Skip to main content

BELAJAR DARI ULAT BULU

Pagi ini 'bertemu' dengan ulat bulu hitam. Berjalan di atas perutnya. Menyeberang. Belum separuh jalan ketika aku berhasil berbelok sebelum melindasnya.

Dari arah berlawanan tampak motor dan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam hati aku berdoa semoga si ulat bulu tidak terlindas. Dengan tubuh sekecil itu, apalagi berwarna hitam dan mudah mengenalinya.

Tapi aku yakin ulat bulu itu terus berjalan. Dia tak tahu takdir apa yang akan dan mungkin saja menimpanya. Dia hanya tahu harus menyeberang. Yang penting sudah berusaha, hasilnya serahkan pada Allah.

Dan disinilah aku merasa tertampar. Terlampau sering, aku merasa begitu pintar. Menerka-nerka skenario Allah akan hidupku ke depan. Padahal tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya esok pagi.

'Kepintaran' yang seringkali justru berakhir dengan stres tingkat tinggi. Ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang ku ciptakan sendiri.

Padahal Allah pasti menyiapkan yang terbaik.

Karena aku tak tahu, maka mengapa harus memikirkan yang terburuk? Ya, mungkin saja terjadi. Tetapi bukankah kesempatannya 50:50 dengan kemungkinan terbaik?

Mengapa aku tak bisa seperti ulat bulu yang maju saja dulu, sami'na wa atho'na dulu, dan serahkan hasilnya pada Allah?

Maka bismillah, ini adalah perkara baik. Dan perkara baik pasti punya halangan. Dan aku bertekad untuk memenangi halangan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...