Dulu, saya pernah menyimpan rasa tak suka pada Aisyah r.a. Gara-garanya, membaca satu biografi Bunda Khadijah r.a. Disana, digambarkan Aisyah sebagai sosok yang sangat pencemburu. Berbanding terbalik dengan Khadijah r.a. yang sangat keibuan.
Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya dari kekeliruan itu. Membandingkan Aisyah dan Khadijah bukan sesuatu yang bijak dilakukan. Aisyah masih abege ketika menikah dengan Rasulullah. Sementara Khadijah sudah mencapai umur 40 tahun, perempuan dewasa yang matang dengan segudang pengalaman.
Maka menjadi contohlah Aisyah, bagaimana ia jadi istri yang begitu jujur. Seringkali mengungkapkan apa yang terjadi dalam rumah tangganya untuk menjawab pertanyaan para sahabat. Juga soal cemburu. Ia pernah membanting wadah makanan berserta isinya di hadapan Rasulullah dan para sahabat yang hadir. Karena itu hadiah dari istri Rasulullah yang lain.
Mak-Mak, kita berani nggak kayak gitu? Sambil uji coba ketahanbantingan Taperwer misalnya.
Kalau saya belum berani Mak. Ngomong cemburu aja masih nggak berani lihat wajah.
Jadi ya cemburu itu memang fitrah. Nggak perlu gengsi apalagi merasa bersalah. Wong Rasulullah digituin aja cuman bilang, "Maafkan, Ibu kalian sedang cemburu.."
Saya bertanya-tanya apakah para sahabat bercerita pada istri masing-masing setelah kejadian itu. Lalu para istri akan punya amunisi di hadapan para suami. Tuh lihat, Aisyah aja gitu.
Hoho.. bagaimanapun, cemburu itu tanda cinta. Bumbu pernikahan. Namun namanya bumbu, akan terasa sedap jika takarannya pas. Tidak kurang, dan tidak lebih.
Jadi, apa cerita cemburumu Mak?
Fitria
Istri yang sedang cemburu
Comments
Post a Comment