Skip to main content

Catatan Perjalanan Berdua Part 2

"Abah, yang ridho sama kami ya? Biar perjalanan kami lancar."

Tak sekali dua saya mengatakan hal itu pada suami. Selain diucapkan langsung, saya kirim juga lewat wa. Was-was tentu saja ada. Ini pertama kalinya kami berdua pergi jauh tanpa Abahnya Fayyadh.

Kalimat itu saya ulang lagi dalam perjalanan kami ke bandara di pagi buta. Setelah malam sebelumnya tidur Fayyadh tak nyenyak dan akhirnya bangun dan menangis kencang pukul tiga. Seperti paham kami akan menempuh perjalanan dan abah tak ikut. Kalimat yang kemudian dijawab dengan senyum tipis dan sebait kata, "Iya."

Alhamdulillah, perjalanan dari rumah ke bandara lancar. Di bandara pun demikian. Sampai setengah perjalanan, Fayyadh mulai menangis di pesawat. Bosan karena kami hanya duduk untuk waktu yang lama. Mainannya tak digubris. Diajak bercanda juga tak mempan. Tapi akhirnya setelah kelelahan, dia tertidur sambil menyusui.

Turun dari pesawat, kami dijemput Paman. Sempurna sudah Fayyadh bangun dan sepanjang perjalanan kepalanya tak berhenti menengok kanan kiri. Berhenti saat memperhatikan satu objek. Sebut saja, paman yang menyetir dan kunci perseneling mobil.

Situasi aman terkendali sampai kami masuk ke rumah Paman yang sedang dibangun. Capek, ngantuk, lapar, dan dikagetkan suara keras akan membuat siapapun tak nyaman. Terlebih bayi. Maka jadilah Fayyadh menangis sejadi-jadinya seperti yang saya ceritakan di part 1.

Setelah berhasil memandikan dan mengganti baju Fayyadh, saya bergegas membawanya keluar. Tak lupa membawa serta bubur untuk makan. Mencari lingkungan yang sedikit adem dan tidak berisik. Untungnya, Gang 1 F di Jalan Mandalasari bagian ujung masih banyak kebun dan pohon. Saya ajak dia kesana sambil menyapa ayam dan kucing. Sesekali menyuapi. Alhamdulillah, tak butuh waktu lama untuk Fayyadh tenang dan bisa diajak ngobrol.

Pelajaran untuk saya, selalu pastikan kebutuhan anak terpenuhi. Apalagi jika akan bepergian. Empat hal yang paling bisa membuat anak rewel adalah lapar, ngantuk, bosan, dan tidak diperhatikan. Pengetahuan umum bagi kaum ibu. Tetapi layaknya banyak hal, pengalamanlah yang paling mumpuni membuat teori terpatri.

Setelah Fayyadh tenang dan buburnya habis, saya ajak dia kembali ke rumah Paman dan bibi yang antusias menyambutnya. Ketika Paman mengulurkan tangan hendak menggendongnya, hal aneh terjadi.

Fayyadh menggelengkan leher, tampak pias, dan menangis kencang. Tak pernah dalam sekalipun dalam enam bulan hidupnya ia takut digendong orang lain. Sepertinya, episode stranger anxiety sudah dimulai..

#ammarkids
#mantracovertselling
#F25store

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...