"Fit, ke bed 5 ya? Bilang sama pengunjung masuknya satu-satu gen.." Mbok Dwi menyuruh sambil tersenyum.
Glek! Bed 5 pasien yang itu. Sedang dikelilingi lima laki-laki kekar.
"Mbok aja, saya nggak berani."
"Mbok udah tadi Fit.."
Hmmm.. baiklah. Sambil menghitung langkah saya berjalan dari nurse station ke bed 5 yang berjarak hanya 2 meter. Berharap tidak segera sampai.
Tapi langkah kaki ini rupanya berkhianat dan sebelum pikiran aneh-aneh muncul secepatnya saya buka mulut dan berkata "Bapak-bapak, ampure nggih jenguknya gantian nggih. Satu-satu. Biar pasiennya dan pasien lain bisa istirahat."
Tak satupun dari pengunjung yang mengalihkan pandangannya dari pasien. Saya makin jengah, ingin segera pergi. Lalu terdengar jawaban "Nggih" dari salah satu pengunjung. Tapi begitupun tak ada yang melangkah keluar. Saya hanya menarik napas kemudian undur diri.
Untuk kemudian menarik napas lebih panjang ketika dua orang lagi masuk mengelilingi bed 5. Saya dan Mbok Dwi saling pandang. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Tepatnya, sungkan.
Pasien Bed 5 adalah wakil ketua ormas yang cukup besar di Bali. Kemarin sore dikeroyok oleh lima orang anggota ormas lain. Dada dan punggungnya penuh dengan luka tusukan. Kedua ormas ini terkenal sering bentrok. Maka tak heran dijenguk terdengar kalimat "Ndak bisa gitu Bli. Harus kita balas ini, segera."
Pasien Bed 5 sendiri sebenarnya sabar dan tidak neko-neko. Saat dimandikan perawat sudah nunduk-nunduk beliau hanya tersenyum dan kadang meringis. Tapi pengunjungnya yang menyeramkan. Untunglah ia hanya sehari saja di ICU.
Menjadi perawat membuka kesempatan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Dan kesemuanya harus diperlakukan dengan baik. Tapi tak urung, beberapa golongan memancing perlakuan istimewa.
Masih di RSUP Sanglah Denpasar, saya sering mendengar cerita bahwa di farmasi IGD sering mendadak kehabisan obat bius lokal ketika harus menjahit luka pasien yang datang dalam keadaan setengah sadar (baca: mabuk). 😂😂😂
Cerita yang faktanya saya temukan di Puskesmas Lombok. Kala itu saya menggantikan teman jaga malam. Sekitar jam setengah 12 datang beberapa laki-laki membopong seorang pemuda yang tak berhenti mengeluhkan kakinya yang sakit.
Saya membangunkan teman yang tidur dan tak lama mulailah kami membersihkan luka di kaki kanannya. Perdarahan sudah berhenti tetapi luka yang panjangnya sekitar 15 cm itu perlu dijahit. Dan ajaibnya, tak sampai 15 menit belasan jahitan itu selesai dikerjakan oleh senior saja. Setiap teriakan dari pasien hanya dijawab "Hmmmm.. iya.. sedikit lagi."
Ketika sudah pulang saya mengungkapkan kekaguman atas kecepatan kerjanya. Jawabannya bikin melongo "Memang harus gitu Fit. Kamu nggak liat dia itu mabuk? Dipelan-pelanin juga dia nggak bakal berhenti ngoceh."
Yaa Allah, dan saya percaya saja penjelasan bapak yang membawanya tadi kalau mereka baru mengejar maling. Pantas matanya kemana-mana saat berbicara. Dan ada aroma tak sedap dari mulutnya 😌
Preman, pemabuk, atau apapun sebutan negatif di masyarakat, jika sudah masuk ranah perawatan maka tak ada bedanya dengan pasien lain. Perawat harus mengesampingkan sentimen pribadi dan fokus untuk merawatnya agar segera sembuh.
Ada kejadian yang membuat saya masih sering merenung sampai sekarang. Waktu itu saya praktek di ruang NICU RSUP Mataram.
Seorang bayi laki-laki baru dilahirkan dan langsung dirawat disana. Tak seperti bayi-bayi lainnya, jari-jari tangan dan kaki bayi ini hanya ada dua. Jadi mirip capit kepiting. Bahkan kaki kanannya hanya berupa telapak kaki yang langsung terhubung ke pinggang. Tanpa paha dan betis. Naudzubillah.
Seorang teman sampai berkata "Pergi aja dah Dek (meninggal maksudnya)"
Dan ketika saya mau protes dia segera melanjutkan "Daripada hidup dia akan banyak beban dan menjadi beban orang lain."
Saya lantas terdiam. Tak berapa lama pintu pengunjung terbuka. Seorang laki-laki tinggi besar, gondrong, bertindik di telinga, berkalung, dan berpakaian sobek-sobek masuk.
Dia menanyakan dimana boks Baby A. Lalu kami tunjukkan radiant warmer. Ternyata, dia adalah ayah dari bayi yang mengalami kelainan bawaan itu.
Langkah laki-laki itu begitu hati-hati. Demikian pulang ketika mengelus pipi bayinya. Yang buat saya speechless adalah, matanya yang berkaca-kaca.
Ah, lelaki yang menahan tangis memang seringkali membuat ingin menangis.
Bagaimanapun penampilannya, seorang ayah yang penuh cinta itu bisa terlihat dari interaksi pertama.
Preman, pemabuk, berandalan, atau siapa itu punya kekurangan dan kelebihan. Tak ada dari kita yang tersusun dari 100% kebaikan maupun keburukan. Tak selayaknya sesama manusia sing merendahkan.
Karena kita tidak tahu akhir hidup masing-masing. Siapa tahu mereka yang kita pandang rendah dan banyak dosa pada akhirnya bertaubat. Sement kita masih tenggelam dalam dosa buruk sangka.
Fitria
Perawat yang sedang cuti
#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY15
#SQUAD10
Comments
Post a Comment