi makan pad...

(Tak) Tahu Terimakasih

"Aku kesel. Dia sudah dikasi minjem barang, lama pula, masak aku yang mesti ke tempatnya ambil sendiri? Dimana sopan santunnya?" Seorang teman curhat. Jika dia orang lain, maka saya akan bilang, "Ya udah, diikhlasin aja. Yang penting kita udah bantu." Atau malah mencap-nya gila hormat dan tidak ikhlas 😂 Tapi tidak, dia adalah orang yang tulus. Dan tidak mengurus hal remeh remeh macam diucapkan terimakasih atau tidak. Hanya saja, jika soal attitude, dia sangat peduli. Saya baru sadar, ternyata tidak semua orang se-cetek itu. Iya, hampir semua orang akan kecewa jika tak diberi ucapan terimakasih atas barang/jasa yang telah diberikan. Tetapi, dengan alasan berbeda. Si teman ini, kecewa lebih karena sikapnya. Teman yang memiliki track record baik ternyata memiliki 'cela' dalam hal yang kelihatannya sepele, tapi imbasnya jauh ke hubungan mereka. Juga untuk dia pribadi. Orang yang tak tahu terimakasih, akan sulit mendapatkan pertolongan dari oran...

Foto Di Dinding Ruang ICU

"Malam terjadinya bom itu memang aneh. Biasanya kalo sudah jam 8 di malam Minggu kami sibuk. Tapi sudah jam 9 kami masih bisa beli nasi goreng dan ngobrol-ngobrol. Eeeeeh jam 10 ke atas pasien membanjir. Mayoritas korban dibawa ke Sanglah. Pintu belakang semua dibuka. Waktu itu belum banyak rumah sakit besar sekitar Kuta. Belum juga ada sistem triage. Kebayang nggak gimana chaos-nya situasi. Kami tidak bisa menolak pasien sementara tenaga dan sarana terbatas." Cerita dosen kami. Beliau kala itu masih dokter muda yang bertugas di IGD RSUP Sanglah Denpasar. RSUP Sanglah merupakan rumah rujukan, termasuk yang terbaik dan terlengkap di Indonesia. Jadi membayangkan mereka gelagapan sedikit sulit. Tetapi kembali lagi, itu kejadian 10 tahun yang lalu. Tentu saja situasinya berbeda. Bom Bali 1 tak hanya mengguncang Pulau Dewata. Tetapi juga menyita perhatian dunia. Se-Indonesia pun menyaksikan reportasenya dari media. Namun tak ada yang bisa menyamai menyaksikan secara langsung. K...

(semoga bukan) Ibu Durhaka

"Bilang sama dia, kalo mau minta maaf sudah saya maafin." Kata Ibuq ketika tetangga memintanya masuk ke ruang bersalin. Nyeri bukaan hampir lengkap rupanya tak mematikan rasa geli di hati. Bukan itu maksud memanggil Ibuq. Saya hanya ingin meminta kartu berobat di dompet yang dibawanya agar rekam medis saya  sebelumnya bisa diambilkan 😅 Sudah menjadi tradisi di daerah kami, ketika seorang wanita sulit melahirkan, maka ia akan meminta maaf kepada orang lain terutama ibu dan suaminya. Ada yang ekstrim sampai harus meminum air bekas cucian kaki suami. Semua dipercaya agar mempermudah proses persalinan. Bukannya saya tak merasa memiliki salah pada Ibuq. Tapi hubungan kami tak segamblang itu. Maksudnya, kami jarang sekali meminta maaf. Mungkin pas lebaran saja 😁. Alhamdulillah, sampai sekarang kami tak pernah bertengkar hebat. Apalagi sampai terdengar tetangga. Ketidaksepahaman kami biasanya hanya sampai bertukar kalimat beberapa kali, lalu salah satu da...

Orang Dewasa: Mendongenglah!

Salman. Nama itu diam-diam saya simpan dalam-dalam di lubuk hati. Sejak pertama kali mendengarnya di usia sekolah dasar (SD). Nama yang terdengar keren, gagah, dan pintar. Sepintar sosok Salman Al Farisi yang diceritakan Mamiq (ayah) di malam bercerita. Jadi, sewaktu SD kami-saya dan empat orang teman-mengaji di ruang tamu setelah Magrib. Berlima kami akan mengelilingi ruang sempit di antara sofa coklat kotak-kotak dan meja persegi panjang. Mamiq sendiri duduk di satu sofa yang menghadap ke pintu. Yang paling istimewa dari malam mengaji kami adalah malam Ahad, karena malam itu adalah malam bercerita. Mamiq akan menceritakan kisah-kisah Nabi atau sahabat dengan caranya sendiri. Menggunakan bahasa sehari-hari (bahasa Sasak). Jadi kami merasa begitu dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sampai bisa membayangkan para sahabat duduk bersila dan berbincang di dalam masjid desa. Setelah dewasa saya baru tahu jika beliau sering berimprovisasi. Tak hanya Mamiq. Nenek dan paman saya pun sering berceri...

ANAK PEREMPUAN SEMUA: BENARKAH SALAH IBUNYA?

ANAK PEREMPUAN SEMUA: BENARKAH SALAH IBUNYA ? "Pas anak kedua saya lahir, kan laki-laki. Suami bilang 'Yaaah, kok laki lagi?' Ya ngapain nanya saya? Saya kan cuman nerima. Kamu kasi gen laki ya jadi laki, kasi gen perempuan ya jadi perempuan." Cerita dosen saya ibu Asmawati saat membuka kuliah keperawatan maternitas. Ah, selalu keren ibu mah. Bukan rahasia jika di kebanyakan negara, apalagi negeri tercinta Indonesia, anak lelaki menjadi primadona. Ada sesuatu yang kurang jika tak memilikinya. Tak jarang menyangkut harga diri. Bahkan di beberapa daerah, keluarga harus 'mengadopsi' anak lelaki harus agar bisa meneruskan nama/adat. Selama ini seringkali hanya perempuan yang disalahkan jika hanya melahirkan anak-anak perempuan. "Ndeq bi tao nganak (kamu nggak pintar ngelahirin)," katanya kalau di Lombok 😥 Sehingga kadang ini menjadi pembenaran lelaki untuk menikah kembali, demi mendapat keturunan laki-laki. Lalu setelah menikah ternyata a...

Mengenal Bercak Mongol

MENGENAL BERCAK MONGOL "Mbak, kamu udah keramas belum?" Tanya rekan piket begitu saya duduk sempurna di kursi. "Hah? Nggak i Mbak? Kenapa?" "Kan gerhana bulan. Nanti anakmu item loh.." Jangankan keramas, mandi aja nggak sempat. Baru pulang dari satu acara terus lanjut piket malam. Untung malam itu nggak ada pasien 😅 Qadarullah, Fayyadh memang terlahir dengan kulit coklat. Coklat ya, bukan hitam. Karena kulit hitam itu sebutan untuk saudara kita dari benua Afrika. Pagi setelah selesai piket malam kala itu saya bikin status FB yang menanyakan mengapa ibu hamil harus mandi di malam gerhana bulan. Bermacam jawaban muncul. Lalu ada seseorang yang concern dan inbox saya. Sebut saja dia (D) dan saya (S). D: Mbak, saya juga dulu nggak dengerin ortu disuruh mandi. Eeeeeh pas lahir anak saya ada item-item di punggungnya. S: Di daerah pantat juga ada ya Mbak? D: Iya. S: Kayak memar gitu? D: Iya, tapi nggak hilang-hilang. S: Mbak, itu memang ba...

Totto Chan dan Keterlambatan Yang Manis

"Belum. Dan aku pengen banget. Banyak penulis keren dan psikolog nyebutin buku itu. Rata-rata review-nya bagus. Mo minjem nggak tahu sama siapa." Jawab saya ketika suami menanyakan apakah saya pernah membaca buku Totto Chan. Saya tak perlu meninggikan suara meskipun kami sedang di atas sepeda motor. Semangat yang menggebu otomatis membuat suara makin nyaring. Apa yang ia katakan selanjutnya membuat saya ingin jingkrak-jingkrak. "Nanti aku beliin." Janjinya. Dan tiga hari kemudian, buku bersampul putih itu datang.  Ilustrasinya sangat sederhana. Seorang gadis kecil berjaket putih dan tersenyum simpul. Bukannya terlihat membosankan, kesan yang saya dapat justru seperti akan membuka warisan berharga dari jaman dahulu. Jadi deg-degan dan tidak sabaran. Totto Chan dan Gadis Cilik di Jendela ditulis oleh Tetsuko Kuronayagi. Isinya tentang seorang gadis cilik yang ceria dan sangat bersemangat, berimajinasi tinggi, dan memiliki kebiasaan aneh seperti berlama-lama memand...

Merawat 'Preman'

"Fit, ke bed 5 ya? Bilang sama pengunjung masuknya satu-satu gen.." Mbok Dwi menyuruh sambil tersenyum. Glek! Bed 5 pasien yang itu. Sedang dikelilingi lima laki-laki kekar. "Mbok aja, saya nggak berani." "Mbok udah tadi Fit.." Hmmm.. baiklah. Sambil menghitung langkah saya berjalan dari nurse station ke bed 5 yang berjarak hanya 2 meter. Berharap tidak segera sampai. Tapi langkah kaki ini rupanya berkhianat dan sebelum pikiran aneh-aneh muncul secepatnya saya buka mulut dan berkata "Bapak-bapak, ampure nggih jenguknya gantian nggih. Satu-satu. Biar pasiennya dan pasien lain bisa istirahat." Tak satupun dari pengunjung yang mengalihkan pandangannya dari pasien.  Saya makin jengah, ingin segera pergi. Lalu terdengar jawaban "Nggih" dari salah satu pengunjung. Tapi begitupun tak ada yang melangkah keluar.  Saya hanya menarik napas kemudian undur diri. Untuk kemudian menarik napas lebih panjang ketika dua orang lagi masuk mengelilin...

Jangan Kaget, Hal Berikut Bisa Terjadi Setelah Melahirkan

"Memang sakit Mbak. Tapi nanti itu kalau sudah muncul rasa kayak pengen BAB, Mbak Fit tinggal ngeden sekian kali. Keluar deh bayinya. Langsung lupa deh sakitnya gimana. Malah langsung pengen nambah lagi." Ibu tukang sayur tertawa. Lagi, cerita ibu-ibu biasanya hanya tentang sakitnya melahirkan. Atau larangan tidak boleh ini itu yang sebagian besar adalah mitos 🙃 Melahirkan adalah momentum besar. Sebuah pertaruhan nyawa. Tetapi semua tak selesai disana. Sebab, petualangan panjang menjadi seorang ibu justru baru dimulai. Ternyata, banyak hal yang terjadi pada tubuh wanita setelah melahirkan tapi tidak ada yang pernah cerita pada saya 😅 Berikut saya tuliskan dari berbagai sumber dan dari pengalaman pribadi. 1. Wajah dan kulit Disebut 'makin hitam dan kusam' adalah makanan saya sehari-hari saat hamil 😥 Terutama menjelang trimester akhir. Itu baru wajah, belum lagi di area lipatan. Ada juga garis hitam horizontal di perut yang dina...