"Abah, yang ridho sama kami ya? Biar perjalanan kami lancar."
Tak sekali dua saya mengatakan hal itu pada suami. Selain diucapkan langsung, saya kirim juga lewat wa. Was-was tentu saja ada. Ini pertama kalinya kami berdua pergi jauh tanpa Abahnya Fayyadh.
Kalimat itu saya ulang lagi dalam perjalanan kami ke bandara di pagi buta. Setelah malam sebelumnya tidur Fayyadh tak nyenyak dan akhirnya bangun dan menangis kencang pukul tiga. Seperti paham kami akan menempuh perjalanan dan abah tak ikut. Kalimat yang kemudian dijawab dengan senyum tipis dan sebait kata, "Iya."
Alhamdulillah, perjalanan dari rumah ke bandara lancar. Di bandara pun demikian. Sampai setengah perjalanan, Fayyadh mulai menangis di pesawat. Bosan karena kami hanya duduk untuk waktu yang lama. Mainannya tak digubris. Diajak bercanda juga tak mempan. Tapi akhirnya setelah kelelahan, dia tertidur sambil menyusui.
Turun dari pesawat, kami dijemput Paman. Sempurna sudah Fayyadh bangun dan sepanjang perjalanan kepalanya tak berhenti menengok kanan kiri. Berhenti saat memperhatikan satu objek. Sebut saja, paman yang menyetir dan kunci perseneling mobil.
Situasi aman terkendali sampai kami masuk ke rumah Paman yang sedang dibangun. Capek, ngantuk, lapar, dan dikagetkan suara keras akan membuat siapapun tak nyaman. Terlebih bayi. Maka jadilah Fayyadh menangis sejadi-jadinya seperti yang saya ceritakan di part 1.
Setelah berhasil memandikan dan mengganti baju Fayyadh, saya bergegas membawanya keluar. Tak lupa membawa serta bubur untuk makan. Mencari lingkungan yang sedikit adem dan tidak berisik. Untungnya, Gang 1 F di Jalan Mandalasari bagian ujung masih banyak kebun dan pohon. Saya ajak dia kesana sambil menyapa ayam dan kucing. Sesekali menyuapi. Alhamdulillah, tak butuh waktu lama untuk Fayyadh tenang dan bisa diajak ngobrol.
Pelajaran untuk saya, selalu pastikan kebutuhan anak terpenuhi. Apalagi jika akan bepergian. Empat hal yang paling bisa membuat anak rewel adalah lapar, ngantuk, bosan, dan tidak diperhatikan. Pengetahuan umum bagi kaum ibu. Tetapi layaknya banyak hal, pengalamanlah yang paling mumpuni membuat teori terpatri.
Setelah Fayyadh tenang dan buburnya habis, saya ajak dia kembali ke rumah Paman dan bibi yang antusias menyambutnya. Ketika Paman mengulurkan tangan hendak menggendongnya, hal aneh terjadi.
Fayyadh menggelengkan leher, tampak pias, dan menangis kencang. Tak pernah dalam sekalipun dalam enam bulan hidupnya ia takut digendong orang lain. Sepertinya, episode stranger anxiety sudah dimulai..
#ammarkids
#mantracovertselling
#F25store
Comments
Post a Comment