"Yah, nggak bisa ngeliat apa-apa!" Sesalku ketika akan menaiki pesawat. Bunda Yusi hanya terkekeh. Beberapa pertimbangan akhirnya membuat kami mantap mengambil penerbangan malam, tepatnya jam 23.00 dengan AirAsia. Delay setengah jam.
Namun pada kenyataannya, penerbangan malam saat akan take off memberikan pemandangan yang breathtaking. Masya Allah, lampu-lampu yang hidup di Pulau Dewata tampak seperti berlian bertaburan. Aku bisa melihat jalur jalan Tol Bali Mandara yang berwarna putih dan mengira-ngira jalur berwarna keemasan sebagai jalan By Pass Ngurah Rai.
Lambat laun, ketinggian pesawat semakin naik dan semua di bumi semakin mengecil. Mungkin titik-titik di laut yang ku lihat adalah kapal pesiar dan sebagainya, atau mungkin kapal nelayan. Entahlah, yang jelas aku seperti melihat langsung pemandangan seperti yang sering ku pakai depe di BBM. 'Fear Me, not human kind.' Aku lupa ayat berapa. Kombinasi gelap malam dan terbatasnya ruang di ketinggian, membuatku memikirkan banyak hal. Ketakutan-ketakutan, namun juga harapan-harapan. Aku merasa perjalanan kali ini akan merubah hidupku. Banyak hal. Dan semoga itu ke arah yang lebih baik.
Kejadian kemarin, melepaskan dan mengikhlaskan, jujur ku tak tahu mengapa begitu tenang ku hadapi. Dengan senyum dan tanpa ketakutan. Ya, kemudian muncul mengapa-mengapa, dan diikuti seandainya-seandainya. Tapi tak ku biarkan lama.
'Dan yang demikian itu, agar kau tidak bersedih terhadap apa yang luput darimu. Dan tidak terlampau gembira dengan apa yang kau dapatkan.'
Mungkin karena aku sudah mempersiapkan diri terlalu lama. Sekarang, aku tak akan egois mengatakan we are never mean to be. Never say never, the said. Yang ada, aku sepenuhnya memasrahkan dan mendoakan yang terbaik.
Dan kemarin, ketika sahabatku menyatakan akan mengenalkanku dengan calon ipar, aku merasa lebih sedih. It seems mu heart know its priority. Dari dulu hatiku tak pernah bingung. Harusnya sekarang juga seperti itu. Tetapi salahku, mengotorinya sehingga ia kabur merefleksikan segala.
I'm starting over. Dan dimulai dengan memperbaharui niat. Lalu belajar, belajar, dan belajar. Niat saja tak cukup, perlu usaha dan doa untuk memperbaiki. Jika tak bisa segala, yang penting aku memulai. Itu dulu.
Maka bismillah, semoga Allah mudahkan. Pertolongannya Maha Luas. Maha Luas.
Comments
Post a Comment