Pagi ini 'bertemu' dengan ulat bulu hitam. Berjalan di atas perutnya. Menyeberang. Belum separuh jalan ketika aku berhasil berbelok sebelum melindasnya.
Dari arah berlawanan tampak motor dan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam hati aku berdoa semoga si ulat bulu tidak terlindas. Dengan tubuh sekecil itu, apalagi berwarna hitam dan mudah mengenalinya.
Tapi aku yakin ulat bulu itu terus berjalan. Dia tak tahu takdir apa yang akan dan mungkin saja menimpanya. Dia hanya tahu harus menyeberang. Yang penting sudah berusaha, hasilnya serahkan pada Allah.
Dan disinilah aku merasa tertampar. Terlampau sering, aku merasa begitu pintar. Menerka-nerka skenario Allah akan hidupku ke depan. Padahal tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya esok pagi.
'Kepintaran' yang seringkali justru berakhir dengan stres tingkat tinggi. Ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang ku ciptakan sendiri.
Padahal Allah pasti menyiapkan yang terbaik.
Karena aku tak tahu, maka mengapa harus memikirkan yang terburuk? Ya, mungkin saja terjadi. Tetapi bukankah kesempatannya 50:50 dengan kemungkinan terbaik?
Mengapa aku tak bisa seperti ulat bulu yang maju saja dulu, sami'na wa atho'na dulu, dan serahkan hasilnya pada Allah?
Maka bismillah, ini adalah perkara baik. Dan perkara baik pasti punya halangan. Dan aku bertekad untuk memenangi halangan itu.
Comments
Post a Comment