Skip to main content

Resep

UBI GORENG KRENYES

Sejak dua minggu kemarin (pencitraan, sebenarnya sudah sedari dulu) saya ngefans sama kentang goreng yang dijual abang-abang di dekat Kampus UNS yang untuk kesana butuh 15-20 menit dari kontrakan.
Juga sempol ayam, bakso bakar, batagor, dan para jajanan lain yang buat suami elus dada dan mendadak pijit-pijit kepala karena cuman bisa bilang "Nggak ada yang lebih sehat apa?"

Sore ini, di tengah serangan lapar alhamdullilah masih ada ubi jalar sebiji dan dengan kekuatan Cookpad, jadilah ubi goreng yang agak lebih sehat (karena bikinan sendiri). Ini resepnya:

Bahan:
Ubi jalar (bisa diganti kentang)
Tepung terigu 4 sendok
Tepung tapioka (bisa maizena) 2 sendok
Garam
Merica bubuk (opsional)
*Tapi karena yang ada di rumah tepung bumbu instan saya pakenya itu aja, praktis 😀

Cara pembuatan:
1. Sambil didihkan air, kupas dan bersihkan ubi, lalu potong memanjang.
2. Jika air sudah mendidih, rebus ubi selama 2-5 menit (saya 2 menit ajah, biar nggak terlalu lembek), jika suka bisa ditambahkan garam.
3. Tiriskan ubi, lalu balurkan ke dalam tepung bumbu (atau campiuran tepung terigu dan tapioka yang sudah diberi bumbu).
4. Praktisnya, masukkan tepung dan ubi dalam satu wadah bertutup lalu dikocok. Nanti akan tertutup merata.
5. Jika punya punya kulkas, masukkan sekitar 20 menit biar tepung menempel. Lalu goreng. (Punya saya cuman ditunggu dingin terus digoreng, udah garing 😅)
6. Goreng sampai berwarna keemasan dan ubi goreng krenyes siap disajikan. Dicocol saus sambal juga enak 🙃

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...