Skip to main content

Catatan Perjalanan Berdua Part 3

"Fayyadh ki, anak'e plengeh yo?" (Pak Ahmad, 2018)

Plengeh adalah terminologi bahasa Jawa yang kurang lebih berarti ramah, atau murah senyum (Mbak Yanti, 2018).

Alhamdulillah, bayi tiga bulan yang tiga bulan lalu kami boyong ke Solo berkembang baik kemampuan sosialnya. Jika tiga bulan lalu rata-rata tetangga di Lombok maupun Solo heran melihatnya begitu sering menangis dan jarang mau digendong orang lain. Maka Fayyadh enam bulan adalah bayi yang ramah. Kadang terlalu ramah sampai cenderung SKSD.

Saking mudahnya akrab dengan baru, saya sampai bertanya-tanya. Kapan kira-kira ia akan mulai fase stranger anxiety?

Stranger anxiety sendiri adalah salah satu fase dalam perkembangan personal sosial bayi. Dimana mereka merasa takut pada orang asing dan lebih memilih digendong atau bermain dengan ibu atau seseorang yang sudah mereka kenal baik. Jangan khawatir, hal ini baik karena menunjukkan kedekatan emosional bayi dengan orang tua. Biasanya dimulai pada umur 6-9 bulan dan berakhir pada usia 2 tahun.

Lalu, apakah Fayyadh sudah mulai di fase ini? Sampai sore hari ketika ia anteng bermain, tapi Paman mendekat dan menggendongnya, ia akan spontan menangis. Dan butuh waktu yang lama untuk ditenangkan. Kondisi yang lucu untuk saya, tapi buat paman baper.

"Biasanya anak-anak suka sama Paman. Cuman Fayyadh yang begini." Klaimnya.

Baiklah, saya anggap Fayyadh spesial kalau begitu 😅

Untuk membuktikan teori stranger anxiety, saya membawa Fayyadh silaturahim setelah mandi sore. Dimulai ke TPQ Musmandar. Bertemu Bu Mumun dan Bu Siwi. Lanjut ke rumah Bunda Risdanovi. Pulangnya mampir ke rumah Paman Ato.

Di ketiga tempat itu, Fayyadh ya Fayyadh. Cengar cengir dan antusias apalagi diajak berkeliling. Mau digendong siapa saja. Malah nempel nggak mau pulang.

Lalu, jika ini bukan stranger anxiety, apa salah paman? Entahlah, hanya Fayyadh dan Allah yang tahu.

Saat Maghrib menjelang, dan kamipun pulang ke rumah Paman. Masalah baru muncul. Fayyadh rupanya tidak nyaman disana. Baru saya tinggal sholat sudah gerung-gerung. Padahal sebelumnya anteng main plastik.

Allah, dan malam masih sangat panjang. Bagaimana nanti tidurnya? Jika tak disini, dimana kami harus menginap?

#F25Store
#ammarkids
#mantracovertselling

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...