Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

YANG SAYA PELAJARI SETELAH MENIKAH

Salah satu kalimat yang paling mengiritasi kesensitifan masa single saya adalah "Hidup itu dimulai setelah menikah Mbak." Gimana ya?  Bikin saya ngerasa kayak virus, yang nggak bisa hidup tanpa nempel di mahluk hidup. Juga inferior, seakan-akan masa single dengan segala problematikanya itu nggak ada apa-apanya. Ternyata oh ternyata, artinya tidak sesederhana pikiran sensi saya. Banyak sekali hal yang dulu membingungkan, terjawab sempurna setelah menikah. Pun dengan satu permasalahan, bisa dilihat dengan persepektif yang samasekali berbeda. Seperti ketika saya heran melihat Ibuq sesenggukan saat Mamiq sakit. Beliau sedih karena tidak ada keluarga yang datang menjenguk. Padahal sakitnya karena kelelahan mengurus masalah keluarga. Kesannya kok jadi nggak ikhlas gitu bantuin orang. Tapi ternyata, sayapun kecewa ketika mengalami hal yang sama. Apakah ini tanda kami istri yang tak ikhlas? Wallahu'alam, semoga tidak. Jika iya, semoga Allah memperbaiki hati kami. Terbuktilah kata...

BUMIL, BABYMOON YUK!

Emang artis aja yang bisa babymoon? Kami juga. Destinasinya aja nggak kalah kece. Udah berkali-kali menang award internasional. Sampai turis-turis lokal dan mancanegara pengen banget mengunjungi. Kebanyakan yang udah datang, mau balik lagi. Dimana? Lombok dong! Bali mah, lewat (baca: transit). Krik.. krik.. krik.. Bilang aja elu pulang kampung Fit. Yaaah, tapi kan biar terkesan bombastis gitu.  Eniwe, kalau memang ada kemampuan, babymoon-lah Mak dan calon emak. Apaan tuh babymoon? Semacam perjalanan romantis dengan suami, untuk meningkatkan bonding sebelum debay lahir. Karena akan banyak kerepotan dan adaptasi sana sini setelah lahiran. Biasanya akan menimbulkan stres. Nah, bonding yang kuat dengan pasangan akan meminimalisir konflik karena stres tadi. Jangan bayangin babymoon kami pake nginep di hotel berbintang berhari-hari. Cuman sehari, nginep di rumah bibi, besoknya jalan ke hutan Sesaot. Sudah direncanakan sejak di Solo. Saya yang merasa lebih segar bugar di kehamilan kali in...

Penguji Kesabaran No. 1

"Fayyadh," kata suami sambil mengelus kepala si bocah yang baru numpahin es kelapa muda. "Terimakasih ya sudah menjadi penguji kesabaran Abah."  Lalu sambil melirik saya ia melanjutkan, "Yang nomor 2. Yang nomor 1 tetap ibumu." Saya kemudian tersenyum manis dan membalas "Terimakasih Abah, Ibu selalu jadi yang pertama. Ibu terharu." Tadinya mau dilanjutkan dengan kalimat 'Ibu juga merasakan hal yang sama', tapi dibatalkan di detik terakhir. Eniwe, ada yang sepakat nggak Buibu? Bagi para istri, suami itu penguji kesabaran No. 1. Semarah-marahnya sama anak, sebentar lagi bisa ngomong lembut. Peluk cium. Bahkan minta maaf. Kalo sama suami, nesu alias rasa yang tertinggal setelah marah itu naudzubillah. Dari hitungan jam sampai bisa berhari-hari. Minta maaf? Ya tunggu nesu-nya reda lah! Tapi balik lagi, ternyata suami juga menganggap bukan anak yang menjadi penguji kesabaran No. 1. Melainkan kita para istri. Jadi sebenarnya bukan hanya kita ya...

PENGALAMAN KHITAN ANAK USIA 13 BULAN

"Duuuh, nggak kasian khitan kan masih kecil?" "Nangis nggak Fayyadh pas disunat Mbak?" Keduanya adalah pertanyaan favorit orang ketika mengetahui kami khitan Fayyadh empat bulan yang lalu. Untuk pertanyaan pertama, khitan itu secara medis aman dilakukan di semua usia. Tetapi justru paling bagus jika dilakukan saat masih newborn alias bayi dibawah sebulan. Karena saat itu pembelahan sel sedang tinggi-tingginya sementara bayi tak banyak bergerak, sehingga penyembuhan luka jauh lebih cepat dan bagus. Diluar negeri, khitan malah dilakukan sebelum bayi dibawa pulang dari rumah sakit tempatnya dilahirkan. Sayangnya, dulu abah dan kakek Fayyadh tak mengizinkan ia dikhitan saat bayi. Jadi cita-cita saya kandas. Adalah dr. Lucy Sahrodji, Sp. A. yang menyarankan kami segera mengkhitan Fayyadh. Saat itu kami datang berkonsultasi karena berat badan Fayyadh yang naik dikit-dikit sehingga BB-nya kurang ideal. Setelah memperhatikan tren KMS-nya, dr. Lucy menyatakan BB Fayyadh masi...

BAYI DAN ANAK BERMAIN DENGAN KUCING, AMANKAH?

"Mbak, itu bekas apa?" Tanya anak-anak ketika melihat luka di tangan Fayyadh. "Dicokot (digigit) Pupus." "Hiiiiy.." "Tapi kok tadi masih mau main Mbak?" "Yaaa namanya masih kecil, belum tahu kapok." Pupus adalah kucing orange belang yang sering datang pagi-pagi ke kontrakan kami. Sepertinya dia bukan peliharaan siapa-siapa karena ketika ditanyakan di grup wa ibu-ibu tidak ada yang mengakui. Fayyadh mah senang-senang saja. Tapi rasa antusiasnya berbanding terbalik dengan Pupus. Dia tidak begitu suka diganggu sehingga terjadilah sekitar 3 kali insiden Fayyadh digigit tangannya. Untunglah lukanya tidak begitu dalam. Anak digigit, dicakar, alergi, dan tertular penyakit biasanya adalah hal yang ditakuti orang tua sehingga tidak mengizinkan anaknya bermain dengan kucing. Jika dua hal pertama kadang tak bisa dihindari sehingga memang bayi dan anak-anak harus tetap diawasi ketika bersama kucing, maka tak demikian halnya dengan penyebab alergi d...

MANTAN-NYA SUAMI, ENAKNYA DIAPAIN YA?

Eits, tenang dulu. Postingan kali ini bukan niat bikin rusuh. Apalagi memiliki unsur dan niat menyakiti orang lain. Cuman pengen libur sejenak dari posting soal anak. Uhuks.. Adapun yang melatarbelakangi tulisan ini adalah postingan manis seorang teman (sebut saja si A) yang mengunggah foto masakan istrinya. Sooo? Ada yang bikin saya terusik. Yaitu satu komen yang nulis 'enak mana sama masakan si ini?' yang disinyalir adalah mantan si A. Dan percakapan menjadi panjang. Begini gaes. Apa faedahnya bandingin masakan istri orang sama mantanya? Urgensinya dimana? Kalo si istri baca gimana? Terus nanya-nanya sama si A soal mantannya? Terus kepo dengan masa lalu mereka? Terus jadi mogok masak? Terus.. terus.. #provokasialainfotainment Yaelah Fitria, begitu aja dibaperin. Itu namanya becanda. Be-can-da. Sorry to say, buat saya itu bercandanya nggak etis. Si A baru saja menikah. Ya terserahlah mantannya itu chef internasional atau apa, tapi buat apa dibawa-bawa? Kebanyakan perempuan itu...

Tahun Kedua: Ketika Benih Kemandirian Ditumbuhkan

Kemarin adalah kali pertama Fayyadh mencicipi buah rambutan. Dan sekali duduk langsung menghabiskan sepuluh biji. Awalnya, saya kupaskan dan pisahkan dagingnya. Dia tinggal ambil dan makan. Lama-lama, dia hanya mau dikupaskan dan makan sendiri. Saya khawatir dong, gimana kalo keselek sama bijinya? Tapi tidak. Ternyata, kalo dagingnya tidak habis diemut, itu rambutan dikunyah sama bijinya sekalian. Terus, mungkin karena rasanya jadi aneh, akan dia serahkan pada saya. Tidur siang saya yang memang cuman tidur-tidur ayam makin tak kondusif karena dia bolak balik dari ruang tamu ke kamar, minta dikupaskan rambutan. Okhe bhaique, yang penting bocah'e sueneng. Saya jadi ingat tentang bahaya dan ketakutan ini itu sebagai seorang ibu pertama. Wajar jika kita ingin selalu memproteksi anak. Jika mungkin lingkungannya harus steril dari bahaya. Tak cukup begitu, mainnya juga harus ditegaskan. Ini boleh dan ini tidak. Padahal jika terlalu banyak dilarang, maka selain ruang gerak dan pengalaman e...

IRT

Akan selalu ada, orang-orang yang menganggap pekerjaan menjadi ibu rumah tangga itu tak pantas dibanggakan. Atau setidaknya, lebih remeh temeh dibandingkan pekerjaan yang menghasilkan atau mendapat gaji bulanan. Maka disinilah pentingnya mengenal diri. Punya konsep. Tahu apa yang diinginkan. Paham tujuan hidup. Karena, jika kita tak menghargai diri sendiri, bagaimana mungkin kita bisa mempercayai penghargaan dari orang lain? Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, atau memilih bekerja diluar rumah adalah pilihan masing-masing. Semua ada lebih kurangnya. Kita tak akan pernah sepenuhnya mengerti posisi seseorang kecuali dengan menjalani hidupnya. Kebanyakan hal di dunia ini tak bisa kita ubah. Yang paling dimungkinkan untuk diubah adalah cara pandang kita sendiri ke arah yang lebih positif. Dan itu, satu sumbangsih nyata bagi masyarakat. Setidaknya, akan berkurang satu pasang mulut dan jari yang ringan berkomentar nyinyir.

MENGAJAK ANAK KE MASJID? WHY NOT?*

"Hehe.. biarkan saja. Mumpung lagi semangat. Besok lusa lain lagi ceritanya." Ini adalah jawaban Ibuq atas pertanyaan tetangga mengenai saya yang mendadak rajin ke masjid. Saat itu masih SD, saya lupa tepatnya kelas berapa. Ada rombongan KKN mahasiswa dari Mataram datang ke desa kami. Selain memberikan les belajar gratis, mereka juga mengadakan acara-acara di balai desa. Dan mengatakan bahwa 'meramaikan masjid itu baik'. Dimulai dengan sholat berjamaah. Maka saya dan beberapa teman lalu tak pernah alpa sholat Dhuhur dan Ashar disana. Sholat selainnya di rumah atau di tempat ngaji. Kami bersemangat dan merasa melakukan hal baik. Sampai pertanyaan dengan nada meledek itu terlontar "Sampai kapan kira-kira Fit bakal rajin ke masjid?" Huh! Saya tersinggung. Pokoknya saya akan buktikan bahwa ini bukan angin-anginan. Lihat saja, saya akan tetap rajin ke masjid apapun yang terjadi. Tetapi, tekad kuat itu tunduk pada pengalaman dan pengetahuan Ibuq beserta sang...

INI PEMILU ATAU BENCANA ALAM?

INI PEMILU ATAU BENCANA ALAM? "Cepat! Cepat! Cepat! Lelet sekali jadi perawat. Kalau begini nanti kerjanya, mati pasien kalian!" Terimakasih kepada kakak senior saya di Poltekkes Kemenkes Mataram dulu yang selalu meneriakkan kalimat ini di tiap sesi ospek. Kalimat yang begitu menghujam dalam jiwa gadis baru tamat SMA dan memutuskan menjadi perawat. Sampai-sampai saya berkeyakinan semua tindakan tanpa terkecuali harus dilakukan secepat mungkin. Setelah melewati fase praktek klinik terlebih bekerja, akhirnya saya bisa keluar dari pemahaman yang keliru tersebut. Bahwa tubuh manusia, tidak selemah itu. Ia adalah mesin paling efisien. Akan melakukan banyak kompensasi demi mempertahankan hidup. Ya, dalam situasi gawat darurat memang tindakan cepat dan tepat itu mutlak. Apalagi jika menyangkut sirkulasi (perdarahan), ada sumbatan jalan napas, atau masalah di pernapasan. Kehilangan darah yang banyak, atau tak dapat oksigen dalam waktu sekian menit, dapat menyebabkan kematian yan...

JADI APA?

JADI APA? "Mbak, besok maunya Fayyadh jadi apa?" Tak hanya anak-anak, suami pun beberapa kali menanyakan pada saya inginnya esok lusa Fayyadh jadi apa. Tak seperti Abah @firmansyahabakar yang punya keinginan yang lebih spesifik, saya cuman menjawab "Terserah jadi apa, yang penting Fayyadh jadi anak sholih. Jika sudah sholih, insya Allah jadi apapun akan dijalankan dengan sebaik-baiknya." Entah bagaimana zaman yang akan Fayyadh hadapi esok. Sekarang saja, cita-cita menjadi dokter dan guru sudah banyak digantikan dengan youtuber dan selebgram. Dan memaksakan keinginan pada anak, dari jaman kapanpun bukan hal yang baik. Meskipun begitu, saya menyimpan satu keinginan yang sebisa mungkin didoktrin pada Fayyadh. Jadi apapun kelak, agar ia juga meluangkan waktunya untuk menjadi relawan. Relawan apa saja, yang penting lembaganya baik dan benar. Karena saya dan abahnya membuktikan sendiri, bahwa begitu banyak hal baik yang kami dapatkan dari kegiatan relawanan ria. Ber...

I CAN, BUT I WON'T

Apakah , laki-laki itu sebenarnya lebih peka dari perempuan? Pertanyaan ini mengambil sebagian besar ruang pikir saya. Setelah kejadian di dalam Kereta Solo Ekspress pagi ini. Kami dalam perjalanan ke Jogja. Naik dari Stasiun Balapan, masih banyak kursi kosong. Tapi suami mengingatkan, nanti mesti yang punya kursi datang. Ah, kemudahan membeli tiket dengan aplikasi online. Jadi ya saya hanya duduk sebentar, menjelang Stasiun Purwosari saya berdiri. Kan nggak enak kalo yang punya kursi datang. Tapi entah mengapa saya duduk lagi. Oh ya, saya cek hape. Dan benar, tak lama sesembak yang manis datang dan berkata lembut "Permisi Mbak.." sambil melirik nomor kursi di atasnya. Saya spontan berdiri. Kereta sudah penuh dan pintu ditutup. Seorang bapak yang tampak membawa dua buah ransel ketinggalan. Kasihan. Alhamdulillah, tak lama kereta berhenti. Seorang balita menangis. Rupanya bapak yang ketinggalan tadi ayahnya. Sang ayah pun tergopoh-gopoh naik dan berjalan menuju anak istri...

NGAMBEK ATAU NGGAK?

"Setelah menikah sama kamu, aku bersyukuuuur sekali dilahirkan jadi laki-laki." Kata suami di satu sore. "Oh ya, kenapa?" "Karena mood perempuan itu..." Suami bergidik. "Complicated. Dan cepat sekali berubah." Lanjutnya. Saya hanya tertawa lalu menjawab. "Iya alhamdulillah kalo gitu. Abah yang cuman ngeliat aja capek kan, apalagi kami yang menjalani?" #beladirimodeon "Tapi jangan khawatir Bah. Karena mood perempuan itu naik turun, apa yang dia katakan dan rasakan pagi ini belum tentu sama dengan nanti sore." "Iya juga sih.." Suami sudah lega. "Tapi bisa jadi lebih parah!" Dan suami pun mendengus. Sebenarnya, saya juga merasakan jika setelah menikah rentang emosi saya jadi jauh lebih luas dari sebelumnya. Hal-hal kecil bukan saja bisa menimbulkan kekesalan yang nampaknya abadi. Tetapi juga bahagia yang tiada terperi. Namun tentu saja yang menjadi masalah adalah kesal ini. Yang diberi istilah keren ...

APA YANG SALAH?

Tapi"Apa yang salah?" Adalah pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya ketika melihat kenakalan anak atau remaja. Jauh sebelum kasus Audrey. Guru-guru yang saya kenal pun rata-rata mengeluh. Anak-anak sekarang itu cerdas-cerdas. Tak sedikit yang jauh lebih cerdas dari gurunya. Tapi adab? Banyak yang nol besar. Jiwa berjuangnya kurang. Sehingga ada halangan sedikit, bukannya berusaha mereka langsung menyerah. Jika melihat anak atau remaja sekarang, berarti lahir tahun 2003-an ke atas. Orangtuanya mungkin lahir pertengahan akhir 70-an sampai 80-an. Generasi itu jauh dibawah generasi 90-an yang sering sekali membanggakan masa kecilnya. Apa karakteristiknya? Bagaimana perlakuan orangtuanya dulu? Apa yang salah sehingga ketika menjadi orang tua, anak-anak mereka (nauzubillah) menjadi generasi yang banyak dikeluhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya. Insya Allah bukan karena sok tahu apalagi sombong. Saya bertanya agar bisa menghindari kesalahan yang sama. Karena...

SAY LOVE

'Jangan biarkan orang-orang tersayang pergi tanpa mereka tahu betapa Anda menyayanginya, karena kita tidak pernah tahu, bisa saja itu perpisahan terakhir.' Kalimat senada santer di beberapa postingan saat terjadi kecelakaan pesawat beberapa waktu kemarin. Saya pun terhenyak. Namun seiring waktu ia berlalu begitu saja. Tapi pagi kemarin, lutut sampai terduduk lemas. Ketika membaca berita meninggalnya suami seorang sahabat ketika sedang tidur. Tanpa sakit atau apa. Seandainya sahabat saya bangun lebih awal, maka ia akan bisa melakukan sesuatu. Tetapi benarkah demikian? Wallahu'alam. Allah mentakdirkan ia terbangun dengan maksud menyelesaikan satu urusan. Karena begitulah ajal, tak bisa maju atau mundur barang sedetik saja. Allah, saya membaca berita itu berkali-kali untuk percaya. Begitu mudahnya Allah mengambil miliknya. Dan menegaskan status kita yang hanya peminjam. Bukan hanya kaget, ini juga tamparan keras buat saya. Karena belakangan ini begitu sering berlaku tak b...

Failed

FAILED Baru hari pertama sudah gagal. Penantang macam apa itu? Ini draft tanggal 2 April. Dan akhirnya baru bisa eksekusi hari ini, 5 April. Jika ditanya, apa penyebab kegagalannya? Padahal kemarin begitu bersemangat mengikuti even 30 Day Journal ini. Sekali lagi, apa? Baiklah, coba kita runut. Yang pertama, malas buka medsos. Lalu tak punya cukup waktu untuk menulis. Yang kemudian memunculkan problem berikutnya, tak punya tulisan yang layak posting. Begitu seterusnya sampai hari ini. Tapi beruntungnya tadi pagi sekilas menonton video singkat Asma Nadia. Yang begitu bersangka baik pada penulis-penulis pemula. Menyemangati mereka bahwa tulisan yang 'layak' juga awalnya adalah sebuah draft yang banyak coretan disana sini. Ya, mengapa harus menunggu layak untuk berani memulai? Jika semua sudah (harus) layak, maka itu bukan memulai. Tapi meneruskan. Bayi yang baru belajar berjalan pun butuh waktu. Mulai belajar duduk untuk melatih tungkai bawah. Belajar merangkak untuk ke...

SEPERTI IBU

Katanya, seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tempat belajar segala sesuatu. Tempat mengenal hal-hal baru. Juga tempat mengadu sendu. Maka katanya, seorang ibu harusnya pintar segala. Cerdas memilih kata. Pandai menjawab tanya. Cakap mengelola rasa. Berat nian tugasnya, namun tak ada sekolah Bunda. Apalagi sampai berjenjang sarjana. Dengan luka persalinan masih terasa, ia tertatih belajar segala. Mengurus bayi nyaris tanpa jeda. Maka sadar tak sadar, suka tak suka. Ia akan meniru sekolah pertamanya, sang ibunda. Seperti malam di minggu lalu, ketika mati lampu. Bayi 9 bulan kepo melulu, meraih lilin tanpa ragu. Ibu pun ingat cerita dulu. Ia pun sama dibujuk tak mau. Akhirnya dibiarkan meraih lampu, untuk kemudian menangis tersedu. Tapi ibu punya cara berbeda. Diraihnya tangan mungil segera. Didekatkan pada lilin yang menyala. Tak sampai ke apinya, namun cukup hingga panas terasa. Kekepoan terakomodir, bahaya terminimalisir. Alhamdulillah bayi tak pandir, dinikmat...

Catatan Perjalanan Berdua Part 3

"Fayyadh ki, anak'e plengeh yo?" (Pak Ahmad, 2018) Plengeh adalah terminologi bahasa Jawa yang kurang lebih berarti ramah, atau murah senyum (Mbak Yanti, 2018). Alhamdulillah, bayi tiga bulan yang tiga bulan lalu kami boyong ke Solo berkembang baik kemampuan sosialnya. Jika tiga bulan lalu rata-rata tetangga di Lombok maupun Solo heran melihatnya begitu sering menangis dan jarang mau digendong orang lain. Maka Fayyadh enam bulan adalah bayi yang ramah. Kadang terlalu ramah sampai cenderung SKSD. Saking mudahnya akrab dengan baru, saya sampai bertanya-tanya. Kapan kira-kira ia akan mulai fase stranger anxiety? Stranger anxiety sendiri adalah salah satu fase dalam perkembangan personal sosial bayi. Dimana mereka merasa takut pada orang asing dan lebih memilih digendong atau bermain dengan ibu atau seseorang yang sudah mereka kenal baik. Jangan khawatir, hal ini baik karena menunjukkan kedekatan emosional bayi dengan orang tua. Biasanya dimulai pada umur 6-9 bulan dan be...

Catatan Perjalanan Berdua Part 2

"Abah, yang ridho sama kami ya? Biar perjalanan kami lancar." Tak sekali dua saya mengatakan hal itu pada suami. Selain diucapkan langsung, saya kirim juga lewat wa. Was-was tentu saja ada. Ini pertama kalinya kami berdua pergi jauh tanpa Abahnya Fayyadh. Kalimat itu saya ulang lagi dalam perjalanan kami ke bandara di pagi buta. Setelah malam sebelumnya tidur Fayyadh tak nyenyak dan akhirnya bangun dan menangis kencang pukul tiga. Seperti paham kami akan menempuh perjalanan dan abah tak ikut. Kalimat yang kemudian dijawab dengan senyum tipis dan sebait kata, "Iya." Alhamdulillah, perjalanan dari rumah ke bandara lancar. Di bandara pun demikian. Sampai setengah perjalanan, Fayyadh mulai menangis di pesawat. Bosan karena kami hanya duduk untuk waktu yang lama. Mainannya tak digubris. Diajak bercanda juga tak mempan. Tapi akhirnya setelah kelelahan, dia tertidur sambil menyusui. Turun dari pesawat, kami dijemput Paman. Sempurna sudah Fayyadh bangun dan sepanjang pe...

Catatan Perjalanan Berdua

Fayyadh masih saja menangis sejak lima menit yang lalu. Jangankan menunjukkan tanda-tanda berhenti, justru yang ada tangisnya makin keras. Lengkap dengan air mata. Pertanda ia memang tak nyaman. Saya yang semula anteng juga mulai resah. "Mungkin gerah?" Kata Bibi. Benar, sudah lumayan siang dan dia belum mandi pagi. Segera saya buka baju dan celana panjang yang ia pakai. Secercah harapan timbul, sejelek apapun mood Fayyadh kalau sudah mandi dan lihat keran air biasanya membaik. Namun, harapan tinggal harapan. Dia malah makin mengamuk ketika saya bawa ke kamar mandi. Mandi yang biasanya bisa setengah jam karena main air berubah jadi secepat kilat. Tangisnya masih belum berhenti juga. Makin sulit buat saya memasangkan baju. Allah, hawa panas Denpasar dan rasa panik sempurna sudah menghasilkan bulir-bulir keringat yang besar. Tak hirau dengan kepanikan saya, enam orang tukang bangunan di rumah bibi melanjutkan pekerjaan mereka. Mengecor, menghaluskan kayu, memaku, memukul-mu...

Dear Gadis-gadis, Tolong, Jangan Bodoh!

Maafkan kalau judul tulisan saya dianggap kasar atau menyinggung. Tapi saya tak tahu lagi harus bilang apa. Kemarin saya baru berkesempatan membuka grup parenting Kren Lombok yang digagas oleh psikolog asal Lombok Timur, lalu yulhaidir. Tertanggal 29 Desember 2018, ada berita tentang kekerasan seksual yang berujung kematian korbannya. Si Mawar, sebut saja begitu diajak keluar oleh pacarnya. Lalu si pacar minum miras bersama 3 orang temannya. Setelah mabuk, si pacar menzinahi si Mawar dan menawarkan dia untuk dizinahi 3 rekannya itu. Si Mawar menolak dan minta diantar pulang. Entah bagaimana ceritanya si Mawar akhirnya mau diantar pulang oleh salah satu teman pacarnya. Di tengah jalan, ia melawan dan jatuh dari motor karena diminta berzina. Mawar yang pingsan bukannya dibawa ke fasilitas kesehatan malah diperkosa di kebun. Lalu dibawa lagi ke tempat dua orang lain masih menunggu. Singkat kata, setelah ketiganya melampiaskan nafsu bejatnya, si Mawar meninggal. Sedih, marah, sesak. S...

Senyum Awal Bulan

Ada nggak sih yang bingung kok baru tanggal 1 gaji udah berkurang banyak? Gimana nanti tanggal 2 keatas? Well, hari ini saya begitu. Pagi ini Abahnya Fayyadh menjadi panitia field trip anak-anak di Solo Berkuda. Lokasinya di Goro Assalam yang berjarak sekitar 10 km. Qadarullah, ban motor belakang pecah bahkan sebelum kami menempuh satu kilometer. Pagi-pagi di hari libur mana ada bengkel yang buka? Belum lagi kami sudah akan telat. Akhirnya motor ditinggal di parkiran bank di Nusukan dan kami pesan g*car. Tarif yang tertera bikin kening berkerut, hampir dua kali lipat dari tarif biasa. Ya sudahlah. Sampai sana, ternyata panitia yang lain belum ada yang datang. Eaaaaaa.. Singkat kata, acara berlangsung sukses meskipun mundur hampir sejam dari jadwal. Yang buat saya senang, bertemu seorang anak perempuan yang memakai kaos #ammarkids bermotif 'Princess Muslimah'. Masya Allah, berasa ketemu idola yang cuman lihat di medsos doang gitu. Maafkan emak-emak kolot. "Saya pesan di...