Belakangan ini, saya menyadari diri tak begitu 'tegar' seperti kemarin-kemarin. Melihat foto anak yang berhasil diselamatkan setelah terjebak 12 jam di tumpukan material pasca tsunami saja membuat saya hampir menangis. Dan terpikirkan sampai berjam-jam kemudian.
Yang lalu membuat saya mulai berandai-andai. Jika malam tahun baru nanti, sebagian besar orang tak merayakannya.
Bukan atas dasar boleh tak boleh. Tetapi murni karena empati. Bencana alam yang tak putus melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak pertengahan tahun ini masih menyisakan banyak PR. Ribuan nyawa melayang, puluhan ribu tak memikirkan tempat tinggal yang layak, apalah lagi makan tiga kali sehari dengan menu yang diinginkan.
Belum hilang trauma gempa di Lombok, belum kering luka saudara-saudara di Palu dan Donggala, kini Banten dan Lampung terdampak tsunami. Rentetan bencana demi bencana seolah tak henti.
Lalu masih adakah memiliki hati untuk menyalakan kembang api? Meledakkan petasan? Bakar-bakar ikan?
Di musim hujan, ribuan orang masih kebasahan dalam tenda. Jenazah masih dievakuasi di Banten. Korban luka juga belum semua bisa terdata. Tak bisakah kita sekadar menahan diri untuk bersenang-senang demi berempati terhadap apa yang mereka rasakan?
"Alah, banyak omong lu. Duit, duit gue, gue yang nyari susah-susah, terserah dong gue musti apain!"
"Emang kamu udah ngapain buat para korban? Bukannya cuman momong anak di rumah? Sok ngingetin orang!"
"Aku sudah donasi sekian juta. Mau ngomong apalagi?"
Ya, saya tahu diri. Tak punya urusan soal materi. Hanya ingin melepas gundah hati. Semoga dapat menggugah nurani. Beda bukan berarti iri. Juga pantas dicaci maki.
Comments
Post a Comment