Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2017

BELAJAR DARI ULAT BULU

Pagi ini 'bertemu' dengan ulat bulu hitam. Berjalan di atas perutnya. Menyeberang. Belum separuh jalan ketika aku berhasil berbelok sebelum melindasnya. Dari arah berlawanan tampak motor dan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam hati aku berdoa semoga si ulat bulu tidak terlindas. Dengan tubuh sekecil itu, apalagi berwarna hitam dan mudah mengenalinya. Tapi aku yakin ulat bulu itu terus berjalan. Dia tak tahu takdir apa yang akan dan mungkin saja menimpanya. Dia hanya tahu harus menyeberang. Yang penting sudah berusaha, hasilnya serahkan pada Allah. Dan disinilah aku merasa tertampar. Terlampau sering, aku merasa begitu pintar. Menerka-nerka skenario Allah akan hidupku ke depan. Padahal tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya esok pagi. 'Kepintaran' yang seringkali justru berakhir dengan stres tingkat tinggi. Ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang ku ciptakan sendiri. Padahal Allah pasti menyiapkan yang terbaik. Karena aku tak tahu, maka mengapa harus m...

BENCANA: SALAH MEREKA (DAN SAYA)

SALAH MEREKA (DAN SAYA) Beberapa bulan belakangan ini Indonesia seperti panen bencana. Mungkin ini maksudnya pemateri Diklatsar Relawan Bsmi Provinsi Bali dulu jika negeri kita adalah 'Supermarket Bencana'. Dari gunung meletus, banjir, puting beliung, kebakaran, semua lengkap dan mungkin terjadi. Yang teranyar adalah gempa semalam. Yang qadarullah tidak saya rasakan karena sudah tidur. Baru tahu pagi hari ketika baca grup wa dan buka FB. Masing-masing orang memiliki cara pandangnya sendiri. BMKG mengatakan ini, ahli A mengatakan AA, si B berpendapat B-, dan komunitas C menyatakan C+. Tidak sedikit postingan berseliweran di timeline saya yang mengaitkan gempa semalam dengan keputusan MK yang mengecewakan banyak pihak dan membuat pihak lain berpesta. Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam adalah kehendak Allah, Rabb Yang Maha Agung. Banyak dalil-dalil yang menyatakan jika gempa berarti ini dan itu. Silakan cari sendiri. Yang menarik,...

KNOWING IS HALF OF THE BATTLE

Knowing is half of the battle. Mendengar ungkapan ini sudah lama sekali, dan cukup sering mendongkrak pede karena merasa tahu atau mau mencari tahu. Tapi ternyata, perjalanan hidup tak sekali menjungkirbalikkan kebanggaan atas 'merasa tahu'. Ya, pengetahuan saja tak cukup. Bahkan walaupun itu sudah setengahnya dari memenangkan pertempuran. Karena setengahnya lagi adalah hal-hal tak terduga yang kita harus lakukan untuk bertahan. Seperti mengakui diri lemah, kemudian untuk menghiba kekuatan pada Yang Maha Kuasa. Menerima kadang keinginan harus bertentangan dengan orang-orang terkasih. Meyakinkan diri bahwa yang dicinta akan baik-baik saja meskipun dunia mengatakan sebaliknya. Di sebalik sesumbar pengetahuan, ada tingginya pemahaman, dan agungnya kesabaran. Pun setelah menyertakan semua, kita masih harus berlelah-lelah dengan baik sangka. Namun semua akan terbayar ketika akhirnya kita benar mengerti bahwa Allah tak akan memberi ujian diluar batas kemampuan hambaNya. Jangan...

Resep

UBI GORENG KRENYES Sejak dua minggu kemarin (pencitraan, sebenarnya sudah sedari dulu) saya ngefans sama kentang goreng yang dijual abang-abang di dekat Kampus UNS yang untuk kesana butuh 15-20 menit dari kontrakan. Juga sempol ayam, bakso bakar, batagor, dan para jajanan lain yang buat suami elus dada dan mendadak pijit-pijit kepala karena cuman bisa bilang "Nggak ada yang lebih sehat apa?" Sore ini, di tengah serangan lapar alhamdullilah masih ada ubi jalar sebiji dan dengan kekuatan Cookpad, jadilah ubi goreng yang agak lebih sehat (karena bikinan sendiri). Ini resepnya: Bahan: Ubi jalar (bisa diganti kentang) Tepung terigu 4 sendok Tepung tapioka (bisa maizena) 2 sendok Garam Merica bubuk (opsional) *Tapi karena yang ada di rumah tepung bumbu instan saya pakenya itu aja, praktis 😀 Cara pembuatan: 1. Sambil didihkan air, kupas dan bersihkan ubi, lalu potong memanjang. 2. Jika air sudah mendidih, rebus ubi selama 2-5 menit (saya 2 menit ajah, biar n...

Kids

KIDS BERKELAS JAMAN NOW Jika masuk hotel yang rada keren dikit, biasanya anak kampuang macam saya ini rodo-rodo keder gimana getoh. Tapi tidak di Solo. Entahlah, kota ini dengan segala sopan santunnya banyak berbicara tentang kesederhanaan pada saya. Wong segimanapun borjuis penampilannya, pasti ngomongnya medok. Dan halus. Buat saya, orang yang masih mau ngomong pake bahasa daerahnya itu membumi. Kecuali kalau isi omongannya sudah di awang-awang tapi kakinya masih napak di parkiran, itu lain cerita. Dan cerita sore kemarin, membuat saya yakin masa depan Indonesia masih cerah. Why? Karena ini menyangkut kids jaman now yang seringkali dikeluhkan oleh orang-orang. Saya dan suami sedang di lobby hotel yang cukup terkenal di kota ini. Yang bikin respek, senyum dan pelayanan mas resepsionisnya tidak berubah sedikitpun meskipun tahu kami datang dengan sepeda motor dan hanya untuk mengambil titipan. Ada dua buah kursi empuk di depan meja resepsionis. As a gentleman, suami menyuruh saya ...