"Udah selese Mbak yudisiumnya? Peringkat berapa?" Pertanyaan ini sangat wajar akan terlontar dari mereka yang mengenalku. Tepatnya, mengenal aku sebelum menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Ketika kemudian ku jawab 'Biasa saja' dan dengan nilai yang standar, ku baca raut ketidakpercayaan di wajah Puji. Dan sedikit kekecewaan. Kemudian ia segera menutupinya dan berucap "Alhamdulillah." Namun bukan Puji namanya jika ia selesai dengan satu pertanyaan. Rupanya ia sekarang tertarik membahas persiapan wisuda. "Sudah jahit kebaya Mbak?", tanyanya. "Nggak, nanti pinjem punya teman saja." Kali ini dia tidak repot-repot menyembunyikan keterkejutannya. "Tapi Mbak, ini loh wisuda S.Kep.Ns!" Sergahnya. "Terus?" Aku menahan keinginan untuk memutar bola mata. "Sepertinya Mbak kok nggak ada greget-gregetnya gitu untuk persiapan. Padahal ini loh bersejarah." Dia kemudian menghela napas. Ya, ku akui. Memang tidak ada kei...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.