"Bu, saya ibu dari tiga orang anak. Usia pernikahan kami sebelas tahun. Belakangan ini suami sering bercanda tentang poligami. Bilang 'Abi kan baik Mi, masak Umi ndak mau berbagi kebaikan dengan perempuan lain?' atau menceritakan tokoh-tokoh siapa gitu yang sukses poligami. Saya ndak tahu mesti jawab apa Bu. Dan jujur saya khawatir sendiri. Posisi saya sendiri bekerja. Jadi sampai rumah kadang ndak bisa kayak yang ibu katakan tadi. Berdandan atau menyambut suami as pulang kerja. Karena seringnya lagi masak di dapur atau nemeni anak-anak. Saya mesti gimana Bu?" Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan saat kajian kemarin. Iya, masih dengan Bu Vida. Maafkan hamba yang belum move on.
Jadi sebelumnya Bu Vida menjelaskan jika kita harus meluangkan waktu untuk mempercantik diri untuk suami. Mengingat lelaki adalah makhluk visual dan diluar sana betapa banyak visual indah yang suami bisa lihat. Sedangkan di rumah ya begitu-begitu aja. #maktothejleb
Minimal baju rapi dan tidak ada bau-bauan tidak sedap. Usahakan ketika suami pulang disambut. Selain merasa dihargai, suami juga akan fokus kepada kita dan kecantikan kita yang aduhai itu (uhuks..), bukan kepada rumah yang berantakan.
Lah iya, yang punya anak kecil dan rumah selalu rapi mohon ngacung? Aku padamu suhu.
Menyambut suami meminimalisir kemungkinan dia akan menyapu pandangan ke rumah yang berantakan, membuatnya stres, dan nantinya menyalahkan kita. Kemudian kita yang sudah lelah seharian menjaga anak-anaknya akan merasa tidak dihargai dan marah. Lalu marilah kita mulai pertengkaran ini dengan sama-sama membaca basmallah..
Dijelaskan juga, memang lelaki pada dasarnya bisa membagi hati. Artinya, mereka bisa mencintai perempuan lain tapi tetap mencintai kita. Ditambah lagi dengan ego ingin membuktikan kemampuan. Jadi jika merasa sudah bisa membahagiakan satu orang, ingin pula membahagiakan yang lain. Eaaaaaa..
Sabar ya Mak, ini memang fitrah. Kalau tidak bisa diterima, dibaca aja dulu. Mungkin nanti bisa pada saatnya bisa dikunyah pelan-pelan.
Apalagi lelaki yang punya potensi jadi leader. Ustad, tokoh masyarakat, pengusaha sukses, pemimpin organisasi, you name it! Peluang ini menjadi jauh lebih besar. *Mari degdegan bersama Mak.
Tapi jangan was-was dulu, karena jawaban Bu Vida atas pertanyaan diatas saya yakin bisa bikin emak-emak manggut-manggut.
"Begini. Ibu jangan keder duluan. Saat tenang bisa ngomong berdua, coba tantang balik suami ibu. Tanya, 'Baik, jika itu mau Abi. Apa sudah ada calonnya? Kapan Abi mau poligami?' Lalu lihat reaksi suami. Kadang mereka hanya mau test the water. Kadang memang serius. Kalaupun serius, minta mereka evaluasi kekurangan kita dulu."
"Kurangku apa sama Abi? Aku ndak bisa dandan tiap hari? Ndak bisa nyambut pas pulang kerja? Lah piye kerjaan rumah numpuk. Kalau Abi sediakan khadimat itu bisa diatur. Terus aku ndak bisa melayani kebutuhan biologis Abi? Kapan itu? Coba diingat-ingat. Mungkin aku capek Bi. Lah gimana aku kan kerja. Abis itu ngurus anak-anak dan kerjaan rumah. Nek aku resign kan bisa diatasi. Tapi Abi apa udah sanggup nutupi kebutuhan kita?"
"Segini-segini loh biaya makan. Listrik. Sekolah anak-anak. Jajan anak-anak. Bensin untuk wara-wiri. Hadapkan suami pada realita. Jangan keder duluan Bu. Suami juga mesti evaluasi diri, apa memang benar suami sudah mampu?"
"Biasanya dasar teori bilang mau mengikuti sunnah Rasulullah. Gimana dengan sunnah yang lain? Shalat Tahajud, sholat Dhuha, Zikir pagi petang, perbanyak baca Qur'an, perbanyak sedekah, puasa Senin-Kamis, baik sama tetangga, memuliakan tamu, menghindari riba. Sudah belum? Jangan ujug-ujug poligami saja yang mau diikuti."
"Jika masih ngeyel juga, coba suruh pandang anak perempuan Ibu. Bilang, Bi, kita juga punya anak perempuan. Apa Abi tega jika nanti anak perempuan kita juga dipoligami suaminya? Rasulullah aja ndak rela Fatimah dipoligami sama Ali. Bukankah itu juga teladan dari Rasulullah?"
Jika ada yang kemudian mengatakan Rasulullah tak setuju karena yang dinikahi Ali adalah putri Abu Lahab, berdasarkan sabdanya, "Tak mungkin putri Rasulullah dan musuh Allah tinggal bersama di satu rumah."
Lalu apakah Ali pernah mencoba untuk menikah lagi dengan putri sahabat misalnya?
Maka ketahuilah, poligami pada dasarnya sulit dan menyakitkan bagi perempuan. Sangat menyakitkan. Hanya mereka yang sudah selesai dengan dirinya yang akan ikhlas menjalaninya. Dan itu jumlahnya masih terbatas. Maka dari itu ganjarannya konon adalah payung Siti Fatimah di akhirat. Jika itu mudah, maka hadiahnya adalah barang payung cantik.
Bukan hanya bagi seorang istri, bagi anak-anak itu juga sesuatu yang berat. Apalagi jika dijalankan tidak sesuai syariat. Efeknya tak jauh berbeda dengan perceraian. Karena anak akan mengalami pengabaian dari orang tua. Belum lagi jika ditambah cekcok sana sini.
Saya tidak anti poligami. Itu syariat Islam yang mengandung kebaikan jika syarat-syaratnya terpenuhi.
Saya hanya seorang istri yang gemas dengan lelaki yang menganggap iman perempuan rendah jika tak mau dipoligami padahal diri sendiri belum memenuhi syarat. Juga seorang anak yang pernah mengalami bagaimana tak enaknya atmosfer keluarga dengan ayah yang berpoligami.
Jadi monggo ditimbang-timbang dulu Pak-Bapak. Surga itu tak akan menjauh hanya dengan satu istri.
Comments
Post a Comment