“Perawat itu dibawahnya dokter ya Mbak?” Tanya pasienku sore itu. Tersenyum, aku berusaha menjawab: “Dulunya begitu Pak.” “Maksudnya bagaimana Mbak?” rupanya beliau meminta penjelasan lebih. “Begini Pak..” “Mbak Fitri, ini pasiennya mau suntik KB 3 bulan.” Dan jawabanku terpotong tindakan yang harus aku lakukan. Seringkali demikian, profesi kami-yang bahkan oleh beberapa dosenku dipandang pesimis-sebagai profesi abu-abu. Ada, jumlahnya bahkan paling banyak di antara tenaga kesehatan lain. Tetapi pekerjaan dan wewenangnya belum jelas. Apakah benar dibawah dokter? Atau setara seperti yang diungkapkan teori? Lalu apa bedanya dengan bidan? Dan apakah perawat boleh berpraktek mandiri? Tak kunjung disahkannya RUU Keperawatan membuat pertanyaan-pertanyan tersebut tidak bisa terjawab dengan pasti. “Mbak, dirimu merasa nggak sih kalo kita ini pembantunya dokter?” di lain waktu aku bertanya pada seorang teman. “Nggak. Dokter itu partner kita. Aku punya jobdesk...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.