Skip to main content

Siapa Yang Lebih Sabar?

Belakangan ini saya cemburu. Fayyadh itu kalau Abahnya pulang kerja macam lihat odong-odong. Matanya langsung membesar, senyum terkembang sampai tertawa, terus tangan dan kaki menggapai-gapai.

Kurang apa ibu sama kamu Nak? Sembilan bulan mengandung, melahirkan penuh perjuangan, setelah lahir jarang banget ninggalin paling kalo sholat atau  ke kamar mandi aja. Dan kamu lebih favoritkan Abah? #dramagulinggulingkasur

Tapi baiklah, jangan fokus pada masalah. Fokus pada solusi. Mengapa kira-kira Fayyadh lebih senang sama Abah? Apa Ibu membosankan? Apa Ibu kurang sabar?

Soal sabar, saya teringat jawaban seorang pakar parenting. Ketika seorang ibu bertanya mengapa suaminya lebih sabar menghadapi anak-anak daripada dirinya. "Sebenarnya, bukan Bapak-bapak lebih sabar. Sekarang coba hitung durasi pertemuan ayah dengan anak. Pagi-pagi, dari bangun tidur sampai sebelum berangkat kerja. Katakanlah 3 jam. Lalu sore-malam sepulang kerja sampai anak tidur. Katakanlah 5 jam. Itu kalau ayah ikut mengurus anak."

"Kalau sampai rumah kerjaannya main hape atau nonton tipi? Atau keluar rumah lagi? Lebih berkurang lagi durasi pertemuannya. Dibandingkan dengan ibu yang 24 jam sehari. 8:24 bisa jadi 1 banding 3. Kelihatannya aja bapak-bapak sabarnya 3 kali lipat tapi pada dasarnya sama aja. Coba kasi mereka yang urus anak-anak 24 jam. Tiga hari saja. Apa masih lebih sabar?"

Nah loh, jadi tidak heran ya mengapa Rasulullah mengatakan bakti itu kepada "Ibumu, Ibumu, Ibumu, baru Ayahmu." Lalu bagaimana dengan ibu yang bekerja? Kan nggak nemenin tiap hari juga?

Lah, itu si ibu kerja buat siapa? Untuk anaknya juga mesti. Dan perjalanan kehamilan, melahirkan, dan menyusui itu sendiri juga tak tergantikan. Hanya bisa dilakukan seorang ibu.

Lalu Fit, apa jawaban kenapa Fayyadh lebih favoritkan Abahnya?

Ya mbuhlah. Alhamdulillah, berarti kalau Abahnya ada saya bisa istirahat momong. Nanti kalau minta nen atau mau tidur paling nyarinya ibunya juga. #cemburuterkondisikan.

Eniwe, durhaka sama suami itu kok balasannya bisa instan ya?

Ceritanya saya naksir berat kaos ini buat Fayyadh, sekalian manas-manasin Abahnya gitu. Eeeeeh ternyata ini buat anak cewek. #emakmustitobat

#F25Store
#kaosanakmuslim
#kelascovertselling
#mcs

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...