Skip to main content

Dear Gadis-gadis, Tolong, Jangan Bodoh!

Maafkan kalau judul tulisan saya dianggap kasar atau menyinggung. Tapi saya tak tahu lagi harus bilang apa.

Kemarin saya baru berkesempatan membuka grup parenting Kren Lombok yang digagas oleh psikolog asal Lombok Timur, lalu yulhaidir. Tertanggal 29 Desember 2018, ada berita tentang kekerasan seksual yang berujung kematian korbannya.

Si Mawar, sebut saja begitu diajak keluar oleh pacarnya. Lalu si pacar minum miras bersama 3 orang temannya. Setelah mabuk, si pacar menzinahi si Mawar dan menawarkan dia untuk dizinahi 3 rekannya itu. Si Mawar menolak dan minta diantar pulang.

Entah bagaimana ceritanya si Mawar akhirnya mau diantar pulang oleh salah satu teman pacarnya. Di tengah jalan, ia melawan dan jatuh dari motor karena diminta berzina. Mawar yang pingsan bukannya dibawa ke fasilitas kesehatan malah diperkosa di kebun. Lalu dibawa lagi ke tempat dua orang lain masih menunggu.

Singkat kata, setelah ketiganya melampiaskan nafsu bejatnya, si Mawar meninggal.

Sedih, marah, sesak. Semua perasaan ini bercampur aduk dalam hati saya. Entah mungkin versi ini pun sepenuhnya berurutan karena saya tak mampu lagi membaca postingan itu untuk kedua kalinya. Terlalu menyakitkan.

Dear gadis-gadis, seseorang yang mabuk itu tak punya otak dan hati. Jadi percuma bertanya mengapa mereka begitu tega melakukan perbuatan yang binatang pun tak pernah lakukan. Akal sehat mereka sudah sempurna hilang karena barang haram yang mereka konsumsi.

Adegan di drakor menolong lelaki tampan mabuk itu hanya sekedar drama mimpi. Teman saya yang dulu sering dugem mengakuinya sendiri. Jangan mau mabuk atau jalan dengan pemabuk, jika tak mau dikerjai. Dan bahasa dikerjai ini, sungguh sangat halus. Bagai gigitan semut dibandingkan dengan gigitan macan.

Jadi kalau punya teman, pacar, atau siapapun itu kalau sudah tahu akan minum-minum, apalagi mabuk. Tinggalkan segera! Jangan jadi gadis bodoh.

Mohon maaf, apa yang terjadi pada Mawar adalah takdirnya. Terlepas dari kisahnya yang tragis, saya tak tahu bagaimana meninggalnya, semoga saja husnul khatimah. Tapi cukuplah ia sebagai peringatan.

Bukankah dulu, saat terdesak seorang ulama pernah diminta memilih melakukan zina, membunuh anak kecil, atau meminum khamr? Dia memilih meminum khamr karena mempertimbangkan dosanya yang paling kecil. Setelah mabuk, ia akhirnya menzinahi si perempuan dan membunuh anak kecil yang menyaksikannya.

Miras itu diharamkan karena bahaya. Berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga begitu. Jangan merasa aman karena berpikir dosanya kecil. Siapa tahu sikap meremehkan kita itu yang akan menjerumuskan kita pada dosa yang lebih besar. Atau takdir yang buruk.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...