Skip to main content

Lamunan di Stasiun Balapan

"Maaf Mas, tiket Prameks yang jam 16.00 sudah habis. Adanya yang jam 18.00. Kalau mau ada KA Senja Solo Ekspres jam 17.30, harga tiketnya 55K."

Ok fix, kami ketinggalan kereta ke Jogja. Dan harus menunggu dua jam di stasiun. Aroma kekecewaan masih kental. Maka mari tarik napas dulu. Kejadian hari ini memang sudah tertakdir.

Mulai dari saya yang salah mengerti waktu berangkat, persiapan yang molor, sampai bapak g*car yang ngambil rute berbeda untuk menghindari macet, yang ternyata bikin waktu perjalanan memanjang jauh.

Jadi saya menghabiskan waktu dengan mengajak Fayyadh jalan-jalan. Tak lama ia mulai melamun dan tertidur. Lalu saya duduk dan hanya memperhatikan orang-orang yang akan naik kereta.

Ada yang berjalan cepat-cepat menyeret koper dan plastik berisi oleh-oleh. Ada yang berjalan perlahan dengan bantuan tongkat tanpa membawa apapun. Ada mahasiswa yang kurus seperti penderita TBC. Ada siswa yang lemaknya bergelambir-gelambir. Ada yang begitu memperhatikan detail pakaian dari ujung sepatu sampai alas jilbab. Ada yang sepertinya memakai apa yang masih ada di gantungan.

Semua datang dengan gaya masing-masing. Tak ada satupun yang sama. Meskipun itu sesama supir taksi yang berseragam merah. Lalu mengapa sebagian kita ingin menjadi seperti orang lain? *tanya diri.

Saya ingat saat SMA dulu. Ingin sekali seanggun teman sekelas. Lari keliling lapangan satu putaran wajah saya sudah banjir keringat dan semerah kepiting rebus. Sementara dia, ngos-ngosan pun tidak. Saya butuh waktu berbulan-bulan untuk sekedar berani belajar mengendarai sepeda motor, dia baru belajar dua hari bawanya sudah seperti menari.

Belakangan, alhamdulilah pemahaman saya membaik. Ternyata tak selamanya menjadi dia itu menyenangkan. Ada episode-episode hidupnya yang kemungkinan besar takkan kuat saya jalani.

Selesaikan masalah dengan diri sendiri dulu. Itu ungkapan yang begitu sering diulas dalam grup parenting atau pengembangan diri. Maksudnya apa?

Menerima diri sendiri apa adanya, juga menerima apa yang telah terjadi. Untuk selanjutnya memaafkan diri atas kesalahan yang pernah dibuat. Lalu memaafkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat terhadap kita. Sengaja atau tidak, tetapi menimbulkan luka yang kadang diingat pun tak ingin.

Karena setelah selesai dengan diri, baru hati akan mudah memberi. Juga menerima hal-hal baik. Karena ia takkan sibuk dengan sesuatu yang mendasar seperti warna kulit atau bentuk tubuh. Apalagi urusan orang lain yang tak ada hubungannya dengan dirinya.

Fitria

Calon penumpang kereta yang melamun

#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY26

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...