Skip to main content

BENCANA: SALAH MEREKA (DAN SAYA)

SALAH MEREKA (DAN SAYA)

Beberapa bulan belakangan ini Indonesia seperti panen bencana. Mungkin ini maksudnya pemateri Diklatsar Relawan Bsmi Provinsi Bali dulu jika negeri kita adalah 'Supermarket Bencana'. Dari gunung meletus, banjir, puting beliung, kebakaran, semua lengkap dan mungkin terjadi.

Yang teranyar adalah gempa semalam. Yang qadarullah tidak saya rasakan karena sudah tidur. Baru tahu pagi hari ketika baca grup wa dan buka FB.

Masing-masing orang memiliki cara pandangnya sendiri. BMKG mengatakan ini, ahli A mengatakan AA, si B berpendapat B-, dan komunitas C menyatakan C+.

Tidak sedikit postingan berseliweran di timeline saya yang mengaitkan gempa semalam dengan keputusan MK yang mengecewakan banyak pihak dan membuat pihak lain berpesta.

Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam adalah kehendak Allah, Rabb Yang Maha Agung. Banyak dalil-dalil yang menyatakan jika gempa berarti ini dan itu. Silakan cari sendiri.

Yang menarik, kebanyakan dari postingan itu menyalahkan MK dan pihak yang berpesta. Tak salah, karena sekali lagi ada dalil yang diyakini.

Meskipun demikian, ijinkan saya menulis satu hal. Katanya, ketika telunjuk kita menuding orang lain, maka empat jari yang lain tanpa sadar mengarah pada diri sendiri.

Baik, mayoritas hakim MK keliru, dan kaum yang berpesta itu salah. Tetapi pernahkah kita menghisab diri? Apakah kita yakin tak ikut andil yang menyebabkan murka Allah?

Adalah akidah yang nyeleweng, shalat yang tak dikerjakan atau dilalaikan, hak saudara yang tidak ditunaikan, riba yang masih dimakan, korupsi waktu dan materi, melihat hal salah tapi dibiarkan, sibuk menghujat tapi tak pernah mendoakan..

Mereka salah, dan kita juga tak 100% benar. Tapi bukan berarti kita harus terus menghujat dan melupakan bagian diri. Untuk muhasabah, untuk melihat ke dalam diri.

Menasehati saudara adalah tanda sayang, bukan karena saya benar dan kamu salah. Dan jika perkara menasehati hanya boleh  dilakukan orang suci, maka tak ada dari kita yang berhak melakukannya.

Dan jujur saja, menerima nasehat adalah bukan perkara mudah. Apalagi mengakui jika kita memang butuh nasehat itu. Ego yang terlalu besar terkadang menutup mata dan hati.

Jadi ketika nasehat kita tak juga membuat orang bergeming, maka tenanglah. Karena kita sudah melakukan bagian kita, sisanya biarkan Allah yang selesaikan.

Maka tersisalah pertanyaan besar itu: sudahkan menghisab diri hari ini?

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...