Skip to main content

Jogja

"Jadi kamu mau kesini karena mau nemuin temen-temenmu?" Tanya Bunda Yusi.

"Iya Bund", aku menjawab setengah mantap. Masih belum sepenuhnya percaya setelah sekian lama akhirnya aku menapakkan kaki di Jogja. Namun tanpa sambutan apapun dari mereka, orang-orang yang ku anggap saudaraku. Air mataku hampir menitik saat itu. Hatiku seperti terhantam palu godam. Inilah kenyataan, menghubungi merekapun aku sungkan. Bagamana berani berharap mereka akan menemuiku?

Namun ku tepis hal itu. Ku lanjutkan makan yang entah mengapa seperti membaca suasana hatiku. Sukses membuatku tak menghabiskan makan malam yang sudah sangat terlambat.

Pukul 02.19, dan masih belum ada tempat bagi kami untuk menginap. Untungnya, setengah jam kemudian ada wa dari relawan 1001 buku yang menawarkan tempat menginap seadanya. Dengan taksi kami meluncur ke Radio Buku, bekas galeri bertingkat dua yang disulap menjadi perpustakaan dan radio. This is heaven. Buku berderet-deret sekian rak. Seminggu disini dengan suplai camilan dan coklat hangat, rasanya akan sempurna.

Ah harum buku-buku. Segera aku melihat-lihat koleksi mereka. Mataku tertumbuk pada satu pengarang, Tasaro GK. Pengarang yang sama yang membuatku jatuh cinta dengan 'Samita, Bintang Berpijar di Langit Majapahit' dan 'Tsunami' nya. Kalimat pembukanya membuatku merinding.

"Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang kau cintai. Karena, dengan atau tanpa orang yang kau kasihi, hidup harus terus dijalani."

Aku mencoba tidak memikirkan kalimat ini, dan hasilnya setelah satu setengah jam membolak-balikkan tubuh, dan berpura-pura memejamkan mata, azan subuh terdengar tanpa sempat aku tertidur pulas. Ku coba duduk dan melanjutkan membaca. Berharap menemukan kalimat lain yang bisa mengusir gundah. Namun tak ada. Akhirnya, aku memutuskan melakukan hal bodoh. Membuka halaman terkahir novel setebal 432 halaman itu. Aku yakin takkan cukup waktu untuk menyelesaikannya.

'Mencintai adalah satu hal, dan memiliki adalah hal yang lain.'

That's it!

Aku tak tahan lagi. Segera aku keluar ke balkon, mungkin udara subuh bisa meringankan sesak yang tiba-tiba hadir. But who's I'm kidding? Allah tak mungkin membuatku membaca kalimat itu, pada pagi itu, 850 km dari Denpasar, di kota yang sejak bertahun-tahun lalu akrab di hatiku namun tak jua Allah takdirkan untuk ku kunjungi. Sebuah kenyataan lain hadir. Dan cukup membuat pertahananku roboh. Terisak aku mengingat semuanya. Dari sebuah persahabatan yang erat, sekarang hanya tinggal sisa-sisa.

Datang ke Jogja seperti sebuah closure. Sebuah puzzle terakhir yamg ku butuhkan untuk melengkapi gambaran yang harus aku tinggalkan. Sudah terlalu lama aku hidup dalam harapan bahwa persahabatan kami baik-baik saja padahal kenyataan mengatakan sebaliknya. Yang membuatku sedih, sepertinya karena aku semuanya harus dilepaskan. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa 'the world doesn't revolve around me' tapi itulah yang ku rasakan.

Dapat mencintai, sesungguhnya sudah merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Berarti hatiku tak mati. Namun memiliki? Sungguh egois jika sesuatu yang dicintai harus pula dimiliki. Sayangnya egois inipun adalah manusiawi. Normal. Menyakitkan jika tak bisa memiliki apa yang dicintai. Tapi merasakan sakit bukanlah akhir dari segalanya.

Dan bukankah aku pernah memiliki mereka? Sahabat yang sudah seperti saudara yang tak pernah ku miliki. Kenangan-kenangan yang akan cukup mengisi hari tuaku dengan senyum. Sudah cukup harusnya.

'Dan ku beruntung, pernah memilikimu,' seperti kata Yovie and The Nuno. Ya, harusnya sudah cukup. Dan bukankan, luhurnya cinta ketika ia sebenarnya melepaskan? Karena bagaimanapun, mungkin sahabat-sahabatku hidupnya jauh lebih baik tanpa ada aku yang merecoki. Yep, definitely better with me off.

Sudah lewat masanya. Dan aku tak bisa lagi berpura-pura menjadi gadis dewasa yang terjebak dalam impian SMAnya. Semua sudah berubah, dan ironisnya Jogja yang ku harapapkan bisa jadi tempat reuni kami justru sebagai pendorongku untuk melepaskan semua.

I can't help it. Jalan-jalan yang ku lewati, ku bayangkan apa mereka sering kesini? Makanan yang ku makan, apa mereka juga sering makan makanan yang sama? Orang-orang yang ku temui, apa mereka juga mengenalnya? Ku nikmati detik-detik disana. Membayangkan hidup seperti apa yang sahabat-sahabatku alami disana. Hidup yang mengubah kami. Hingga aku kembali pada satu putusan yang tak pernah meninggalkan kepalaku.

Ya, mungkin semua salahku. Tapi manusia mana yang tak pernah salah? Itu adalah salahku kemarin dan bahkan akupun harus belajar jika hari selaku baru dan seyogyanya aku tak lagi risau dengan salah yang kemarin. Karena aku tak lagi menghadapinya. Dan jelas aku tak mau dihantuinya.

Jogja, mari move on. Ku harap semua bahagia, siapapun itu.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...