Familiar dengan judul diatas? Yups, kemarin dulu lewat di beranda saya kumpulan video yang viral. Tentang kenyelenehan beberapa ayah ketika mengasuh bayi/balita sendiri tanpa ibu.
Ada bayi yang 'diplester' di tembok, ada yang dimasukkan ke dalam baju, ada yang disuruh gelantungan. Intinya, kegiatan yang bisa bikin ibu-ibu bangsa jantungan dan berpikir ulang jika mau menitipkan anak pada ayah.
Saya bagaimana? Saat menonton video itu sih saya tertawa, tapi kalau mendapati langsung mungkin akan keluar tanduk juga.
Tapi belakangan ini, saya mencoba kompromi. Agar menjalani hidup lebih woles. Seperti sore kemarin.
Kami baru sampai rumah menjelang Ashar. Perpaduan rasa capek dan hujan rintik-rintik membuat rasa kantuk tak bisa ditahan. Padahal itu waktunya Fayyadh mandi sore. Mumpung Abahnya di rumah, selesai sholat saya minta ijin tidur barang 30 menit saja. (Jangan ditiru ya, tidur setelah Ashar tidak dianjurkan)
Abahnya Fayyadh setuju. Dan saya masih mendengar suara keran air dibuka. Masih mikir bagaimanapun kalau dia menangis padahal saya baru akan terlelap? Daripada jadi pusing apa tidurnya ditunda saja?
Ah, ini kesempatan langka. Eksekusi saja. Bisik hati saya. Dia sudah kenyang menyusui, sudah tidur juga di perjalanan, dan sudah biasa dimandikan setelah itu jalan-jalan bersama abahnya. Maka saya pun tidur sore dengan damai.
Entah berapa lama saya tertidur, lalu terbangun mendengar suara tangis Fayyadh. Dia sudah rapi, tapi rupanya bosan main di dalam. Diluar gerimis masih turun. Lalu, dengan ceria Abahnya bercerita, "Kami tadi mandi hujan sebelum dia mandi. Setelah mandi juga, tapi nggak lama karena dia menggigil."
Bayi lima bulan, masih mandi air hangat, dan diajak mandi hujan. Yaa Salaam, kepala mendadak nyut-nyut. Di halaman belakang kami ada semacam talang air yang menjadi pancuran ketika hujan. Dan Fayyadh memang antusias sekali melihatnya. Apalagi menyentuh airnya. Tawanya begitu keras. Tapi tetap saja, risiko masuk angin besar. Apalagi pileknya baru saja sembuh.
Tak hanya itu, ketika buka hape. Kepala saya makin nyut-nyutan. Disana tampak foto Fayyadh di pojokan bak mandinya. Posisi badan tertekuk, tidak bebas terlentang.
Saya gemas mau mengomel, tapi bagaimana? Sudah terlanjur. Dan saya berpikir lagi, apakah memang salah? Toh buktinya Fayyadh baik-baik saja.
Cara saya dan abahnya memperlakukan Fayyadh berbeda. Namun tidak berarti itu salah. Meskipun terlihat cuek, saya yakin banyak laki-laki gemar membaca artikel/buku parenting. Meskipun intensitas tidak sesering perempuan.
Lagipula, Fayyadh anak lelaki. Lalu darimana ia akan belajar menjadi lelaki jika tidak dari ayahnya? Jadi saya biarkan. Sejak kepalanya tegak sudah diajak lari-lari main bola. Belum genap empat bulan sudah naik motor berdua beli gas. Jangan tanya soal bepergian jauh.
Keterlibatan ayah mengasuh anak sejak lahir sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Membuat anak menjadi pribadi yang gampang bergaul, memiliki IQ yang lebih tinggi.
Jadi Mak, woles ya. Nikmati saja 'me time' yang kadang sebulan sekali itupun sulit. Para ayah yang kadang minta dijawil itu, tahu batasannya.
Fitria
Ibu Fayyadh yang pengen woles
Comments
Post a Comment