Skip to main content

Bu, ten mriki wargane sae mboten?

"Mbak Fitri.. Mbak Fitri.. Assalamu'alaykum.. Boleh masuk Ndak?" Suara Aira terdengar di depan pintu. Suara kasak kusuk anak lainnya juga. Dari jendela terlihat ada 5 anak lain.

Waduh? Baru jam 8 pagi ini? Pikir saya. Fayyadh baru saja bangun dari tidur kilatnya dan abahnya baru berangkat kerja. Ruang tamu saja masih berantakan. Tapi bagaimana? Mereka sudah datang.

Sejak beberapa hari lalu saya dan anak-anak kompleks berjanji akan membuat cilok bersama. Mumpung mereka libur. Saya bersedia menyediakan tempat. Bahannya? Cara buatnya? Gampang, ada gugel ini.

Baiklah. Saya kemudian mempersilakan mereka masuk. Sebagian langsung merubung Fayyadh yang belum pulih benar dari efek ngantuknya. Lalu saya keluarkan kabar yang saya pikir buruk. "Mbak Fitri ndak sempat belanja. Belum ada bahan apa-apa di rumah buat bikin ciloknya."

"Oh, ndak apa-apa Mbak. Nanti kami pulang ambil bahannya." Jawab Aira mewakili teman-temannya.

Heeeh?

"Emang apa aja bahannya?" Lalu dia mulai menyebutkan satu persatu. Saya juga sudah browsing sebelumnya, dan memang benar jawabannya.

Setelah rembuk mereka pulang ke rumah masing-masing. Aira mengambil tepung tapioka, Raina mengambil tepung terigu, Nayla mengambil daun bawang, dan Iffah memetik daun seledri. Entah siapa yang membawa wortel. Zahra yang tidak membawa apa-apa menyerahkan uang 5000 rupiah. Saya terima, agar ia juga merasa ada sumbangsih.

Sambil menunggu ibu penjual ayam datang, mereka mulai memotong sayuran kecil-kecil. Ada yang memarut wortel. Juga mengupas bawang putih. Bagaimana dengan Fayyadh? Dimomong Maliha. Anak kelas 4 SD tapi sudah terampil menggendong bayi.

Setelah ayam datang, kami memutuskan mencacahnya kecil-kecil karena tak ada blender. Setelah semua siap saya larang mereka ikut mencampur adonan. Setelah kalis baru boleh ikut membentuk. Waaah, ternyata seru juga buat cilok bersama hampir selusin anak-anak. Meskipun karpet jadi kena tepung dan perabot yang terpakai juga lumayan banyak.

Kami selesai hampir setengah 11. Rasanya gimana? Kata anak-anak enak. Meskipun cuma dicocol sambal botolan seadanya. Itu cilok yang tiga piring ludes dalam waktu kurang dari 15 menit.

Belum selesai beres-beres, Fayyadh diantar dalam keadaan menangis. Rupanya sudah tak bisa lagi menahan kantuk. Saya izin pada anak-anak untuk ngelonin Fayyadh di dalam kamar. Berpesan menutup pintu jika mereka pulang.

Setengah jam berlalu, beberapa dari mereka dari balik pintu pamit pulang. Tak lupa mengatakan "Makasi banyak Mbak Fitri."

Lima belas menit kemudian saya keluar. Ternyata pintu tak ditutup. Ternyata cantelan diatas terpasang, dan tidak ada dari mereka yang cukup tinggi untuk membukanya. Yang paling surprise adalah ketika saya ke dapur. Masih tak begitu rapi, tapi semua peralatan yang digunakan sudah bersih dan ditaruh di rak piring.

Masya Allah tabarakallah anak-anak.

Jadi, ketika sesebapak yang mencari kontrakan bertanya pada saya "Bu, ten mriki wargane sae mboten? (Bu, disini warganya baik-baik nggak?)"

Tak perlu waktu lama untuk saya tersenyum dan bilang, "Njih Pak. Baik-baik semua. Anak-anak juga sopan."

Fitria

Penghuni Perum Griya Wonorejo

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...