"Mbak Fitri bisa tidur dengan kasur kayak gini?" Tanya Usi suatu sore. Sambil melirik kasurku yang tipis, tepatnya menipis, dengan pegas dan busa yang sudah keluar disana sini, belum lagi warna yang sudah tak menyisakan warna aslinya. Kasur lungsuran dari Meme untuk ku pakai tidur di Denpasar. Sejujurnya, tak pernah sebelum ini aku berpikir untuk mengganti barang-barang di kos. Aku selalu berpikir bahwa aku di Denpasar hanya untuk sementara. Jadi buat apa repot-repot membeli banyak barang jika pada akhirnya tak akan terpakai? Yang terpenting sebenarnya, aku merasa cukup dengan semuanya. Tak ada yang harus ditambah. Perasaan cukup ini mulai goyah ketika Allah memberikan kelebihan rezeki di rekeningku. Rezeki yang dititipkan lewat tangan Mamiq. Kemudian menguat setelah aku merasakan kamar yang nyaman di Bangli. Aku sebenarnya boleh kan menikmati hal yang lebih baik? Kasur yang empuk, lemari yang luas, kipas angin, rak buku. Tapi rekruitmen KNRP dan kepergian Pak Yudha, yang ...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.