Skip to main content

Curhat Bersama Mas Fahri

"Mas, tak liat kandang burungnya kok dijemur? Lah, burunge kemana?" Saya membuka percakapan ketika Fahri, anak tetangga, datang menghampiri saya dan Fayyadh di gazebo.
"Mabur i (kabur) Mbak."
"Iya toh? Kapan?"
Fahri tampak berpikir. "Kemarin Mbak."

Lalu dia naik ke atas gazebo. Menyapa Fayyadh, dan mulai memainkan beberapa mainan yang kami bawa.

"Mas Fahri sedih?" Tanya saya lagi.
Dia tampak merenung lalu menjawab, "Si Meti (nama burungnya) apik i Mbak."

Lima belas menit kemudian, obrolan kami berkutat soal bulu Meti dan coraknya yang cantik. Meski banyak jeda, Fahri lumayan komunikatif. Dari beberapa kalimat, terlihat ia masih belum percaya kalau burungnya sudah kabur dan masih berharap Meti segera kembali.

Saya suka bercerita, dan lebih senang mendengar cerita. Apalagi dari anak-anak. Ada kepolosan yang tak bisa ditemui di manapun. Jadi, jika ada kecenderungan tak lazim, misalnya cenderung menyalahkan orang lain. Biasanya ada peran orang dewasa di dalamnya.

Dunia anak-anak kadang penuh rahasia. Dan dengan saling bercerita, saya merasa memiliki 'rahasia khusus' bersama mereka. Tentu saja, ini menjadi penguat ikatan di antara kami, jika ada. Juga menjadi momen kepercayaan itu terbentuk, karena kita ada untuk mendengarkan.

Ah, jadi ingat buku #mantracovertselling yang sedang saya perjuangkan untuk miliki. Uhuks.. Buku penjualan yang katanya paling jelek sedunia. Tapi anehnya banyak yang ngebet nyari.

Okay, kembali ke laptop, eh, mendengarkan cerita. Ternyata bisa jadi jalan untuk anak menjadi lebih pede dan mengembangkan kemampuan bahasanya loh. Dan untuk kita sendiri, bisa melihat sejauh mana perkembangan anak. Juga persepsi mereka tentang banyak hal. Jadi bahan koreksi untuk orang tua jika ada yang tak sesuai dengan usianya.

Ah, jadi tidak sabar dengar cerita Fayyadh..

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...