Pembagian tugas Subuh ini: Ibuq en Naq Janah nyuci baju, aku, Indi, en Oga ngajakin Adek Dafi jeje. Okay noted!
Paginya, dengan terburu kami bertiga diusir (Udah Subuh, nanti ga dapet tempat nyuci di kali, gt kata Ibuq). Jadilah aku, Indi, en Dafi keluar jeje karena Oga masih tidur. Yaa keluar gt aja. Indi mulai kedinginan sementara aku biasa aja. Cuacanya ga terlalu dingin. Dafi? Dia ga bisa ngomong sih jadi aku pikir fine-fine aja. Lagian dia gendut gitu. So pasti aman laaah.
Aku juga ga bawa kain panjang apalagi gendongan. Baru jalan 200 meter aja tangan udah berasa pegel. Bayangin aja tu anak beratnya hampir sepuluh kilo. Tapi taq biarin. Ini mah belum apa-apa. Bentar doang, kalo jadi Emak seharian bakal gini. Itung-itung latihan. Uhuks.
Well, cut the description! Terlalu banyak poin pelajaran hari ini untuk (belajar) dinarasikan. Jadi aku list aja:
1. Jadi, kalo bawa bayi jeje itu mesti: pakein baju hangat, topi, bawa kain panjang atau gendongan, jangan lama-lama, jangan bawa ke kuburan apalagi kalo ibunya parnoan. Kalopun mau bawa, jangan bilang! Biar aman. Soale tadi siang Adek Dafi mendadak panas terus muntah dua kali. Emaknya langsung bilang kayaknya ini 'ketemuq' almarhum disono. Aduh, cedih ati ebie. Mungkin beliau ga mau bikin tantenya yang ga pengalaman ini merasa bersalah. Padahal bisa jadi banget itu Dafi masuk angin gegara persiapan jeje Subuh kita yang nggak matang. Hiks.. Syafakallah kanak kocet botak.
2. Waktu aku ke kuburan, aku ngeliatin nama-nama dan tanggal wafat para ahlil kubur. Sontak aku mikir. Aku nanti dikubur dimana ya? Apa sudah ada kavling disana untukku? Jelas, mati itu pasti. Tetapi kebanyakan kita tidak mempersiapkannya secara maksimal. Just like point 1. Hiks.. Entahlah, bagaiamana caranya atau siapa yang menguburkan. Pintaku satu, meninggal syahid dan husnul khotimah. Ini harus diupayakan semaksimal mungkin.
3. Bayangan seringkali jauh lebih indah dari kenyataan. Beberapa minggu ini, ada imaji lain yang hadir di kepalaku. I can't help it. Tetapi sampai disini, bertemu orangnya langsung membuatku sadar. Dan herannya aku tak merasa kecewa. Mungkin karena sadar itu hanya imaji lain yang mengisi kekosongan hati. Dalam bayanganku orang-orang begitu indah dan nyaris sempurna, padahal namanya manusia. Mereka nyata seutuhnya. Dengan segala cela dan puji. Idealisme memang baik, tetapi jika dibenturkan dengan kenyataan, seringkali ia takkan bertahan.
4. Rumah tangga orang tuaku jauh dari ideal. Menikah lama tak menjamin bisa saling mengerti pasangan. Aku merasa Mamia dan Ibu adalah tim yang kompak dalam satu hal, tetapi partner yang buruk dalam hal lain. Kurasa, itulah salah satu dinamika kehidupan berumah tangga. Dalam beberapa kajian hal ini dikupas, dengan indahnya dituturkan contoh yang berhasil. Tetapi yang ku lihat sayangnya kebanyakan contoh yang gagal. Dan dalam kajian memang dikatakan ini tidak mudah, butuh keterbukaan kedua belah pihak. Jadi apa yang bisa ku lakukan untuk kedua orang tuaku? Mulai berdoa. Itu dulu.
5. Berdoa itu bayangkan akan terwujud. Selama ini aku berdoa, memfokuskan pada emosi antara 'berharap akan terkabul dan takut tidak akan terkabul'. Padahal jujur, aku lebih sering merasa yang terakhir. Allah tak akan mengabulkan doaku karena aku orang yang kotor dan banyak melanggar perintahnya. Padahal tidak. Allah pasti akan mengabulkan, dengan bentuk terbaik menurutNya. Dan tidak ada yang sia-sia. Doa atau dzikir sekecil apapun. Maka sekarang, lakukan dengan sungguh-sungguh. Nikmati saat itu sebelum melakukan hal lain. Berdoa, dan bayangkan akan terkabul.
6. Harus lebih banyak istighfar. Bukan hanya karena dosaku yang menggunung tinggi, tetapi juga karena fadhilah istighfar yang melimpah. Aku butuh banyak keajaiban. Banyak hal baik yang ingin ku kerjakan, dan nampak mustahil jika kau kerjakan sendiri sekarang. Tetapi tidak jika Allah mengatakan iya. Karena itu aku harus banyak berdoa. Sebelum itu aku harus memperbanyak istighfar. Karena dengannya, doa akan lebih banyak terkabul. Selain itu, istighfar dapat menjadi sebab lapangnya rezeki, banyaknya keturunan, dan turunnya hujan. Ini salah satu caraku untuk membantu saudara-saudara di Riau. Siapa tahu, amal kecil ini diperhitungkan Allah. Mangga jika dikupas kulitnya pelan-pelan akan terlihat dagingnya. Bumbu jika diulek perlahan akan menjadi lembut. Masakah hatiku yang kotor tidak akan bersih jika berulang-ulang berusaha disucikan. Mungkin tidak sekarang, belum hari ini. Juga besok. Tetapi akan ada suatu waktu, kenikmatan iman itu akan aku rengkuh. Before that, let's never give up. Sedikit demi sedikit, sesaat demi sesaat.
7. Jangan remehkan kebaikan sedekah. Barangsiapa menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda. Ini yang ku pegang ketika menutup mata melanjutkan apa yang ku azzamkan setiap bulan. Ada atau tidak. Tersalur langsung atau tidak. Dan sore ini, ibu bilang akan mengalokasikan dana yang jumlahnya 10 kali lipat dana yang ku infakkan. Masya Allah, lalu apalagi yang bisa aku dustakan? Meskipun itu bukan murni milik ibu, tetapi hey, bukankah itu untukku? Aku hanya berharap Allah memudahkan rezeki ibu dan menjauhkannya dari hutang piutang. Aamiin.
8. Aku dan ibu sama-sama memikirkan keluarga. Sekarang aku paham perasaannya. Karena ku merasakan dan melakukan hal yang sama persis dengannya. We just can't help it. Ingin membantu keluarga semaksimal mungkin, tetapi kemampuan hanya sebegini. Pada saat seperti ini aku ingin kaya. Ingin sekali. Bagaimana caranya? Tunjukkan Yaa Rabb.
9. Dakwah itu benar-benar bukan sekedar kata. Beberapa saat sebelum pulang dari resepsi Kak Eddy, aku ketemu sahabatku. Ia yang biasa berkhimar menutup dada siang itu berdandan cantik dengan khimar yang lebih pendek dari biasanya. Penampilanku jauh dibandingkan para akhwat, tetapi setidaknya khimarku menutupi dada. Ia spontan mengakui kalau penampilannya agak seksi dan berusaha menarik khimarnya agar lebih panjang. Aku tak mengatakan apapun, hanya tersenyum dan sedikit menggoda soal belajar make up. Sorenya, ketika ia memasang foto resepsi tadi, khimarnya sudah lebih panjang dari saat bertemu denganku. Alhamdulillah.
10. Aku terlalu khawatir tentang pendapat orang lain tentangku. Ini membuatnya tak bebas melakukan banyak hal. Padahal aku tahu itu tidak salah. Mungkin ini juga sebabnya aku disebut peragu oleh seorang teman. Ini salah dan harus segera dihentikan. Pernyataan Ali bin Abi Thalib yang 'Tidak perlu menjelaskan dirimu sendiri. Karena yang membencimu takkan percaya dan yang menyukaimu tak membutuhkannya' ini baru benar-benar ku aplikasikan minggu kemarin dan harus ku istiqomah mulai minggu ini. Jika tidak, aku tidak akan berkembang. Aku harus tahan kritik dan berani mencoba hal-hal baru.
11. Setiap hari adalah hari baru. Juga hidup baru. Bukan seperti basa-basi yang diucapkan pada pengantin 'Selamat menempuh hidup baru.' Mungkin aku terlambat, sangat terlambat. Tetapi kita abaikan saja hal itu. Malam ini, aku merasa siap. Membuka hati, pikiran, pendengaran, penglihatan untuk membaca tanda-tandaNya. Kemudian memikirkan dan mencari ibrahnya. Aku siap untuk belajar dan merekam makna kehidupan.
Comments
Post a Comment