Skip to main content

ANAK PEREMPUAN SEMUA: BENARKAH SALAH IBUNYA?

ANAK PEREMPUAN SEMUA: BENARKAH SALAH IBUNYA?

"Pas anak kedua saya lahir, kan laki-laki. Suami bilang 'Yaaah, kok laki lagi?' Ya ngapain nanya saya? Saya kan cuman nerima. Kamu kasi gen laki ya jadi laki, kasi gen perempuan ya jadi perempuan." Cerita dosen saya ibu Asmawati saat membuka kuliah keperawatan maternitas. Ah, selalu keren ibu mah.

Bukan rahasia jika di kebanyakan negara, apalagi negeri tercinta Indonesia, anak lelaki menjadi primadona. Ada sesuatu yang kurang jika tak memilikinya. Tak jarang menyangkut harga diri. Bahkan di beberapa daerah, keluarga harus 'mengadopsi' anak lelaki harus agar bisa meneruskan nama/adat.

Selama ini seringkali hanya perempuan yang disalahkan jika hanya melahirkan anak-anak perempuan. "Ndeq bi tao nganak (kamu nggak pintar ngelahirin)," katanya kalau di Lombok 😥

Sehingga kadang ini menjadi pembenaran lelaki untuk menikah kembali, demi mendapat keturunan laki-laki. Lalu setelah menikah ternyata anaknya juga perempuan, maka disitu kadang saya pengen bilang sukurin 😎

The truth is, jenis kelamin manusia dan beberapa mamalia lain ditentukan oleh sepasang kromosom seks. XY pada laki-laki dan XX pada perempuan. Artinya laki-laki memiliki dua kromosom seks yaitu X dan Y sedangkan perempuan memiliki dua kromosom X.

Saat terjadinya pembuahan, sperma akan masuk ke dalam sel telur. Semua sel telur dalam tubuh wanita mengandung kromosom X. Tetapi sperma mungkin mengandung kromosom X atau Y, tergantung sperma terbaik saat itu.

Jika sperma mengandung kromosom Y, maka sel telur yang telah dibuahi akan berkembang menjadi laki-laki (XY). Sebaliknya jika sperma mengandung kromosom X, maka akan berkembang menjadi perempuan (XX).

Ringkasnya, secara teori jenis kelamin anak tergantung sperma laki-laki. Dan semua itu, tentunya atas kuasa Allah semata.

Jadi, nanti kalau disalahkan orang apalagi suami dan atau keluarga, jangan nunduk ya Mak?

Tegakkan wajah dan pasang senyum semanis pemanis buatan dan bilang 'Kan Mas yang ngasih gen perempuan. Saya mah bisanya nerima aja.' *sambil asah golok 😂

Kalau belum diterima juga, bukakan yutup. Banyak kok yang bahas tentang ini. Masih kekeuh juga, ajak ke dokter. Minta dijelasin. Masih ngeyel juga?

Ya sudahlah Mak, tabahkan hatimu. Doain semoga dapat hidayah biar nggak jadi salah satu judul sinetron azab. #eh Yang penting Mak sudah tahu kebenarannya dan tidak menyalahkan diri lagi.

Memang begitulah hidup di negeri ini. Berat. Cukup kita-kita aja. WNA apalagi yang unskilled, jangan. #ehlagi

Salam waras!

Fitria

Anak perempuan

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...