Siang itu saya hampir tak bisa menahan marah. Hati ini sesak karena geram. Ubun-ubun pun rasanya sudah berasap. Jika ada yang melihat mungkin akan pikir-pikir mengajak bicara karena melihat wajah yang merah padam. Juga segera kabur karena besarnya energi negatif yang terpancar dari tubuh saya.
Apa pasal?
Siang itu adik saya video call, tepat di menit-menit awal Fayyadh baru saja tertidur. Takutnya penting, saya berjingkat meninggalkan kamar dan menerima telponnya. Baru saja gambar stabil dia langsung bertanya "Mana adik Fayyadh?" Saya mengernyitkan dahi. Bukan saja karena nadanya, tapi tampilan gambar tidak menampakkan wajahnya tapi hanya ruang tamu.
Setengah kesal saya menjawab, "Baru aja tidur."
Lalu dia berkata "Oh, ya sudah kalo gitu." Dan tut. Telepon dimatikan begitu saja. Tanpa kata lain apalagi salam.
Yaa Rabb, dia adik saya, dan saya jauh lebih tua darinya. Tidak bisakah ia lebih sopan? Menghargai saya sebagai kakak? Namanya video call ya face to face. Bukan disuruh ngomong sama tembok. Dimana adabnya?
Nggak bisa begini, pikir saya. Itu anak harus dikasi pelajaran. Biar nggak keterusan. Jari ini sudah bersiap-siap mengetik omelan pedas dan dirasa akan membuatnya kapok ketika Allah memberikan saya kesempatan berpikir.
Bagaimana jika ia tidak menerima apa yang saya katakan kemudian semakin menjadi? Kayu bengkok akan patah jika terpaksa diluruskan. Harus pelan-pelan jika ingin hasil yang baik.
Lalu seperti potongan film hitam putih, beberapa kejadian terlintas jelas di bayangan saya. Dua diantaranya akan saya tuliskan.
#1
"Dasar kamu itu tidak tahu sopan santun? Nggak diajarin sama orang tuamu? Kalau ada orang tua itu bilang 'tabik' caranya." Omel sesebibi ketika saya melintas di hadapannya. Seolah tak peduli wajah anak berusia 8 tahun yang sudah menunduk di hadapan keluarga besar dan orang kampung yang kala itu sedang berkumpul karena ada hajatan, ia melanjutkan "Coba lihat itu si Manis (nama keponakannya), dia sih tahu adab. Sopan sama orang tua."
Dan bertahun-tahun setelah itu, saya selalu membungkukkan badan sambil berkata 'nurge' (versi lebih halus dari 'tabik') jika melewati orang yang lebih tua. Sampai ibu kos pernah mengingatkan, "Ndak usah terlalu nunduk, biasa aja. Nanti kamu bungkuk."
#2
Ketika saya kelas 6 SD. Ibuq sering mengingatkan untuk memakai bedak jika bepergian agar kulit saya yang coklat ini tidak terlihat begitu kusam. Dan saya pun menurut. Satu waktu, tetangga melihat wajah saya yang telah dibedaki. Spontan tawanya meledak diiringi kalimat, "Eee nenek keji, ruen pupuran nin peno. Maraq begang teriq liq tepung! (Ya Tuhan, hasil bedakannya. Kayak tikus jatuh di tepung!"
Seketika saya langsung berbalik, ke kamar mandi mengambil wudhu. Tak hanya menghapus sisa bedak, tapi juga buliran air mata.
Sampai dewasa, saya selalu tak pede bertemu dengan si tetangga. Apalagi jika sudah merasa berdandan. Ada perasaan was-was takut dipermalukan lagi. Mungkin itu juga yang menyebabkan saya tak begitu peduli dengan tetek bengek tata rias.
Mungkin sebagian orang akan menganggap saya terlalu sensitif. Silakan. Meskipun begitu, tidakkah ada yang merasa terganggu saya begitu mengingat detail kejadian belasan tahun lalu?
Seperti sebuah lirik lagu, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Demikian juga luka yang ditorehkan pada anak kecil. Detailnya membekas seperti prasasti.
Mungkin tak semua anak seperti saya. Tapi saya yakin semua anak, jika bisa memilih, akan memilih dinasehati dengan kalimat dan cara yang positif. Bukan omelan pedas atau celaan yang diiringi tawa. Apalagi dipermalukan di depan umum.
Maka Maha Suci Allah, yang siang itu menggiring tangan saya untuk menulis kalimat yang lebih baik dari yang saya niatkan sebelumnya. Dan hasilnya, beberapa kali video call selanjutnya, selalu adik saya buka dan tutup dengan salam.
Itu baru satu hal. Belum banyak hal lain. "Generasi sekarang," meminjam kalimat guru SMA saya, "Unggul dalam kecerdasan dan daya tangkap yang cepat. Bahkan tak jarang lebih pintar dari gurunya. Tapi soal adab dan keinginan untuk berjuang, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kalian yang dulu agak lamban mengerti jika dijelaskan."
Duhai, berat beban orang tua saat ini. Apa kabar kami saat Fayyadh besar nanti?
Yang jelas, saya berterima kasih pada beberapa toxic person yang membuat masa kecil saya terasa menyakitkan disana-sini. Somehow, itu membuat saya lebih kuat. Dan bertekad dalam hati, tak akan menyebabkan sakit yang sama untuk anak-anak saya, atau anak-anak lain yang saya temui.
Toxic person itu seperti Demetor. Baru datang saja, bisa menyerap kebahagiaan kita. Jika lama-lama berada di dekat mereka, kebahagiaan kita akan terserap habis. Tak ada jalan lain selain mengingat bahwa masih ada kebahagiaan lain yang kita punya, dan aura negatif merak tak akan mempengaruhi kita jika kita lawan kemudian tak pedulikan.
Toxic person biarlah menjadi toxic person. Terima saja jika memang ada tipe orang seperti itu. Jika mungkin maklumi dan doakan. Entah pengalaman hidup seperti apa yang menjadikan mereka demikian.
Semoga Allah mampukan kita untuk menjaga diri dari menyakiti orang lain. Terlebih, hati murni anak-anak.
Fitria
Yang belajar untuk tidak jadi toxic person
Comments
Post a Comment