Skip to main content

Antara mampu, dimampukan, dan pura-pura mampu

Ini rumahnya (foto gubuk reyot)
Ini gayanya (foto sosialita in action)

Familiar dengan meme itu? Yups, menggelitik, tapi kadang memang betul. Betapa banyak orang yang kita lihat kesehariannya kurang mampu tapi penampilannya kalau-kalau orang paling mampu se-desa raya.

Saya sering bertanya-tanya, darimana semua kemampuan itu? Tidak semua kan begitu, ada yang memang gaya hidupnya tinggi diikuti juga dengan pendapatan yang tinggi. Atau walaupun pas-pasan, pas mau beli barang branded gitu ada aja jalannya.

Pada akhirnya, mereka ini terbagi jadi tiga golongan. Golongan mampu yang memang sudah mampu dari sononya, yang tadinya kurang mampu jadi dimampukan karena terus meningkatkan ikhtiar, dan yang bangkrut karena pura-pura mampu. Yang terakhir ini biasanya terjerat hutang demi tuntutan gaya hidup tadi.

Lalu apa yang membedakan?

Saya baru sadar ketika tadi pagi Ummi Resty bercerita di grup reseller #ammarkids bahwa beliau baru saja belanja 1,2 juta cuma untuk buah dan camilan. Tak heran. Sebelum-sebelumnya beliau memang sering bercerita bahwa budget untuk anak berkebutuhan khusus memang lumayan.

Yang dikatakan selanjutnya buat saya tersentak "Diamanahi anak spesial harus diperlakukan dengan spesial pula."

Jadi sebenarnya, mau memberikan yang terbaik buat anak atau siapapun itu pilihan kita. Yang penting adalah niatnya apa. Jika niatnya benar untuk memuliakan titipan Allah, nanti Allah sendiri yang mampukan.

Maka tak heran jika banyak cerita pemulung atau penarik becak yang anaknya sukses kuliah sampai luar negeri. Kita tak tahu, hal terbaik yang pernah mereka lakukan untuk anaknya. Meskipun mungkin tidak selalu dari segi biaya. Maka Allah yang mampukan anak-anaknya lebih dari yang lain.

Tapi perlu diingat, kapan kita harus memampukan diri atau pura-pura mampu. Jika hanya untuk keperluan konsumtif dan ngotot beli barang premium sementara kebutuhan primer abai ya sudahlah. Bagaimana Allah mau tambah kemampuan finansial dan yang lain kalau mengatur prioritas saja masih belum mampu?

Eniwe, alih-alih Ar Rum 21 yang termasyhur, kami dulu memilih ayat dibawah untuk dicantumkan di undangan pernikahan. Niatnya untuk memotivasi para singlelillah yang ragu menikah karena menganggap diri masih miskin. Ada yang termotivasi atau tidak, yang penting sudah diniatkan.

Fitria

Yang masih harus sering memperbaiki niat

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...