Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2018

Sangka Buruk Pada Pak Bakpao

Coba cobalah Bakpao yang halal Bakpao M*ga J*ya Enak rasanya Halal loh! Yang berdomisili di kota Solo, Jogja dan sekitarnya mungkin akan familiar dengan jingle ini. Jingle yang akan diputar terus lewat speaker yang dihubungkan ke sepeda motor atau gerobak. Sehingga orang akan tahu jika pedagang bakpao lewat. Saking non stopnya setiap sore lewat di kompleks, kami jadi hafal. Jadi ada yang hilang jika satu sore pedagang bakpao, satee, kue putu, roti, dan bakso kuah tidak lewat. Semua punya ciri khas masing-masing. Khusus Pak Bakpao, saya punya salah kepadanya. Pernah menaruh sangka buruk. Karena beberapa bulan lalu sering lewat di depan kontrakan pas jam Magrib. Si bapak nggak sholat ya? Pikir saya.. Padahal, saya tahu apa? Tetangga saja tak semua muslim. Kalau memang beliau non muslim, ya sah-sah saja mau berjualan di waktu sholat. Duh, saya malu sendiri. Belum lagi jika diingat umurnya yang mungkin sudah dua kali lipat dari saya bahkan lebih. Tapi masih berjualan setiap hari. ...

Antara mampu, dimampukan, dan pura-pura mampu

Ini rumahnya (foto gubuk reyot) Ini gayanya (foto sosialita in action) Familiar dengan meme itu? Yups, menggelitik, tapi kadang memang betul. Betapa banyak orang yang kita lihat kesehariannya kurang mampu tapi penampilannya kalau-kalau orang paling mampu se-desa raya. Saya sering bertanya-tanya, darimana semua kemampuan itu? Tidak semua kan begitu, ada yang memang gaya hidupnya tinggi diikuti juga dengan pendapatan yang tinggi. Atau walaupun pas-pasan, pas mau beli barang branded gitu ada aja jalannya. Pada akhirnya, mereka ini terbagi jadi tiga golongan. Golongan mampu yang memang sudah mampu dari sononya, yang tadinya kurang mampu jadi dimampukan karena terus meningkatkan ikhtiar, dan yang bangkrut karena pura-pura mampu. Yang terakhir ini biasanya terjerat hutang demi tuntutan gaya hidup tadi. Lalu apa yang membedakan? Saya baru sadar ketika tadi pagi Ummi Resty bercerita di grup reseller #ammarkids bahwa beliau baru saja belanja 1,2 juta cuma untuk buah dan camilan. Tak heran...

Bu, ten mriki wargane sae mboten?

"Mbak Fitri.. Mbak Fitri.. Assalamu'alaykum.. Boleh masuk Ndak?" Suara Aira terdengar di depan pintu. Suara kasak kusuk anak lainnya juga. Dari jendela terlihat ada 5 anak lain. Waduh? Baru jam 8 pagi ini? Pikir saya. Fayyadh baru saja bangun dari tidur kilatnya dan abahnya baru berangkat kerja. Ruang tamu saja masih berantakan. Tapi bagaimana? Mereka sudah datang. Sejak beberapa hari lalu saya dan anak-anak kompleks berjanji akan membuat cilok bersama. Mumpung mereka libur. Saya bersedia menyediakan tempat. Bahannya? Cara buatnya? Gampang, ada gugel ini. Baiklah. Saya kemudian mempersilakan mereka masuk. Sebagian langsung merubung Fayyadh yang belum pulih benar dari efek ngantuknya. Lalu saya keluarkan kabar yang saya pikir buruk. "Mbak Fitri ndak sempat belanja. Belum ada bahan apa-apa di rumah buat bikin ciloknya." "Oh, ndak apa-apa Mbak. Nanti kami pulang ambil bahannya." Jawab Aira mewakili teman-temannya. Heeeh? "Emang apa aja bahanny...

Katanya Produk Muslim, Kok Mahal?

Judul diatas adalah pertanyaan saya ketika melihat harha kebanyakan gamis/kerudung syar'i. Bukannya apa-apa, kan maksud orang beli pakaian begitu biar menutup aurat ya? Kenapa nggak dibandrol lebih murah gitu. Biar memudahkan sesama muslim untuk tampil kece tapi tetap syar'i. Itu dulu. Sebelum kenal dengan produk #ammarkids juga #kdlmuslimwear. Ternyata, satu produk itu nggak hanya ujug-ujug produksi terus jual mahal. Tapi melalui banyak proses. Mencari bahan yang bagus. Mendesain produk. Mencari tukang jahit. Menentukan tempat sablon. Riset pasar sampai mencari tim marketing. Juga pengemasan dan pengiriman. Dan seterusnya. Sementara kita tinggal terima saja. Lah, semua produk juga begitu? Lalu apa bedanya? Begini, beberapa produsen yang saya tahu sering mementingkan saudara muslim juga untuk bekerjasama. Meskipun mungkin jatuhnya jadi lebih mahal. Yang penting bantu saudara dulu. Banyak dari mereka (tak hanya produsen, tapi sampai reseller) juga menyisihkan keuntungannya u...

Jangan Tinggalkan Bayi Sendiri Dengan Ayahnya

Familiar dengan judul diatas? Yups, kemarin dulu lewat di beranda saya kumpulan video yang viral. Tentang kenyelenehan beberapa ayah ketika mengasuh bayi/balita sendiri tanpa ibu. Ada bayi yang 'diplester' di tembok, ada yang dimasukkan ke dalam baju, ada yang disuruh gelantungan. Intinya, kegiatan yang bisa bikin ibu-ibu bangsa jantungan dan berpikir ulang jika mau menitipkan anak pada ayah. Saya bagaimana? Saat menonton video itu sih saya tertawa, tapi kalau mendapati langsung mungkin akan keluar tanduk juga. Tapi belakangan ini, saya mencoba kompromi. Agar menjalani hidup lebih woles. Seperti sore kemarin. Kami baru sampai rumah menjelang Ashar. Perpaduan rasa capek dan hujan rintik-rintik membuat rasa kantuk tak bisa ditahan. Padahal itu waktunya Fayyadh mandi sore. Mumpung Abahnya di rumah, selesai sholat saya minta ijin tidur barang 30 menit saja. (Jangan ditiru ya, tidur setelah Ashar tidak dianjurkan) Abahnya Fayyadh setuju. Dan saya masih mendengar suara keran air...

EMPATI DI TAHUN BARU

Belakangan ini, saya menyadari diri tak begitu 'tegar' seperti kemarin-kemarin. Melihat foto anak yang berhasil diselamatkan setelah terjebak 12 jam di tumpukan material pasca tsunami saja membuat saya hampir menangis. Dan terpikirkan sampai berjam-jam kemudian. Yang lalu membuat saya mulai berandai-andai. Jika malam tahun baru nanti, sebagian besar orang tak merayakannya. Bukan atas dasar boleh tak boleh. Tetapi murni karena empati. Bencana alam yang tak putus melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak pertengahan tahun ini masih menyisakan banyak PR. Ribuan nyawa melayang, puluhan ribu tak memikirkan tempat tinggal yang layak, apalah lagi makan tiga kali sehari dengan menu yang diinginkan. Belum hilang trauma gempa di Lombok, belum kering luka saudara-saudara di Palu dan Donggala, kini Banten dan Lampung terdampak tsunami. Rentetan bencana demi bencana seolah tak henti. Lalu masih adakah memiliki hati untuk menyalakan kembang api? Meledakkan petasan? Bakar-bakar ikan? D...

Aisyah si Pencemburu

Dulu, saya pernah menyimpan rasa tak suka pada Aisyah r.a. Gara-garanya, membaca satu biografi Bunda Khadijah r.a. Disana, digambarkan Aisyah sebagai sosok yang sangat pencemburu. Berbanding terbalik dengan Khadijah r.a. yang sangat keibuan. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya dari kekeliruan itu. Membandingkan Aisyah dan Khadijah bukan sesuatu yang bijak dilakukan. Aisyah masih abege ketika menikah dengan Rasulullah. Sementara Khadijah sudah mencapai umur 40 tahun, perempuan dewasa yang matang dengan segudang pengalaman. Maka menjadi contohlah Aisyah, bagaimana ia jadi istri yang begitu jujur. Seringkali mengungkapkan apa yang terjadi dalam rumah tangganya untuk menjawab pertanyaan para sahabat. Juga soal cemburu. Ia pernah membanting wadah makanan berserta isinya di hadapan Rasulullah dan para sahabat yang hadir. Karena itu hadiah dari istri Rasulullah yang lain. Mak-Mak, kita berani nggak kayak gitu? Sambil uji coba ketahanbantingan Taperwer misalnya. Kalau saya belum berani...

Siapa Yang Lebih Sabar?

Belakangan ini saya cemburu. Fayyadh itu kalau Abahnya pulang kerja macam lihat odong-odong. Matanya langsung membesar, senyum terkembang sampai tertawa, terus tangan dan kaki menggapai-gapai. Kurang apa ibu sama kamu Nak? Sembilan bulan mengandung, melahirkan penuh perjuangan, setelah lahir jarang banget ninggalin paling kalo sholat atau  ke kamar mandi aja. Dan kamu lebih favoritkan Abah? #dramagulinggulingkasur Tapi baiklah, jangan fokus pada masalah. Fokus pada solusi. Mengapa kira-kira Fayyadh lebih senang sama Abah? Apa Ibu membosankan? Apa Ibu kurang sabar? Soal sabar, saya teringat jawaban seorang pakar parenting. Ketika seorang ibu bertanya mengapa suaminya lebih sabar menghadapi anak-anak daripada dirinya. "Sebenarnya, bukan Bapak-bapak lebih sabar. Sekarang coba hitung durasi pertemuan ayah dengan anak. Pagi-pagi, dari bangun tidur sampai sebelum berangkat kerja. Katakanlah 3 jam. Lalu sore-malam sepulang kerja sampai anak tidur. Katakanlah 5 jam. Itu kalau ayah ikut...

Dear Toxic Person, Terimakasih

Siang itu saya hampir tak bisa menahan marah. Hati ini sesak karena geram. Ubun-ubun pun rasanya sudah berasap. Jika ada yang melihat mungkin akan pikir-pikir mengajak bicara karena melihat wajah yang merah padam. Juga segera kabur karena besarnya energi negatif yang terpancar dari tubuh saya. Apa pasal? Siang itu adik saya video call, tepat di menit-menit awal Fayyadh baru saja tertidur. Takutnya penting, saya berjingkat meninggalkan kamar dan menerima telponnya. Baru saja gambar stabil dia langsung bertanya "Mana adik Fayyadh?" Saya mengernyitkan dahi. Bukan saja karena nadanya, tapi tampilan gambar tidak menampakkan wajahnya tapi hanya ruang tamu. Setengah kesal saya menjawab, "Baru aja tidur." Lalu dia berkata "Oh, ya sudah kalo gitu." Dan tut. Telepon dimatikan begitu saja. Tanpa kata lain apalagi salam. Yaa Rabb, dia adik saya, dan saya jauh lebih tua darinya. Tidak bisakah ia lebih sopan? Menghargai saya sebagai kakak? Namanya video call ya fac...

Dear Single Ladies, Jatuh Cintalah Pada Manusia

Bagi yang menganggap judul tulisan saya aneh atau cenderung magis, tidak apa. Mau tertawa juga silakan. Wong saya sendiri juga beranggapan begitu ketika Pak Cah, panggilan akrab Pak Cahyadi Takariawan, konselor pernikahan yang kondang itu mengungkapkan syarat pertama pernikahan. Yaitu, "Harus dengan manusia." Yaelah, emang hari gini masih ada yang nikah sama jin Pak? Nyinyir saya. "Loh, saya serius. Pastikan yang ingin Anda nikahi itu seorang manusia." Tegas beliau lagi seolah membaca keskeptisan para hadirin. "Saya tidak main-main. Kemarin lusa seorang perempuan baru lulus S1, sarjana anyar Pak, Bu, dibawa ke ruang konseling kami. Dia mau dijodohkan tetapi kekeuh sudah punya calon yang sangat dia cintai. Sudah berhubungan selama dua tahun. Namanya X, tinggal di kota Y. Ketika ditanya ketemu dimana? Jawabannya belum pernah ketemu. Dia lalu menyodorkan foto-foto si lelaki dan chat mereka." "Saya bilang kepada si Kakak, tolong selidiki akun ini. Sem...

Tentang Poligami: Perempuan Jangan Keder

"Bu, saya ibu dari tiga orang anak. Usia pernikahan kami sebelas tahun. Belakangan ini suami sering bercanda tentang poligami. Bilang 'Abi kan baik Mi, masak Umi ndak mau berbagi kebaikan dengan perempuan lain?' atau menceritakan tokoh-tokoh siapa gitu yang sukses poligami. Saya ndak tahu mesti jawab apa Bu. Dan jujur saya khawatir sendiri. Posisi saya sendiri bekerja. Jadi sampai rumah kadang ndak bisa kayak yang ibu katakan tadi. Berdandan atau menyambut suami as pulang kerja. Karena seringnya lagi masak di dapur atau nemeni anak-anak. Saya mesti gimana Bu?" Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan saat kajian kemarin. Iya, masih dengan Bu Vida. Maafkan hamba yang belum move on. Jadi sebelumnya Bu Vida menjelaskan jika kita harus meluangkan waktu untuk mempercantik diri untuk suami. Mengingat lelaki adalah makhluk visual dan diluar sana betapa banyak visual indah yang suami bisa lihat. Sedangkan di rumah ya begitu-begitu aja. #maktothejleb Minimal baju rapi ...

Romantisme Mawaddah, Sakinah, dan Rahmah

"Ibu-ibu, ada ndak disini suaminya yang ndak romantis?" Tanya Bu Vida saat memulai sesi materi. "...ada.." "Haaaah? Ndak ada?" "Ada Buuu, hampir semua." Hehe.. rupanya kecipak suara hujan membuat jawaban ibu-ibu menjadi tidak jelas. Sore kemarin kami mengadakan kajian ibu-ibu dengan tema "Romantisme Pernikahan Setelah Satu Dasawarsa". Uhuks.. Pemateri kami adalah seorang konselor pernikahan yang insya Allah nama dan prestasinya akan muncul banyak jika digoogling, yaitu Ibu Vida Rabiatul Adawiyah. Beliau aktivis ibu dan anak serta menginisiasi kelas pra nikah di Solo. Ada beberapa pernyataan yang menarik. Seperti "Pernikahannya itu adalah gerbang untuk masuk dalam masalah tanpa henti. Apalagi bagi perempuan." 😂 Nah, karena masalah terus ada, maka "Membahas pernikahan adalah seperti menasehati diri saya sendiri", lanjut beliau. Lalu mengapa memilih tema diatas? Karena 1) Yang hadir kebanyakan usia p...

Curhat Bersama Mas Fahri

"Mas, tak liat kandang burungnya kok dijemur? Lah, burunge kemana?" Saya membuka percakapan ketika Fahri, anak tetangga, datang menghampiri saya dan Fayyadh di gazebo. "Mabur i (kabur) Mbak." "Iya toh? Kapan?" Fahri tampak berpikir. "Kemarin Mbak." Lalu dia naik ke atas gazebo. Menyapa Fayyadh, dan mulai memainkan beberapa mainan yang kami bawa. "Mas Fahri sedih?" Tanya saya lagi. Dia tampak merenung lalu menjawab, "Si Meti (nama burungnya) apik i Mbak." Lima belas menit kemudian, obrolan kami berkutat soal bulu Meti dan coraknya yang cantik. Meski banyak jeda, Fahri lumayan komunikatif. Dari beberapa kalimat, terlihat ia masih belum percaya kalau burungnya sudah kabur dan masih berharap Meti segera kembali. Saya suka bercerita, dan lebih senang mendengar cerita. Apalagi dari anak-anak. Ada kepolosan yang tak bisa ditemui di manapun. Jadi, jika ada kecenderungan tak lazim, misalnya cenderung menyalahkan orang lain. Bia...