"Jadi kamu mau kesini karena mau nemuin temen-temenmu?" Tanya Bunda Yusi. "Iya Bund", aku menjawab setengah mantap. Masih belum sepenuhnya percaya setelah sekian lama akhirnya aku menapakkan kaki di Jogja. Namun tanpa sambutan apapun dari mereka, orang-orang yang ku anggap saudaraku. Air mataku hampir menitik saat itu. Hatiku seperti terhantam palu godam. Inilah kenyataan, menghubungi merekapun aku sungkan. Bagamana berani berharap mereka akan menemuiku? Namun ku tepis hal itu. Ku lanjutkan makan yang entah mengapa seperti membaca suasana hatiku. Sukses membuatku tak menghabiskan makan malam yang sudah sangat terlambat. Pukul 02.19, dan masih belum ada tempat bagi kami untuk menginap. Untungnya, setengah jam kemudian ada wa dari relawan 1001 buku yang menawarkan tempat menginap seadanya. Dengan taksi kami meluncur ke Radio Buku, bekas galeri bertingkat dua yang disulap menjadi perpustakaan dan radio. This is heaven. Buku berderet-deret sekian rak. Seminggu disini...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.