Skip to main content

Katanya Produk Muslim, Kok Mahal?

Judul diatas adalah pertanyaan saya ketika melihat harha kebanyakan gamis/kerudung syar'i. Bukannya apa-apa, kan maksud orang beli pakaian begitu biar menutup aurat ya? Kenapa nggak dibandrol lebih murah gitu. Biar memudahkan sesama muslim untuk tampil kece tapi tetap syar'i.

Itu dulu. Sebelum kenal dengan produk #ammarkids juga #kdlmuslimwear. Ternyata, satu produk itu nggak hanya ujug-ujug produksi terus jual mahal. Tapi melalui banyak proses.

Mencari bahan yang bagus. Mendesain produk. Mencari tukang jahit. Menentukan tempat sablon. Riset pasar sampai mencari tim marketing. Juga pengemasan dan pengiriman. Dan seterusnya. Sementara kita tinggal terima saja.

Lah, semua produk juga begitu? Lalu apa bedanya?

Begini, beberapa produsen yang saya tahu sering mementingkan saudara muslim juga untuk bekerjasama. Meskipun mungkin jatuhnya jadi lebih mahal. Yang penting bantu saudara dulu. Banyak dari mereka (tak hanya produsen, tapi sampai reseller) juga menyisihkan keuntungannya untuk disalurkan ke lembaga sosial. Belum lagi jika dihitung nilai dakwah dari baju yang dipakai.

Untuk anak-anak prioritasnya beda lagi. Selain desain, bahan yang nyaman, gampang dicuci, dan awet biasanya jadi pertimbangan utama. Bahan cotton combed 24 s misalnya. Sudah terbukti juga tidak gampang melar.

Kepuasan konsumen juga biasanya jadi pertimbangan besar dari produsen busana muslim, apalagi yang sudah branded. Karena namanya juga belanja online. Kadang transaksi hanya berdasarkan 'saling percaya'.

Maka dari itu saya berani jadi reseller #ammarkids. Soalnya se-Indonesia barangnya sama persis kualitasnya. Jadi ya kalau rada mahal, jawabnya gampang, "Se-Indonesia juga harganya segitu."

Tapi balik lagi. Prioritas orang beda-beda. Juga mindset-nya. Yang penting saat kita berinteraksi baik, meskipun tak jadi transaksi itu bukan masalah. Karena setiap orang ada rezekinya masing-masing. Setiap produk pun punya jodoh masing-masing.

So, keep the baper at minimum gaes! Baik pembeli, terlebih penjual.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...