"Ibu tinggal dimana?" tanyaku pada kenalan baru di Liqo Jama'i, Bu Imah.
"Saya di Sanur." jawabnya.
"Waaaah, jauh yaa Bu ke Monang-Maning." Komenku.
"Ah enggak. Saya ga pernah menganggap jauh. Kalau saya anggap begitu nanti jadi berat. Masih di sekitar Denpasar juga."
Deg!
Kalimat Bu Imah langsung menohok dalam hati. Beliau pantang mengeluh. Karena mengeluh hanya akan memperkeruh masalah dan membuat segalanya terasa berkali-kali lebih berat. Benarlah, segala sesuatu sebenarnya hanyalah masalah persepsi.
Jadi malu, aku yang baru pulang-pergi Denpasar-Tabanan aja sudah merasa begitu capek. Tapi apa iya? Nggg, sebenarnya nggak juga sih. Masalah terbesar sebenarnya bukan jarak, tapi aku yang kebanyakan mengantuk di jalan. Pekerjaan yang bahayanya sangat besar. Dan aku 'percaya' semuanya terjadi karena jarak yang jauh. Padahal dalam hati aku tahu tak begitu. Aku sudah biasa bawa motor ke tempat yang jauh. I'm fine. Hanya saja, most people need black sheep to every problem. Dan dalam hal ini black sheepku, si jarak, didukung dengan statemen seseorang yang mengatakan Tabanan itu jauh banget.
Well, no. I just say it that day. But I shut my mouth up. Karena beliau lebih senior dariku. Sama sekali tidak menyalahkan, tetapi sore itu harusnya aku juga menutup otakku dan tidak membiarkan statemen beliau mempengaruhi pikiranku. Biarkan saja beliau menganggap jauh, mengapa aku harus berpendapat sama? Padahal aku tahu pasti aku tidak mempermasalahkan jarak. Sekali lagi masalahnya adalah ngantuk.
Dan pagi ini, jazakillah khair to Bu Imah, aku kembali menemukan pentingnya persepsi diri. Terserah orang berpikiran apa, pikiranmulah yang terpenting. Karena ia yang akan mempengaruhi reaksimu terhadap segala sesuatu. Dan reaksi honey, akan membentuk pola bagaimana kita menghadapi masalah. Bu Imah tidak pernah memberatkan diri dengan menganggap ia tak punya waktu, atau jarak yang terlampau jauh. Yang ia pikirkan adalah demi tujuan yang baik, maka waktu selalu ada, jarak bukanlah masalah.
Seperti liqo jama'i pagi tadi. Bunda Novi menugaskanku membawakan materi, katanya sekaligus sebagai ujian. You know how freak out I am about exam. Tapi kuputuskan tak menitikberatkan presentasiku pada ujian, karena jika demikian aku akan berusaha mati-matian untuk sempurna. Sedangkan ini adalah ibadah yang ku lakukan di hadapan sesama manusia. Siapa mereka sehingga aku harus tampil sesempurna mungkin? Maka ketika tilawahpun, aku yang tadinya gemetar akhitnya dapat menenangkan diri. Tilawahku bukan untuk mengambil simpati siapapun, apalah lagi mendatangkan pujian. Aku tahu, ummahat rekan kami tadi, bacaan dan hafalan Qurannya pastilah jauh lebih baik dariku. Jadi aku berusaha membaca dengan tartil karena aku membaca kalam Ilahi, bukan yang lain. Dan alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Demikian juga dengan presentasiku. Karena aku menganggap itu semata hanya berbagi pengetahuan yang sama-sama telah kami pelajari, hanya saja aku mendapat kesempatan untuk memaparkannya sesuai pemahamanku, sementara yang lain dalam kesempatan ini mendapat tugas sebagai pendengar. Hal yang sangat membantu juga, adalah para ummahat yang sangat welcome, tidak sombong, tidak menjugde. Serta sangat kekeluargaan. The power of ukhuwah, never doubt it.
Lalu malam ini, ketika aku pusing dengan jadwal yang tiba-tiba berubah, teman yang ku harapkan bisa mengganti hanya menjawab 'nggak tau', indikasi ia tak bisa membantu lebih lanjut, aku coba menarik napas dan memanjangkan sabar. Serta tidak bersuudzon terhadap beliau. Everybody has their own moment when they don't care about the world. Tell me about it.
Kalau aku menggap semuanya kacau, lalu menyalahkan teman-teman kelompok yang mendadak setuju dengan perubahan jadwal, apa yang akan aku dapat? Ya, aku bisa menyalahkan. Tapi pada akhirnya, aku hanya akan menyimpan sakit hati dan menjalani semuanya dengan malas. Karena aku kecewa segalanya menyimpang dari keinginanku.
Sebaliknya, jika aku menganggap enteng semuanya (like something I always do, at least in the past), dan meyakinkan diri jika aku bisa. Maka semua akan baik-baik saja. Mungkin aku akan lelah, dan kekurangan waktu tidur. Tetapi setidaknya hatiku akan lapang, karena tak ada sqkit hati yang ku simpan untuk siapapun.
Semoga Allah selalu merahmati Bu Imah dan keluarga, beliau telah menjadi jalan untuk membukakan pikiranku. Bu Imah yang langsung memutuskan berjilbab ketika mendengar seorang Ustad mengatakan bahwa jilbab sama wajibnya dengan sholat. Bu Ima yang menerima suaminya hanya karena ia muslim. Menikah untuk ibadah, yang penting tidak dengan laki-laki non muslim. Yang ia berkeyakinan baik bahwa suaminya akan menjadi lebih baik dan selalu ia ingatkan meskipun Bu Imah sendiri belum paham agama. Dan alhamdulillah, sekarang merka berdua telah ikut tarbiyah. Selamatkan keluarga mereka di dunia dan akhirat Yaa Rabb. Dan semoga aku bisa menepati janji, berkunjung ke tempat beliau berjualan nasi kuning. Someday soon, insya Allah.
Comments
Post a Comment