Salah satu kalimat yang paling mengiritasi kesensitifan masa single saya adalah "Hidup itu dimulai setelah menikah Mbak." Gimana ya? Bikin saya ngerasa kayak virus, yang nggak bisa hidup tanpa nempel di mahluk hidup. Juga inferior, seakan-akan masa single dengan segala problematikanya itu nggak ada apa-apanya. Ternyata oh ternyata, artinya tidak sesederhana pikiran sensi saya. Banyak sekali hal yang dulu membingungkan, terjawab sempurna setelah menikah. Pun dengan satu permasalahan, bisa dilihat dengan persepektif yang samasekali berbeda. Seperti ketika saya heran melihat Ibuq sesenggukan saat Mamiq sakit. Beliau sedih karena tidak ada keluarga yang datang menjenguk. Padahal sakitnya karena kelelahan mengurus masalah keluarga. Kesannya kok jadi nggak ikhlas gitu bantuin orang. Tapi ternyata, sayapun kecewa ketika mengalami hal yang sama. Apakah ini tanda kami istri yang tak ikhlas? Wallahu'alam, semoga tidak. Jika iya, semoga Allah memperbaiki hati kami. Terbuktilah kata...
Sebuah muara dari aliran-aliran kata yang tak tertumpahkan di tempat bernama bumi.